14 Februari 2020

Hidup Sederhana

H. Basri A. Bakar

GEMA JUMAT, 14 FEBRUARI 2020

Dr. Ir. H. Basri A Bakar, M. Si

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. (QS. Al Furqân: 67).

Larangan Allah kepada manusia agar tidak berlaku boros dan menghamburkan uang dan harta yang dimilikinya, pasti mengandung banyak manfaat dan hikmah. Dan sesungguhnya manusia pun sebenarnya mengetahui hikmah di balik larangan tersebut.

Di antara hikmah membelanjakan harta sesuai peruntukannya (tidak mubazir), ialah agar manusia dapat menjaga kekayaannya. Ketahuilah bahwa pada hari kiamat kelak, harta yang kita miliki akan dipertanyakan, dari mana memperolehnya dan kemana dihabiskannya. Rasulullah sendiri termasuk pribadi yang hidup penuh kesederhanaan, tidak mau bermewah-mewah meskipun ada kesempatan. Beliau menjadi contoh teladannyang baik bagi ummatnya dalam pola hidup sederhana.

Membelanjakan harta atau uang untuk hal yang tidak diperlukan/ dibutuhkan (mubazir), sangat bertentangan dengan salah satu tujuan syariat Islam, yaitu hifzhul-mâl (menjaga harta benda). Dalam hal ini, Allah SWT tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan, apalagi jika harta itu dimanfaatkan untuk perbuatan maksiat.

Sahabat Rasulullah Abdullah bin Mas’ud r.a mendefinisikan makna mubadzdzirîn (orang-orang yang melakukan pemborosan, yaitu orang-orang yang membelanjakan (uang) pada perkara-perkara yang tidak dibenarkan.

Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan alasan berkaitan dengan larangan menghambur-hamburkan uang/ harta. Beliau rahimahullah berkata: “Sesungguhnya pemborosan harta akan menyebabkan orang menjadi peminta-minta. Sedangkan pada pemeliharaan harta terkandung kemaslahatan bagi dunianya”.

Gaya hidup hedinisme dan konsumtif akhir-akhir ini menyebabkan banyak orang yang tidak stabil ekonominya. Bahkan sama dengan kata pepatah; Besar pasak dari tiang. Akibatnya hidupnya berhutang kemana-mana yang menjatuhkan martabat dan marwah dirinya. Oleh karena itu cocok dengan pepatah orang Aceh; “Jak beulaku linggang, pinggang beulaku ija, Ngui beulaku tuboh, pajoh beulaku atra”. Inti dari pepatah tersebut yakni harus pandai menggunakan harta sesuai kemampuan dan kebutuhan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *