Berselawat kepada Rasulullah

4
H. Basri A Bakar

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selawat kepada Nabi(1). Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya dan ucaplah salam penghormatan kepadanya.”  (QS. Al-Ahzab: 56).

Selawat adalah jamak dari kalimat shalat yang berarti doa atau seruan kepada Allah SWT.  Dari segi bahasa, selawat bermaksud mendoakan atau memohon berkah kepada Allah SWT dan melimpahkan Rahmat-Nya untuk Nabi dengan ucapan, kenyataan dan pengharapan, semoga beliau (Nabi) senantiasa sejahtera.

Setiap umat Islam berkewajiban mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sebagai buktinya seseorang akan mengerjakan segala suruhan Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya dengan sepenuh hati dan ikhlas. Selawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan ibadah yang sangat mulia dan dianjurkan. Ucapan selawat mengandung berbagai kelebihan dan keistimewaan, antara lain mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari Nabi Muhammad SAW serta memperolehi ganjaran yang besar dari Allah di hari akhirat kelak. Rasulullah bersabda : Barangsiapa yang berselawat kepadaku (Muhammad SAW) satu kali saja, maka aku akan berselawat kepadanya sepuluh kali”.

Tara cara dalam membaca selawat harus dimulai dengan niat ikhlas da rasa cinta serta dengan sikap hormat kepada Nabi. Dalam penjelasan hadis (akhbar al-hadis) disebutkan bahwa apabila seseorang membaca selawat tidak disertai dengan niat dan perasaan hormat kepada Nabi, maka timbangannya tidak lebih, hanya berat sekadar sehelai bulu sayap.

Ada tiga hal yang timbangannya tidak lebih berat dari pada selembar bulu sayap, yaitu: Solat yang tidak disertai dengan tunduk dan khusyuk. Zikir dengan tidak dalam keadaan sadar. Membaca selawat untuk Nabi Muhammad SAW tidak disertai dengan niat dan rasa hormat.

Dengan demikian berselawat kepada Rasulullah harus memiliki kesopanan dan etika tersendiri, misalnya dibarengi dengan suara yang lembut dan tidak seperti orang berteriak, karena selawat itu berupa doa yang diucapkan secara khusyuk.