Ironi, Gagal Paham

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 8 Muharram 1441

Saudaraku, dalam Islam, sudah sangat jelas antara yang halal dan yang haram, sangat clear antara yang boleh dan yang dilarang, sangat beda antara perilaku yang berpahala dan perilaku yang mendatangkan dosa, dan sudah terang antara tuntunan untuk mengerjakan yang benar dan untuk meninggalkan yang salah. Lalu mengapa masih saja ada pelanggaran? Bahkan ironinya pelanggaran itu justru dilakukan juga oleh orang-orang yang “paham” atau “orang-orang dalam sendiri”.

Dalam ranah religiusitas, gejala dan penyebab adanya pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang “dalam” sejatinya telah diingatkan oleh Ali bin Abi Thalib, barangsiapa berlebih-lebihan dalam berangan-angan tentang ampunan Allah dikhawatirkan akan banyak melakukan kesalahan.

Saudaraku, padahal ampunan dan kemahamaafan Allah itu sifatnya solutif. Artinya ampunan Allah dan sifat kemahapengampunannya cenderung lebih efektif ketika sudah terlanjur melakukan pelanggaran atau berbuat kesalahan. Bukan diingat saat mau melakukan pelanggaran, tetapi setelah terlanjur melanggar aturanNya. Itupun merupakan bagian dari taubat nasuha, sehingga tidak akan berulang kesalahan.

Idealnya ketika saat ada peluang atau saat akan melakukan pelanggaran bukan mengangan-angankan ampunan dan sifat kemahapengampunan Allah, tetapi yang terbayang adalah dosa, yang terbetik adalah siksaan yang memedihkan, yang terlintas dalam pikiran adalah neraka, yang terbayang jangan-jangan mati belum sempat taubat. Dan ternyata kematian terus lari mengejar manusia, di manapun pasti mencapai sasarannya, siapapun, tidak mesti yang tua, tidak pakai syarat sakit terlebih dulu, tidak nunggu taubatnya juga.

Nah, kalau yang dibayangkan akibat-akibat buruk seperti ini, maka dipastikan tidak akan pernah mencoba-coba melakukan pelanggaran, tidak akan melakukan perbuatan dosa, meski peluang untuk itu sangat terbuka. Akan tetapi, sebaliknya, kalau yang dibayangkan adalah ampunan Allah dan sifat kemahamaafanNya atas kesalahan hamba-hambaNya, maka dikhawatirkan akan mengulang-ulang kesalahan, bahkan kesalahan yang sama.

Gambaran dari realitas orang yang menelantarkan kewajibannya kepada Allah seperti shalat fardhunya masih bolong-bolong, puasa ramadhannya masih puasa kendang tanggal 1 dan hari penutup tanggal 29 atau 30, zakatnya ketika sempat saja, dalam masih melakukan pelanggaran lainnya dengan mengangan-angankan ampunan Allah.

Begitu juga dalam hal gambaran orang-orang yang menabrak-nabrak aturan, seperti korupsi, mencuri, berzina, bermabuk-mabukan dengan minuman keras, mengonsumsi zat-zat adiktif lainnya… terus diulang dan diulang dengan membayangkan dan berpikir “bukankan ampunan Allah lebih besar daripada murkaNya?!. Apalagi juga ada yang berpikir, selagi masih muda berpoya-poya sesukanya, dan bisa bertaubat di usia tua. Mumpung ada kesempatan untuk melanggar, tokh bisa diperbaiki di kemudian hari.

Kalau seperti ini kan sudah menjadi salah kaprah namanya; salah tempat, dan gagal paham terhadap doktrin ampunan dan sifat kemahamaafan Allah atas hamba-hambaNya.

Begitu juga dalam ranah berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Regulasi sudah disusun dan disahkan, juklak sudah dilengkapi sangat rapi, SOP pun sudah dibuat, tetapi ironi memang, sekiranya malah tidak dilaksanakan atau bahkan dilanggarinya sendiri. Parahnya bukan orang awam saja yang melakukan pelanggaran, tetapi justru yang membuat atau mengerti tentang regulasi itu sendiri. Lalu, pertanyaannya, untuk apa regulasi dibuat? Kalau kemudian tidak dipedomani. Semoga menjadi iktibar.

Ketika berhasil memahami dan menempatkan doktrin ampunan dan sifat kemahamaafan Allah atas hamba-hambaNya pada tempat yang semestinya, ditandai dengan kehati-hatian dalam bersikap, maka zudah sepantasnya kita mensyukurinya baik dengan hati, lisan maupun perbuatan konkret.

Pertama, mensyukuri di hati yakni meyakini bahwa Allah maha mengetahui terhadap hamba-hambaNya yang melakukan taubat nasuha. Dan Allah juga maha mengetahui orang-orang yang hatinya mempermainkan Islam. Sudah mengetahui halal haram, tetapi ditabrak-tabraknya juga dengan berharap ampunan Allah. Hari ini insaf, besuk diulanginya berbuat salah dan dosa lagi. Lusa dan seterusnya juga begitu.

Kedua, mensyukuri di lisan dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Dengan terus memuji Allah dan atas kemahamurahanNya, semoga hari demi hari kita selalu dalam bimbinganNya.

Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret, yaitu berusaha dan berdoa agar kita dapat memahami tentang doktrin ampunan Ilahi dan sifat kemahamaafanNya, dengan benar dan tepat memposisikannya.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya ‘Alim ya Thawwab ya Ghafur, ya Ghafar ya ‘Afuwun, ..dan seterusnya. Ya Allah, zat yang mengetahui, zat yang maha menerima taubat, maha pemaaf, maha pengampun.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!