Catatan hari ke-2 RSTF

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 26 Muharam 1441
Social Control
Saudaraku, dalam muhasabah beberapa waktu lalu pernah diulangkaji tema tentang kendali diri atau kontrol terhadap diri (self control) yang bisa dilakukan dengan menjaga kesucian diri tetap punya air wudhuk kapanpun, melakukan shalat, puasa, membasahi lisan dengan dzikir dan ibadah mahdhah lainnya, maka tema muhasabah hari ini akan mengulangsyukuri tentang kendali sosial (social control) yang sudah melembaga, yaitu masyarakat itu sendiri atas jalannya pemerintahan. Di antaranya yang paling santer menyuarakan aspirasi masyarakat adalah mahasiswa.

Tidak dipungkiri, memang, ternyata di awal bulan hijriyah tahun 1441 ini masih terdapat perkembangan yang menyesak-nyesakkan dada di tanah air tercinta.

Dari sudut sosioekologi, Indonesia masih harus menghadapi sejumlah masalah, misalnya yang paling viral adalah adanya darurat asap yang melanda bukan saja Sesumatra, Jawa dan Sekalimantan, tetapi juga ke negara tetangga, seperti Brunei, Singapura dan Malaysia. Bahkan kabut asap akibat pembakaran hutan oleh orang-orang tak beradab itu sudah mulai membayakan jiwa anak bangsa.

Dari segi gaya hidup yang individualistik, materialistik hedonistik menjadi trend sebagian anak bangsa ini. Menghambur-hamburkan harta untuk belanja ke Singapura atau negara lainnya, pesta narkoba, pesta seks dan hal-hal yang lagha tak berguna lainnya. Padahal gaya hidup semacam ini hanya akan menyeret dan mengoyak-oyak sisi kemanusiaan orang/masyarakat dari bangsa sendiri, sehingga mati rasa terhadap apapun yang terjadi di sekitarnya.

Dari segi sosiopolitik berbangsa dan bernegara, ternyata masalah “Papua Merdeka” belum selesai sepenuhnya karena masih saja ada insiden penyerangan terhadap alat negara atau pranata pemerintah, korupsi bahkan tangkap tangan, bentrok antara petugas keamanan dan mahasiswa saat menggelar demonstrasi sebagai “moral force” di gedung parlemen yang cenderung keras.

Hal khusus yang berhubungan dengan demonstrasi, sejatinya unjuk rasa dan gerakan mahasiswa lainnya dapat dijadikan sebagai kontrol sosial atas nilai-nilai etis yang sudah terpelihara. Ketika nilai-nilai keluhuran sebagai kearifan lokal bangsa tidak lagi efektif mengikat civitas warganya dan kontrol negara menjadi longgar, ditandai oleh kenyataan bahwa segalanya serba boleh dan orang saling acuh tak acuh, maka sejatinya patologi sosial sudah mulai menjangkiti. Apalagi terdapat indikasi kebijakan yang tidak memihak rakyat. Dari sinilah biasanya aksi mahasiswa dimulai.

Ketika pranata kendali sosial berjalan efektif sebagaimana mestinya, maka kita layak mensyukurinya, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama mensyukuri dengan hati yakni meyakini bahwa saling menasihati atau mengingatkan, menyuarakan dalam hal takwa dan kebenaran merupakan syarat keberuntungan dan menghindari kerugian. Makanya menggunakan kesempatan sebelum kesempitan menjadi keniscayaan.

Kedua bersyukur dengan lisan seraya melafalkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada elemen bangsa yang terus menyuarakan kebenaran

Ketiga, mensyukuri dengan tindakan konkret, yaitu munsuport aksi mahasiswa.atau siapapun yang menyampaikan kebenaran dengan tertib sesuai aturan yang ada.