17 April 2020

Musibah dan Takwa

H. Basri A. Bakar

GEMA JUMAT, 17 APRIL 2020

Oleh Dr. Ir.H. Basri A. Bakar, M.Si

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al Baqarah: 155 – 156)

Allah SWT telah memberitahukan kepada kita bahwa hidup di dunia tidak luput dari ujian, yakni ujian tentang keimanan kepada-Nya. Manusia yang beriman kepada Allah SWT, dan mengikuti petunjukNya, maka saat-saat ujian ditimpakan kepadanya, ia akan menerima dengan penuh ketenangan dan kemantapan jiwa. Ia yakin bahwa apa yang berlaku terhadap dirinya adalah ketetapan Allah Yang Maha Mengatur. Ia menyadari bahwa apa yang ia miliki berupa harta, jabatan, pangkat, bahkan nyawanya sekalipun adalah titipan sementara yang Allah akan ambil kembali kapanpun.
Bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa yakin bahwa setiap derita dan kesusahan semua dalam genggaman Allah SWT, dan hanya Allah yang mampu menghilangkan kegelisahan, kegundahan dan kesedihan jiwa seseorang. Bahkan Allah menyiapkan pahala yang besar bagi mereka yang sabar dan bertawakkal kepada Allah SWT. Dalam musibah yang paling besar sekalipun, Allah mengirimkan malaikat-malaikat-Nya untuk memberikan rasa tenang, tenteram dan bahagia kepada hamba-hambaNya yang bertakwa. Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:”Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat: 30)
Sebaliknya orang-orang yang memiliki iman yang tipis, maka peringatan-peringatan dari Allah berupa musibah, hanyalah dianggap sebagai hal yang biasa saja, tidak menjadi pelajaran untuk instrospeksi diri. Mereka sering berpendapat yang didasari dengan akalnya, padahal akal manusia tidak lebih dari sekepal tanah. Ketika iman dan taqwa semakin menipis, maka tatkala musibah terjadi seperti gempa bumi, hanyalah dianggap sebagai fenomena alam yang memiliki ritme dan periode yang telah berjalan dari masa ke masa. Begitu juga ketika Covid-19 yang saat ini meluas hampir ke semua negara di muka bumi ini, tidak menjadikan mereka insan yang beriman dan bertakwa. Padahal boleh jadi fenomena Covid-19 adalah teguran Allah kepada manusia yang selama ini suka menyombongkan diri dan tidak pandai bersyukur kepadaNya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *