Public Figure vs Rubbish Figure

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 3 Rabiul Awal 1441

Saudaraku, tema muhasabah hari ini masih melanjutkan ulangkaji tentang pendidikan, dimana ketika pendidikan dilakukan oleh benar-benar “guru” digugu lan ditiru, orang-orang yang titahnya bisa dipatuhi dan perilakunya layak diteladani akan melahirkan generasi Rabbaniy. Jadi pendidikan itu diemban dan dimaksudkan untuk melahirkan pribadi yang bisa ditaati dan diteladani atau public figure. Sebaliknya, Islam sangat menekankan pada umatnya agar dapat menghindari perilaku tercela dan menjauhi pola asuh yang salah agar tidak terjerumus menjadi atau melahirkan pribadi yang berakhlak buruk sebagai rubbish figure atau sampah masyarakat.

Islam menuntun umatnya agar dapat mendidik anak peserta didiknya sehingga meniscayakan lahirnya generasi rabbaniy, orang-orang yang sehat, cerdas dan berakhlak mulia. Di dunia ini mengemban peran sebagai khalifah pemakmur di bumi dan pengabdi pada Ilahi.

Setiap diri, setelah lahir dengan membawa seperangkat potensi internal yang tersimpul dalam term fitrah, maka menghajadkan pengkodisian sejak mula kehidupannya di dunia ini sampai waktu mencapai terutama kedewasaannya. Pengkondisian dan pembiasaan yang baik mesti dimulai dari dan harus diupayakan oleh kedua orangtuanya, keluarga besarnya, pemilihan teman-teman sepermainannya dan sesiapapun yang mungkin berinteraksi dengannya. Di samping itu kondisi alam sekitar, sumber dan makanan minuman yang dikonsumsi tentu harus heginis, halal dan tidak berlebihan. Oleh karenanya, setiap orangtua dan seluruh pendidik harus memiliki komitmen dan kesungguhan mendidik anak-anaknya dan peserta didiknya, sehingga yang lahir hanyalah generasi yang baik, generasi yang disinari oleh kebenaran ilahi, sebagai generasi rabbaniy

Ketidakpedulian dan kelalaian orangtua atau pendidik lainnya terhadap kewajiban pendidikan atas anak-anaknya terutama di masa-masa pradewasanya, hanya akan menuai kekecewaan demi kekecewaan. Jangankan public figure (pribadi teladan) yang lahir, tetapi rubbish figure (pribadi sampah masyarakat) yang akan muncul.

Rubbish figure atau sampah masyarakat sebagaimana telah dikemukakan dalam forum muhasabah ini pada beberapa hari yang lalu, yakni merujuk pada “orang-orang yang dianggap tidak berguna bagi masyarakat, misalnya gelandangan atau pengemis. Di era modern ini maka masuk pula ke dalam golongan sampah masyarakat, adalah para koruptor, teroris, ektremis dll. Nah, sangat kompleks dan pelik, bukan? Sebagai upaya preventif, mestinya juga dilakukan pencegahan agar tidak ada atau paling tidak diminimalisir keberadaan sampah masyarakat.

Dari batasan dimaksud penyebab orang-orang dikategorikan sebagai sampah masyarakat adalah faktor kemiskinan, baik kemiskinan material harta benda seperti gelandangan dan pengemis maupun kemiskinan akhlak (amoral) seperti koruptor, penjahat. Na’udzubillah tsumma na’udzubillahi min dzalika!

Ketika mampu dan sukses mengemban amanah pendidikan yakni melahirkan generasi rabbaniy yang di antaranya sebagai public figure atau pribadi teladan dan tidak melahirkan generasi rubbish figure atau sampah masyarakat, maka sudah selayaknya kita mensyukurinya baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini sepenuhnya bahwa hanya dengan pendidikan Rabbabiy saja dapat melahirkan figur yang bisa diteladani dan terhindar dari lahirnya orang-orang sampah masyarakat.

Kedua, mensyukuri di lisan dengan senantiasa memuji Allah ta’ala seraya memperbanyak mengucapkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Dengan memujiNya, semoga Allah mengaruniai hidayah dan petunjukNya sehingga kita dapst mengemban amanah pendidikan tabbaniy yang dapat mengantarkan diri dan sesamanya menjadi figur-figur yang dapat diteladani.

Ketiga, mensyukuri dengan perilaku konkret yaitu mengemban amanah pendidikan, melahirkan generasi rabbaniy betlindung diri pada Allah dari pola asuh yang salah sehingga tidak memunculkan generasi sampah masyarakat.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Rabb, ya Quddus, ‘Wakil ya Salam. Ya Allah zat yang maha mendidik, zat yang maha suci, maha menyelamatkan, anugrahi kami hidayah kemampuan untuk mengemban smanah pendidikan rabbaniy yang mampu melahirkan generasi yang bisa tampil menjadi teladan. Aamiin ya Rabb.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!