3 April 2020

Hikmah Musibah

H. Basri A. Bakar

Oleh Dr. Ir.H. Basri A. Bakar, M.Si

“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan darinya segala kesalahan dan dosa, hingga duri yang menusuknya juga menjadi penghapus dosa.” (HR. Bukhari)

Perlu kita pahami bahwa Allah SWT memiliki banyak hikmah dalam pengaturan makhluk-Nya termasuk dalam hal musibah yang tidak selamanya kita pahami. Hikmah kadang tersamarkan dari pemahaman kebanyakan para ulama, lebih-lebih orang awam. Hikmah akibat musibah dan bencana bagi manusia sering kali dirahasiakan oleh-Nya, sehingga manusia terkadang bisa menangkap satu hikmah, tetapi banyak hikmah yang lain tersamarkan.
Hal lain yang perlu dipahami, bahwa berbagai musibah dan bencana yang terjadi, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang tampak maupun yang tidak, tidaklah terjadi melainkan karena perbuatan dosa, artinya ada sebab akibat, meskipun hikmahnya berbeda-beda.

Allah berfirman dalam Al Quran yang artinya: “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asysyura: 30)

Musibah juga sunnatullah yang berlaku atas para hamba-Nya, sehingga tidak berlaku pada orang-orang yang lalai, berbuat maksiat dan jauh dari nilai-nilai agama saja, namun dapat juga menimpa orang-orang beriman. Bahkan semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, maka semakin berat ujian dan cobaan yang diberikan Allah kepadanya, karena Dia akan menguji keimanan dan ketabahan hambanNya.
Apabila seorang hamba bersabar dalam menghadapi musibah dan imannya tetap kuat maka akan ditulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Dan apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha.

pula hikmah di balik wabah virus Corona yang menghebohkan dunia, banyak mengandung hikmah yang luar biasa. Ternyata virus Corona telah mengajarkan kita untuk mengakui fitrah manusia sebagai makhluk yang tidak berdaya dan lemah. Manusia selama ini dibutakan dengan harta benda, pangkat, jabatan dan status sosial, lupa diri dan terlalu mencintai dunia. Manusia seenaknya mengekploitasi dan merusak alam, seolah merekalah penguasa dunia. Mereka bangga dan sombong dengan kepakaran dan keilmuannya. Padahal di saat Allah mengutus hanya makhlukNya yang super kecil berukuran 150 milimikron saja, manusia tidak berkutik sama sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *