17 Mei 2020

Dakwah itu Mudah

Sayed Muhammad Husen

Oleh Sayed Muhammad Husen
Majelis Syura Dewan Dakwah Aceh

Allah Swt berfirman, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Ali ‘Imran/3:104)

Pertama kali saya dan kawan-kawan belajar lebih serius tentang dakwah ketika menjadi aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Fosma di Darussalam. Sebelumnya memang telah mengenal dakwah sekilas melalui latihan ceramah di PII dan Iskada. Ketika itu lebih banyak belajar keterampilan berceramah, khutbah Jumat dan menulis (dakwah bilqalam). Sedikit sekali pengetahuan tentang dasar-dasar dakwah, profil dai dan terget perubahan yang hendak dicapai oleh sebuah gerakan dakwah.

Dua guru kami dalam kajian Sabtuan di LDK Fosma adalah Drs Tgk HA Rahman Kaoy dan Drs HM Hasan Basri MA. Keduanya pakar dakwah dan dosen di Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry (sekarang Fakultas Dakwah dan Humaniora UIN Ar-Raniry). Dari sini kami mendapat doktrin dakwah, profil dai, menajemen dakwah dan transformasi (perubahan) melalui gerakan dakwah. “Dakwah harus didukung oleh dai yang memiliki wawasan Islam yang luas, sementara pilihan metode terserah dai dengan latar belakang ilmu dan profesi masing-masing,” kata M Hasan Basri, ketika itu.

Sekarang, selama puasa Ramadhan, bermunculan banyak pendakwah baru yang menyampaikan pesan-pesan Ilahiyah dengan caranya masing-masing. Iskada misalnya, menggalakkan dakwah melalui tulisan yang disebarkan melalui website. Remaja Masjid berdakwah melalui ceramah setelah shalat tarawih dan shalat shubuh. Lebih banyak lagi yang berdakwah melalui konten di media sosial masing-masing. Selama di rumah saja akibat Covid-19, betapa maraknya dakwah online.

Salah satu ayat Alquran yang dijadikan landasan dakwah Islamiah adalah friman Allah Swt: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Ali ‘Imran/3:104). Dari ayat ini dipahami, menjadi dai adalah sebuah kewajiban (fardhu kifayah). Dakwah adalah aktivitas terbaik yang dapat dapat dilakukan oleh siapa saja dengan cara dan kemampuan yang dimiliki. Minimal menyampaikan satu ayat yang diketahuinya.

Tugas utama dai mengajak kepada kebaikan (syariat Islam) dan mencegah kemungkaran (pelanggaran syariat Islam). Ini pekerjaan besar dan tak mudah dilakukan setiap individu muslim, kerena itu diperlukan SDM dai yang berkualitas dan manajemen yang baik. Dakwah yang ideal dilakukan oleh organisasi khusus dan fokus. Bukan dikerjakan secara amatiran oleh pribadi-pribadi yang tidak terlatih.

Namun tidak menutup peluang bagi setiap pribadi muslim menjadi dai dengan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Yang penting memiliki motivasi, komitmen dan dasar-dasar ilmu keislaman. Bisa saja berdakwah di lingkungan rumah tangga, lingkungan kerja dan bahkan sekarang dapat berdakwah di dunia maya. Berdakwah dengan medsos yang dimiliki. Menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan mengoreksi keburukan.

Pada ayat lain, Allah Swt berfirman: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri).” (QS Fushshilat/41:33). Dari ayat ini, Allah Swt memberi pengakuan dan penghargaan yang tinggi terhadap pesan dakwah yang diucapkan, ditulis, dividiokan, serta disebarkan seorang dai. Ucapan dan kalimatnya lebih agung dibandingkan apa yang dilakukan orang biasa, yang belum tentu memiliki terget perubahan kehidupan menjadi lebih baik (islami).

Seorang muslim yang memilih jalan hidupnya sebagai dai (profesional dan bukan), senantiasa memberi kesaksian bahwa Alquran, sunnah dan syariat Islam adalah jalan keselamatan, jalan kebenaran, yang mengantarkan manusia hidup bahagia di dunia dan akhirat. Dai juga secara militan melakukan perlawanan terhadap ideologi/pandangan hidup yang membuat manusia kufur kepala Allah Swt dan hukumnya.

Dai senantiasa gelisah dan khawatir terhadap berbagai bentuk keburukan dan maksiat yang dilakukan manusia terus menurus di bumi ini. Sambil memperbaiki diri, dai bersungguh-sungguh (jihad) memperbaiki lingkungan di sekitarnya, sehingga tak banyak lagi orang-orang yang hidup bergelimpangan dosa dan berbuat zalim. Semakin berkurang juga orang-orang yang meninggalkan kawajiban sebagai seorang muslim. Menurut seorang dai, tak boleh ada lagi keluarga, saudara dekat dan masyarakat yang meninggalkan shalat, zakat, puasa dan ibadah haji.

Allah Swt berfirman: “Mereka pada hari kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu. (QS An-Nahl/16: 25). Jadi alangkah ruginya orang-orang yang apriori terhadap lingkungan sekitar yang penuh maksiat dan kemungkaran. Tidak mendakwahi mereka untuk bergerak dari kegelapan (jahiliyah) kepada cahaya (Islam).

Berdakwah dengan cara mudah adalah mendorong orang-orang di sekitar kita untuk berbuat kebaikan. Memotivasi obyek dakwah dapat dilakakan dengan komunikasi langsung, mendorong berpikir positif, berkata yang baik dan memilih lingkungan pergaulan yang baik juga. Pesan dakwah dapat juga disampaikan melalui tulisan/vidio yang kemudian disebarkan langsung melalui media sosial. Semua ini mendapat imbalan dari Allah Swt dan secara tak langsung telah berparan sebagai dai. Demikian cara mudah berdakwah. Tak harus profesional.

Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. (HR Muslim)
Dari petunjuk Rasulullah saw tersebut, kita yakin akan mendapat pahala setimpal dari aktivitas mendorong orang lain berbuat baik dan menghentikannya jika ada yang berbuat kemungkaran. Itulah peran dakwah yang bisa kita kerjakan. Sebaliknya kita patut ingatkan pula pesan Rasullah saw kepada mitra dan relasi yang menyebarkan konten negatif: “Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

Jadi saatnya kita menyegarkan semangat dakwah, menyiapkan generasi baru menjadi dai dan menciptakan iklim sosial politik yang kondusif supaya dakwah Islamiah berkembang dengan baik di negeri ini. Keberlanjutan dakwah menjamin risalah Islam terus bertahan di berrbagai belahan bumi ini. Kitalah dainya dan itu kita lakukan dengan mudah pada berbagai kesempatan yang ada.

Lampanah, 24 Ramadhan 1441

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *