13 Maret 2020

Resensi Buku

GEMA JUMAT, 13 MARET 20208

Melihat Aceh dari Baiturrahman

Judul Buku : Merawat Bingkai Syariah
Penulis : Sayed Muhammad Husen
Penerbit : Bandar Publishing
Tebal : xiii+298 hlm
Terbit : Pertama, Tahun 2020
ISBN : 978-623-7499-824

Jutaan peristiwa terjadi setiap hari. Tak soal skalanya besar atau kecil, kehadirannya ikut menentukan wajah Aceh berpenduduk 4,7 juta jiwa ini. Memahami peristiwa-peristiwa terkini sejatinya adalah upaya untuk mengenali situasi Aceh saat ini, sekaligus memprediksi kondisi Aceh esok hari. Buku ‘Merawat Bingkai Syariah’ menyuguhkan kompilasi diskursus yang dianggap patut mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat yang ingin “melihat” Aceh, khususnya dari salah satu “sudut menara” Masjid Raya Baiturrahman (MRB).

Penulis buku, Sayed Muhammad Husen, merupakan pemimpin redaksi publikasi in-house MRB. Himpunan gagasan dalam buku ini adalah tulisan yang telah diterbitkan di rubrik Assalamu’alaikum Tabloid Jum’atan Gema Baiturrahman (TGB) kurun waktu 2015-2017. Mengingat peran rubrik tersebut sebagai teks editorial, pandangannya dapat dikatakan mewakili pilihan Baiturrahman dalam menyikapi isu-isu kontekstual di Aceh. Karenanya, asumsi bahwa membaca buku ini adalah melihat Aceh dari kacamata masjid kebanggaan ureueng Aceh agaknya tidak berlebihan.

Terdapat sekitar 130-an tulisan yang dipilah kedalam 6 Bab berbeda berdasarkan kategori ekonomi, ibadah, keacehan, pendidikan, syariah, dan ukhuwah. Tulisan-tulisan tersebut bukan hanya memuat amatan atau sebatas mengkontestasikan ide intelektual Sayed, tetapi juga menawarkan renungan serta pelajaran yang ia dapatkan dari pengalaman profesionalnya. Ketika membahas isu ZISWAF atau ekonomi Islam misalnya, di beberapa tulisan, Sayed turut membagikan situasi faktual yang ia dapati di lapangan sesuai kapasitasnya sebagai amil di Baitul Mal Aceh dan pegiat ekonomi syariah di Baitul Qiradh Baiturrahman. Sehingga, pendapat-pendapat yang diusulkan dalam buku ini menjadi relevan, baik dari segi teoritis maupun praktis.

Meski ada beberapa kekurangan dalam hal penyuntingan, seperti typo, huruf yang terpotong atau spasi yang berantakan, secara keseluruhan tidak sampai mengganggu pengalaman membaca. Begitu pun dengan beberapa topik yang seakan-akan terasa menggantung di tengah, lalu melompat ke kalimat penutup begitu saja, boleh jadi karena menyesuaikan dengan space yang disediakan rubrik Assalamu’alaikum TGB. Tapi hal ini berpotensi menjadi a blessing in disguise (berkat terselubung), karena memancing pembaca untuk menawarkan gagasannya demi mengisi ruang kosong itu. Penggunaan bahasa yang singkat, tidak klise dan minim jargon-jargon elit juga membuat buku ini mudah dicerna oleh kalangan mana saja.

Diresensi oleh Riza Rahmi, Alumni School of Arts and Media, UNSW Sydney, Australia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *