Media Ta’aruf

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 9 Zulhijjah 1440

Saudaraku, hari ini adalah tanggal 9 Zulhijah, dikenal dengan ‘Arafah karena setelah ihram pada 8 Zulhijjah kemarin dengan mabit beribadah di Mina, saudara-sadara kita di tanah suci yang menunaikan ibadah haji menuju dan melakukan wukuf di padang Arafah pada 9 Zulhijjah, malamnya sembari mempersiapkan kerikil untuk jumrah esok harinya. Ya wukuf, berdiam diri merenung bertafakur di Arafah agar menemukan kesejatian dirinya itu siapa. Kita umat Islam yang di kediaman masing-masing juga Sunat Puasa Arafah (SPA) agar dapat mengenali diri sendiri.

Hari ini benar-benar sebagai media ma’rifat al-insan. Berpuasa atau berdiam diri berkontemplasi agar menemukan jati diri sembari berdoa dan berzikir semampunya. Padang ‘Arafah mengkodisikan tersedianya kesempatan seluas padang yang membentang untuk mengenali diri (‘arafah) sehingga menjadi pribadi sadar diri arif nan bijaksana.

Selain dapat mengkodisikan untuk mengenal dirinya, wukuf di Arafah juga sebagai media ta’aruf terhadap sesama umat Islam sedunia. Wukuf di Arafah menyediakan kesempatan bermuktamar internasinal di bawah panji-panji ketaatan pada Rabb. Betapa tidak! Berjuta-juta orang beriman berinteraksi, bersosialisasi, saling mengenali (arafah) untuk seiya sekata dalam memuja keagungan Rabbnya.

Setelah berada di tengah lautan manusia, maka penyadaran diri, siapa diri ini di tengah lautan manusia di Padang Arafah yang luas seolah tak bertepi, bukankah persis seperti sebutir pasir, bahkan pasir yang berlumuran debu di tengah hamparan padang pasir yang amat luas.

Di samping itu wukuf juga sebagai simulasi yang diharapkan dapat mengingatkan bahwa suatu saat nanti di alam akhirat kita bersama seluruh manusia lainnya juga akan dikumpulkan di padang makhsyar dimana akan diumumkan oleh pengadilan Ilahi akan kesejatian diri masing-masing orang. Oleh karenanya sedari sini dan sedini mungkin, mengenali diri menjadi kunci mencintai Ilahi.

Setelah mengenal diri sendiri dan ta’aruf sesama insani, maka idealnya kemudian dapat mengenal Ilahi. Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu, sesiapa yang mengenali secara arif akan dirinya, maka dipastikan ia akan arif mengenali Rabbnya.

Saudaraku, diri ini adalah manusia yang dihadirkan dengan mengenban peran ‘abdulullah atau hamba Allah dan khalifatullah pemakmur di muka bumi.

Oleh karenanya, mestinya kita berperilaku sebagai manusia yang benar-benar manusiawi, yakni sebagai abdullah dan khalifatullah. Bila masih ada perilaku syaithaniyah seperti suka sombong, mengganggu, mengadu domba atau petilaku sabu’iyah seperti suka menerkam sesamanya, rakus dan ingin menang sendiri atau perilaku hayawaniah seperti hanya makan tidur dan beranak pinak, maka bersegera kita bertaubat dengan kita sembelih sebagaimana disimbolisasikan dengan penyembelihan hewan yang kita kurbankan.

Ketika berhasil mengenali diri sendiri dengan arif, sejatinya itu merupakan percikan karunia Allah sebagai Al-Khabiir dan Al-Aliim, karena kita meyakini bahwa Allah maha mengetahui sehingga Allah juga dikenal sebagai al-‘Aliim. Ketika pengetahuan Allah itu serba meliputi dan menjangkau semuanya sampai yang sekecil-kecilnya, maka Allah disebut Al-Khabir. Nah al-Khabiir inilah yang akan kita ulang kaji kembali untuk muhasabah hari ini.

Al-Khabiir secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mengetahui dengan pengetahuan yang sempurna, baik yang global maupun yang terperinci. Allah Maha Lembut pengetahuanNya. Allah berfirman yang artinya Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (Qs. Al-An’am 73)

Demikian juga, Barangsiapa yang dijauhkan adzab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata. Jika Allah menimpakan suatu? kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-An’am 16-18).

Dan “Tidak seorangpun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Luqman 34). Dengan demikian hanya Allah lah yang mengetahui hal ikhwal tibanya kematian seseorang.

Pada ayat lain, Allah berfirman yang maknanya “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat 13). Kesejatian takwa seseorang hanya diketahui oleh Allah saja. Demikian juga ayat yang maknanya “Segala puji bagi Allah, yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi; bagi-Nya segala puji di akherat. Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dia mengetahui apa yang merasuk ke dalam bumi dan apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana.” (Qs. Saba: 1-2).

“Dia tak tercapai oleh segala indera, tetapi ia mencapai segala indera. Dia Maha Halus dan Maha Mengetahui. (Qs. Al-An’am: 103).

“Sekiranya Allah me­lapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat semaunya di muka bumi. Tetapi Dia menurunkannya sesuai dengan ukuran yang di­kehendaki-Nya; terhadap hamba-hamba-Nya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat.” (QS. Syuura: 27).

Ketika sudah berhasil mengenali diri sendiri yang dibuktikan dengan pengenalannya pada Allah, maka kita layak mensyukurinya baik di hati, lisan maupun perbuatan nata.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa di ini adalah ‘abdullah dan khalifatullah sehingga harus terus mengabdi pada Allah sersya memakmurkan bumi, semenara Allah adalah Rabbuna, Zat Maha Mengetahui dengan pengetahuan yang sempurna, baik secara kuantitas maupun kualitasnya.

Kedua, mensyukuri dengan terus memujiNya seraya memperbanyak melafalkan alhamdulillahirabbil’alamin, agar Allah mengaruniai ilmu dan pemahaman atas diri kita dan diberi kempuan untuk mengenaliNya kemudian mencintaiNya.

Ketiga, mensyukuri dengan tindakan nyata yaitu meneladani dan mengukuhkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya menjadi pribadi yang sadar akan diri sendiri sehingga senantiasa bijak dan hati-hati dalam segala hal.

Adapun dzikir pengkoisian hati, penyejuk qalbu guna menjemput hidayahNya agar dikaruniai hati cerdas mengenali diri adalah membasahi lisan dengan Allah ya ‘Aliim ya Khabir… dat seterusnya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!