Tersenyum Bersama Pengungsi Rohingya

Senin lalu 25 Mei 2015 saya berkesempatan mengunjungi para pengungsi Rohingya di Posko TPI Kuala Cangkoi Kecamatan Lapang Aceh Utara. Sejak sepuluh hari lalu, mereka sebanyak 330 orang terdiri 168 pria, 70 wanita dan 92 anak-anak direlokasi dari tempat penampungan sebelumnya Kota Lhoksukon. Di sana ada dua bangunan bekas TPI seperti sekolah yang dapat menampung para pengungsi, terpisah antara pria dan wanita. Di bagian antara gedung itu terpasang beberapa tenda untuk menyimpan sembako dan pakaian layak pakai.  Saat kami datang, beberapa pengungsi bebaur dengan masyarakat yang menjenguk mereka. Lokasi itu terpaut sekitar 50 meter dari bibir pantai, sehingga para pengungsi bebas bermain dan menatap luasnya samudera yang pernah mereka arungi berbulan-bulan. Beberapa pengungsi bahkan ikut berfoto bersama warga yang datang berkunjung meski saling tidak memahami bahasa.
Di bawah dua tenda di bagian tengah lapangan, terlihat tumpukan baju layak pakai, ambal, sarung, sajadah dan lain-lain yang disumbang warga. Sementara tenda lain terlihat tumpukan sembako berupa beras, telur, minyak goreng, roti kering, mie instan, air mineral dan lain-lain. Tampak beberapa petugas berpakaian dinas, relawan dan warga kampung ikut berjaga-jaga sekaligus sebagai petugas penerima bantuan dari pihak yang mengantar langsung.
Saya mendapat banyak informasi dari salah seorang pengungsi Rohingya yang bisa berbahasa Melayu. Namanya Hussen, berusia 40 tahun mengaku pernah bekerja di Malaysia sebagai pekerja bangunan
10 tahun silam. Dengan nada sendu ia menceritakan bagaimana mereka saat berada di tengah lautan terkatung-katung kehabisan makanan dan minuman selama dua bulan lebih 20 hari sebelum diselamatkan nelayan Aceh. Ada puluhan orang yang meninggal dalam pelayaran, terpaksa dikuburkan di laut. Tiap saat mereka berdoa sambil menangis siang malam untuk mendapatkan pertolongan. Ketika ditanya perasaannya saat ini, ia mengaku sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan saudara seiman dari Aceh. “Kami tidak mau pulang lagi ke Myanmar, biarlah kami mati di Aceh,” ujarnya. Hussen mengaku punya empat orang anak dan isteri yang masih tinggal di sana. Sekarang ia tidak tahu lagi kabar berita keluarganya.
Hussen menjadi juru bicara para pengungsi di Posko tersebut. Dialah yang menterjemahkan apa yang mau disampaikan teman-temannya. Di antara pengungsi tersebut, terdapat tiga orang yang mampu menghafal Al Quran. Mereka kini mulai bisa tersenyum meski masih didera kesedihan meninggalkan kampung halamannya.  Di posko itu mereka mendapat pelayanan cukup baik. Mereka diberi  pakaian dan makanan yang memadai sumbangan warga dan pemerintah. Berbeda saat mereka ditemukan terapung-apung oleh nelayan Aceh dalam keadaan kurus kering dan pucat. Di posko itu tersedia berbagai keperluan pengungsi termasuk kipas angin di ruang tidur. Sementara di dapur umum, masyarakat secara bergantian mengatur memasak. Tidak ketinggalan mereka ikut menyajikan kuah beulangong bagi pengungsi Rohingya. (Basri A. Bakar)