Dosa Membunuh

GEMA JUMAT, 17 JANUARI 2020

Dr. Ir. H. Basri A Bakar, M. Si

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS. An Nisa’ : 93)

Kasus pembunuhanakhir-akhir ini hampir setiap saat kita baca dan dengar di media dengan motif yang beragam seperti karena dendam, sakit hati, asmara, harta, kekuasaan, perampokan, dan lainnya. Bahkan, karena persoalan yang sepele sekalipun dapat memicu emosi seseorang sehingga akhirnya berujung pada tindakan menghilangkan nyawa orang lain. Yang paling mengherankan lagi, kerap pembunuhan dakukan oleh orang-orang yang terdekat, seperti suami membunuh isteri atau isteri menghabisi nyawa suami, ayah atau ibu membunuh anak atau sebaliknya. 

Ketahuilah bahwa membunuh termasuk perbuatan dosa besar setelah dosa syirik. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap dosa akan Allah berikan ampunannya kecuali orang yang mati dalam keadaan berbuat syirik (menyekutukan Allah) atau orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja”. (HR Abu Dawud, Ibn Habban, dan Hakim).

Secara eksplisit, Alquran dan Hadis Nabi SAW menjelaskan tentang kekejian dosa membunuh. Pertama, membunuh jiwa seorang manusia sama seperti membunuh manusia semuanya. Sebaliknya, orang yang menjaga dan menyelamatkan nyawa seorang manusia sama seperti menjaga dan menyelamatkan manusia seluruhnya (QS. Al-Maidah:32).

Kedua, membunuh seorang muslim adalah bagian dari kekufuran. Hal ini didasarkan kepada hadits Nabi SAW yang menyatakan, menghina muslim adalah kefasikan, sedangkan membunuhnya berarti kekufuran (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah juga pernah menyebutkan; “Apabila ada dua orang berkelahi dan salah seorang mengangkat senjata kepada saudaranya, maka keduanya berada di jurang neraka Jahannam. Jika salah seorang di antaranya membunuh temannya, keduanya masuk neraka. Kemudian para sahabat bertanya, Wahai Rasul, kami memaklumi si pembunuh masuk neraka, tapi bagaimana dengan orang yang terbunuh? Maka Nabi SAW menjawab; Karena dirinya hendak membunuh saudaranya juga”. (HR Bukhari dan Muslim).