MUHAMMAD SAW TELADAN UMMAT

GEMA JUMAT, 8 NOVEMBER 2019

Oleh: Dr.Tgk.H. Syabuddin Gade, M.Ag

Nabi Muhammad SAW sebagai teladan ummat ditegaskan dalam banyak ayat, antara lain;  Q.S. al-Ahzab: 21, yang artinya; “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap  (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Ayat ini turun ketika dalam keadaan perang Ahzab, akan tetapi hukumnya umum meliputi keadaan apa saja. Isinya menegaskan batapa Allah mengakui pribadi Rasulullah SAW sebagai “uswah hasanah” (suri teladan) ummat. Ibnu Katsir menegaskan, ayat ini adalah dasar paling utama yang mengandung perintah  meneladani Rasulullah SAW baik perkataan (aqwal), perbuatan (af’al) maupun  hal-ihwal (ahwal)-nya (http://quran.ksu.edu.sa>sura33-ayat21). Sebab, demikian Tafsir as-Sa’di (1422 H),  hukum asal umat Islam adalah meneladani baginda dalam semua hukum, kecuali perkara-perkara  yang ditunjukkan oleh dalil  syari’at sebagai kekhususan bagi baginda.  

Dalam Q.S. al-Qalam: 4 ditegaskan,  “Sesungguhnya engkau benar-benar  berbudi pekerti yang luhur”. Ayat ini menegaskan betapa Nabi Muhammad SAW adalah pribadi yang berperilaku mulia (khuluqun ‘adhim). Baginda bukanlah orang gila (Q.S. al-Qalam: 2) dan perilaku mulia tidak mungkin menyatu pada orang gila (Lihat Tafsir al-Maraghi). Keagungan akhlaq Rasulullah SAW juga dijelaskan oleh isteri baginda, ‘Aisyah RA. Suatu ketika Sa’ad bin Hisyam bin ‘Amir tiba di Madinah dan menjumpai ‘Aisyah RA untuk bertanya beberapa persoalan. Salah satu pertanyaannya adalah; …”Wahai Ummal Mu’minin, ceritakanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah SAW? ‘Aisyah RA bertanya; apakah anda membaca al-Qur’an? Sa’ad menjawab; Ya, Lantas ‘Aisyah menegaskan; Sessungguhnya Akhlaq rasulullah SAW itulah al-Qur’an”… (H.R. Muslim). Kerana itu, marilah kita ikuti akhlak beginda dan mengikuti akhlak baginda sama dengan mengikuti isi al-Qur’an; mengikuti baginda sama dengan mengikuti  Allah. Sebaliknya, siapa saja mengangkangi atau menolak  baginda dan apa saja yang disampaikannya sama dengan menolak isi al-Qur’an dan menentang Allah. As-Sa’di menegaskan “siapa saja yang tidak mengikuti Rasulullah SAW, maka ia tidak mencintai Allah dan sesungguhnya ia adalah pendusta, meskipun ia mengklaim dirinya mencintai Allah” (Tafsir as-Sa’di, Surah Ali Imran:31)

Tidak boleh kita ragu sedikitpun bahwa Rasullah SAW adalah teladan ummat. Kita mesti menjadikan baginda sebagai teladan dalam menjalani hidup ini dalam semua aspeknya.  Tidak ada sedikitpun kekurangan pada baginda Nabi Muhammad SAW; baginda digelar al-amin (orang jujur/terpercaya); baginda adalah pribadi ma’sum (tanpa dosa) dan sudah dijamin masuk syurga.  Karena itu, sekali lagi, marilah kita jadikan baginda sebagai idola kehidupan dengan mengikuti segala perintah dan menghindar dari segala larangannya.

Marilah kita renungi sekilas sejarah perjuangan baginda. Betapa baginda dengan susah-payahnya mengubah masyarakat Arab Jahiliyah menjadi masyarakat muslim yang berperadaban. Baginda mulai dengan berdakwah dan mendidik keluarga dekat dan para sahabat di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Selama 13 tahun berdakwah di Mekkah baginda sabar  menghadapi berbagai perlakuan keji, penghinaan, hasutan, ancaman dan siksaan baik terhadap baginda maupun pengikutnya. Selama 10 tahun baginda berdakwah di Madinah baginda juga sabar dan istiqamah memperjuangkan Islam meskipun tantangan yang beliau hadapi lebih kompleks, yakni mengahdapi perlawanan kafir Mekkah, para ahli kitab dan orang-orang munafik, bahkan ancaman dari Romawi.  Intinya, apapun kondisinya baginda Nabi Muhammad SAW tetap sabar dan istiqamah memperjuangkan Islam . Hasil perjuangan baginda yang kemudian diteruskan oleh para sahabat, tabi’-tabi’in dan para ulama, ummat Islam sudah mencapai 1, 59 milyar jiwa yang tersebar di seluruh pelosok dunia. Karena itu pula,  Michael H.Hart (Guru Besar Astronomi dan Fisika, Universitas Maryland, Amerika Serikat) dalam bukunya The 100 A Ranking of The Most Influental Persons in History, menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh pertama yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia.

Bukankah umat Islam hari ini, demikian Muhammad Quthub dalam karyanya Jahiliyah al-Qarn al-‘Isyrin (1412 H), berhadapan dengan jahiliyah modern yang jauh lebih kompleks? Untuk itu, sudahkan kita sabar dan istiqamah dalam memperjuangkan Islam sebagaimana baginda? Sudahkah kita mengikuti ajaran baginda secara sempurna? Bukankah kita hari ini hanya duduk manis menikmati buah perjuangan baginda? Sudahkan kita bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada baginda dengan memperbanyak shalawat kepadanya? Sudahkah kita melaksanakan ibadah dan bermu’amalah seperti baginda? Sudahkah kita bertaqwa kepada Allah sebagaimana baginda? Hamba Allah yang mulia! Semua pertanyaan ini dan mungkin ratusan pertanyaan lainnya hanyalah kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Selagi jantung masih berdetak, marilah kita bermuhasabah (introspeksi) sejauhmana kita sudah meneladani Rasulullah SAW dan sejauhmana pula kita sudah bertaqwa kepada Allah. Sebab, ketika detak jantung sudah berhenti, maka waktu bermuhasabah sudah tamat. Sayyidina Umar RA berkata, yang artinya: “Hisablah dirimu semua sebelum (nanti) dihisab. Dan timbanglah diri kamu semua sebelum (nanti) ditimbang. Karena nanti hisabmu akan lebih mudah jika engkau evaluasi dirimu sekarang. Dan hiaslah dirimu untuk pertemuan akbar (besar). Pada hari itu akan ditampakkan semua dari kamu dan tidak ada yang tersembunyi” (Ibn Abi al-Dunya). Demikian, semoga khutbah singkat ini dapat menggugah hati kita semua untuk selalu meneladani Rasulullah SAW dan senantiasa meningkat ketaqwaan kepada Allah. Wa Allahu A’lam.

Khatib Dosen UIN ar-Raniry Darussalam Banda Aceh

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!