Pendidikan Anak Autis

GEMA JUMAT, 4 OKTOBER 2019

Oleh Syahril, S.Pd, M.Ag

Guru SMA Negeri 6 Banda Aceh                                                                                              

Implementasi pendidikan agama Islam sangat penting diberikan  pada anak  usia dini, terutama  dalam menghadapi era globlalisasi yang berdampak pada pergaulan bebas para remaja, pengkonsumsian ganja dan narkotika, free sex (seks bebas), bullying (mengintimidasi), dan sebagainya. Hal ini bila tidak diperhatikan dengan serius akan merugikan tunas genersi muslim masa depan. Pelaksanaan tersebut penting untuk anak muslim, baik anak berkebutuhan umum, maupun berkebutuhan khusus (ABK), khususnya anak penyandang autis. Dalam pelaksanaan tersebut, anak penyandang autis memerlukan pandampingan yang disertai ketelatenan secara khusus.

Kebutuhan akan pendidikan merupakan hak semua warga negara. Berkenaan dengan ini, dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) secara tegas disebutkan bahwa, “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran.”

Hak  setiap  warga  negara   memperoleh  pendidikan  dijamin oleh hukum yang pasti dan bersifat mengikat. Artinya, pihak manapun tidak dapat merintangi atau menghalangi maksud seseorang untuk belajar dan mendapat pengajaran yang baik dan berkualitas. Hak setiap warga negara tersebut tidak hanya berlaku bagi setiap anak normal saja, tetapi juga pada anak yang memiliki kelainan khusus seperti autisme. Keadaan ini dipertegas dalam UU Nomor  20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV Pasal 5 Ayat 2, yaitu,  “Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan latar sosial  berhak  memperoleh pendidikan  khusus.” 

Hal  ini  sesuai  dengan  firman Allah yang artinya, “Dia  (Muhammad)  mengerutkan  muka (musam  mukanya)  dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?” (QS. ‘Abasa: 1-4).

Ayat di atas menjelaskan,    anak  autis  berhak  mendapat  pendidikan  seperti  anak normal lainnya termasuk pendidikan agama Islam. Pendidikan agama Islam sebagai bekal untuk pedoman hidup, sehingga agama merupakan standarisasi nilai-nilai sosial di masyarakat.

Autisme  adalah  sindroma  (kumpulan  gejala)  di  mana  terjadi penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan berbahasa dan kepedulian terhadap sekitar, sehingga anak autis seperti hidup dalam dunianya sendiri. Autisme  tidak  termasuk  golongan  penyakit,  tetapi  suatu  kumpulan  gejala kelainan  perilaku  dan  kemajuan  perkembangan.  Anak  autis  tidak  mampu bersosialisasi, mengalami kesulitan, menggunakan bahasa, berperilaku berulang-ulang, serta bereaksi tidak biasa terhadap rangsangan sekitarnya. Dengan kata lain, pada anak autis terjadi kelainan emosi, intelektual dan kemauan (gangguan pervasif).

Dalam   pelaksanaan   pendidikan   bagi   anak   autis,   terutama   dalam pembelajaran pendidikan agama Islam sering dijumpai banyak permasalahan yang menghambat  dalam  mencapai  tujuan  pendidikan  Islam.  Permasalahan tersebut bisa muncul dari peserta didik, lingkungan maupun faktor pendukung lainnya. 

Permasalahan  yang  muncul  dari  peserta  didik  (anak autis)  yaitu adanya kelainan emosi, intelektual dan kemampuan (gangguan pervasif) yang merupakan suatu kumpulan gejala kelainan perilaku dan kemajuan perkembangan. Anak autis memiliki tingkat gangguan perkembangan yang berbeda-beda, antara penyandang autisme yang satu dengan penyandang autisme yang lain.

Ada varian simtom yang ringan dan ada juga yang berat. Secara umum dapat dispesifikasikan kedalam tiga hal yang mencakup kondisi mental, kemampuan berbahasa, serta usia si anak. Adanya tingkat gangguan perkembangan yang berbeda-beda ini bergantung pada umur, inteligensia, pengaruh pengobatan dan beberapa kebiasaan pribadi lainnya.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!