Solusi Wakaf Produktif

GEMA JUMAT, 14 FEBRUARI 2020

Dalam hukum Islam dikenal sebagai harta wakaf yang ibdal dan istibdal. Ada Tiga Ulama yakni, Syafi ’i, Maliki, Ja’fari terkesan dan sangat berhati-hati dalam memungkinkan penjualan dan penggantian wakaf barang. Pada dasarnya, masyarakat memegang prinsip bahwa tanah wakaf harus hanya dilakukan atau dikelola oleh kepercayaan Waqif. Pada umumnya, karena tanah yang disumbangkan diserahkan ke masjid, kemudian kegunaan atau pemanfaatan juga harus dimanfaatkan untuk masjid.

Publikasi Jurnal Human Falah, Universitas Islam Sumatera Utara (UINSU) Medan, Volume 2, Edisi II Juli – Desember 2015, tentang Prospek PemanfaatanTanah Wakaf di Aceh, Suatu Analisis Untuk Sektor Pendidikan diteliti, oleh tiga Dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, tentang keadaan Perwakafan yang terkandung di Kabupaten Aceh Besar, khususnya dalam dua sub objek setelah penelitian potensi untuk dikembangkan terutama untuk membiayai sektor pendidikan.

Jumlah tanah wakaf tersebut cukup luas dan berpotensi dalam mengembangkan kesejahteraan manusia, termasuk dalam upaya pengembangan pendidikan. Di sisi lain, pemanfaatan terhadap penggunaan tanah wakaf masih sangat minim. Umumnya, tanah wakaftersebut dipergunakan untuk pembangunan mesjid, mushalla, panti asuhan, makam, atau juga sebagiannya untuk mendirikan sekolah. Artinya, pemanfaatan tanah wakaf lebih bersifat konsumtifdanmasih sangat berpotensiuntuk dikembangkan secara produktif.

Penyebab dari terbengkalainya tanah wakaf ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satu asumsi awal penyebab yangmungkin terjadi adalah karena pelaksanaan wakafdi wilayah-wilayahgampongdi Aceh (perkampungan) masih sangat tergantung pada penerapan ajaran kitab kuning yang diajarkan di pesantren-pesantren yang pada intinya, sulit mengalihkan wakaf ke bentuk yang lain, atau dalam arti apapun itu, objek wakaf tidak boleh dibalikkan. Akan tetapi, untuk mengetahui secara pasti sebab-sebabterbengkalainya tanah-tanah wakaf ini,diperlukan suatu kajian yang serius.

pada dasarnya, masyarakat memegang prinsip bahwa tanah wakaf hanya boleh diupayakan atau dikelola menurut amanah Wakif, yang pada umumnya, karena tanah wakaf ini diserahkan kepada Mesjid, maka penggunaan atau pemanfaatannya juga harus dimanfaatkan untuk mesjid. Hak tersebut terjadi karena pada umumnya, masyarakat Aceh Besar sebagaimana masyarakat Aceh lainnya, menganut pemahaman fi kih Imam Syafi i, yang tidak membolehkan pengalihan fungsi tanah wakaf kepada selain diwakafkan. Beberapa ulama kontemporer membolehkan pengalihan pemanfaatan harta wakaf usaha-usaha pendidikan dan dakwah.

Di tengah kondisi perekonomian dan skill SDM pendidikan kita di tas rata-rata. Maka peluang dan kesempatan mewujudkan wakaf agar lebih produktif dan terarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *