Hajat Bermunajat

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 8 Safar 1441

Saudaraku, tema muhasabah hari ini adalah hajat untuk munajat. Munajat di sini dipahami sebagai doa sepenuh hati kepada Allah untuk mengharapkan keridhaan, ampunan, bantuan, hidayah, kesembuhan dan sebagainya (kbbi).

Dalam kehidupan ini, seringkali kita diingatkan untuk bermunajat pada Allah ta’ala, di manapun, kapanpun dalam kondisi yang bagaimanapun juga, meskipun sering menguat di saat mendapatkan ujian seperti saat sakit atau dalam kondisi sulit. Entah mengapa, kecenderungan orang, ketika sudah dalam kondisi sakit dan sulit biasanya lebih ingat pada Allah, penciptanya. Padahal idealnya, ingat Allah dan bermunajat kepadaNya, kapan saja harus dilakukan, baik saat sulit maupun dalam kemudahan, saat sempit maupun lapang, saat miskin maupun kaya, saat sakit maupun sehat.

Dalam bermunajat, kita sering diingatkan oleh para ulama agar dapat merapat dan mendekat dengan penuh harap dan takdhim sepenuhnya kepada Allah. Bermunajat sebagai bentuk komunikasi dan interaksi yang mengukuhkan betapa berhajatnya manusia kepada Allah. Di samping karena fitrahnya, manusia juga berhajat pada Allah disebabkan oleh kelemahannya sebagai makhluk dan berbagai-bagai tantangan hidup yang dihadapinya.

Allah berfirman yang artinya Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS. Al-Naml 62).

Dan orang-orang yang tidak bermunajat pada Allah termasuk sikap yang menyombongksn diri. Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir 60).

Dalam Islam bermunajat tentu harus didasari oleh iman dan dibuktikannya dalam amal shalih. Meyakini sepenuhnya bahwa Allah itu zat yang maha dekat. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah 186).

Ketika dapat melakukan munajat pada Allah ta’ala ila berdoa telah menjadi kebutuhan, baik saat sulit maupun dalam kemudahan, saat sempit maupun lapang, saat miskin maupun kaya, saat sakit maupun sehat, maka kita mesti mensykukurinya, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri di hati seraya meyakini bahwa hati yang terus mendekat dan merapat kepada Allah, merupakan prakondisi untuk bermunajat pada Allah agar hati menjadi lebih tenang di kala susah menghadapi masalah, lebih ikhlas dan sabar saat ditimpa musibah, dan lebih rendah hati di kala “banyak rezeki”.

Kedua, mensyukuri dikaruniai hati yang terus mendekat dan merapat kepada Allah, di antaranya dengan terus dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Dengan memujiNya, semoga dimudahkan segala urusan kita.

Ketiga, mensyukuri dikaruniai hati yang terus mendekat dan merapat kepada Allah, di antaranya dengan terus bermunajat kepadaNya, memohon kebaikan kepadaNya, baik saat mengalami kesulitan maupun saat mengalami kemudahan, saat sempit maupun lapang, saat miskin maupun kaya, saat sakit maupun sehat. .

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Wakil ya Salam. Ya Allah, zat yang maha dekat, maha melindungi, maha menyelamatkan, mudahkanlah segala urusan kami. Aamiin

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!