11 Mei 2020

Berpegang Teguh Kepada Sunnah

Sayed Muhammad Husen

Oleh Sayed Muhammad Husen
Penulis Buku Marawat Bingkai Syariah

Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariah r.a Rasulullah saw memberikan kami nasihat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata: Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Rasulullah saw bersabda: “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena diantara kalian yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat.“ (HR Abu Daud dan Turmuzi)

Selain Alquran sebagai pedoman hidup seorang muslim adalah sunnah Rasullah saw. Dengan dua pedoman yang aktual sepanjang zaman ini, insan takwa produksi Ramadhan akan mendapat kehidupan bahagia di dunia dan akhirat. Ini iman dan keyakinan kita. Tak boleh ragu sedikit pun. Jika pun ada yang terkesan agak ragu-ragu, hanya bersifat sementara sebab belum mempelajari Alquran dan sunnah secara konprehensif.

Para sahabat dalam hidupnya senantiasa mendapat atau meminta nasihat Rasulullah sebagai bekal dalam berdakwah dan berjihad di jalan Allah. Tak ada bagian kehidupan sahabat yang tak mendapat bimbingan dan panduan Rasulullah saw. Apapun yang disampaikan Rasulullah saw, seperti wahyu, ucapan dan tindakan Rasulullah saw tetap menjadi referensi bagi sahabat. Ini pula yang diteruskan kepada generasi berikutnya.

Bagi kita yang tak bisa bertanya atau mendapat langsung nasihat Rasululllah saw, maka kita harus mempelajari sunnahnya dengan baik. Kita bisa berguru, membeli kitab-kitab hadits dan membacanya dengan sungguh-sungguh, serta berkomitmen mengamalkan dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya berterima kasih pada Ustaz Usman Mamang di NTB yang setiap hari mengirimkan satu hadist untuk pedoman, pelajari, dan bahan dakwah. Hadits-hadits itu kemudian saya konsultasikan kepada Ustaz M. Hatta Selian Lc untuk memastkan bahwa itu hadits yang shahih. Ini diantara cara mudah kita belajar tentang sunnah.

Rasulullah saw dalam hadits di atas menasehati, “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak.” Sebab takwa adalah landasan kehidupan. Dengan ketakwaan seorang muslim akan menjalankan seluruh perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Demikian pula ketakwaan kita tularkan, artinya kita dakwahkan kepada orang lain, dengan cara-cara yang mampu kta lakukan.

Rasulullah saw juga menasehati seorang muttaqin tunduk dan patuh kepada pemimpin, tentu dengan asumsi bahwa pemimpin adalah orang-orang yang bertaqwa juga. Bukan pemimpin jahat dan suka mengerjakan maksiat. Adalah musibah dan bencana besar ketika kaum yang bertakwa dipimpin oleh pemimpin yang zalim, tidak adil dan jauh dari tuntunan sunnah Rasulullah saw. Karena itu, jihad yang terberat adalah mendakwahi pemimpin yang mengangkangi hukum Allah dan syariat Islam.

Dalam hal kepatuhan pada pemimpin, Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-nisa: 59)

Keharusan berpegang teguh kepada sunnah Rasulllah saw dan sunnah khulafaurrsyidin akan mengantarkan kaum muslim mendapat kemenangan, kesuksukesan dan terhindar dari perpecahan. Semua perbedaan pendapat dan debat berbagai masalah keislaman dan kehidupan kontemperer dapat merujuk pada referensi sunnah dan pendapat sahabat. Kita pedomani kearifan mereka dalam menyelesaikan konflik dan perbedaan pendapat yang kadang-kadang juga terjadi dalam kehidupan meraka.

Pada akhirnya Rasulullah menasihati, “Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat.” Tegas sekali. Untuk itu, seharusnya kita saling nasihat menasihati dalam kebaikan dan kebenaran, sebab dengan cara ini lebih menjamin kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Nasihat adalah modal sosial bersama untuk merekatkan dan memperbaiki kerusakan yang lebih besar. Salah satu kerusakan besar adalah banyaknya umat tersesat akibat mengerjakan bid’ah. Beribadah tanpa landasan yang kuat.

Menurut Alquran, perilaku mengada-adakan ajaran yang tak sesuai dengan tauhid dan kitab-kitab Allah pernah terjadi sebelumnya, sebagaimana firman Allah Swt: “Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasul-rasul Kami dan Kami iringkan (pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” (QS Al-Hadid: 27)

Karena itu, mengacu pada hadits di atas, Rasulullah saw menasihati sahabat dan kita pengikutnya di akhir zaman ini: “Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat.” Kita akan mampu bersikap arif dan ekstrem terhadap perbedaan pendapat di kalangan umat dengan mempelajari dan mengikuti sunnah Rasulullah saw. Jika pun itu sulit dilakukan, maka keputusan pemimpin akan mengakhiri khilaf di tengah-tengah umat dan kita wajib menaatinya. Demikianlah cara pandang dan berpikir insan muttaqin yang ditempa puasa Ramadahan selama satu bulan penuh.

Lampanah, 18 Ramadhan 1441

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *