Berdamai dengan Sesama Muslim

Kebencian, permusuhan dan dendam terjadi dalam interaksi hidup kita hari-hari kadang tak terelakkan. Perasaan negative ini ada yang hilang beberapa saat dan ada yang menahun tak terobati. Semua orang yang merasa penyakit hati yang negative ini merasakan ketidaknyamanan dan tak selesa dengan apa yang mereka alami.

Jelas bahwa suasana tidak ada orang yang kita benci serta tidak ada yang membenci kita adalah kondisi yang diidamkan oleh setiap orang. Namun kadang seseorang merasa membenci atau mendendam karena ia merasa benar dengan sikapnya dan merasa orang lain telah bersalah dengan dia. Dari sini ia merasa bahwa pantas saja dia menyimpan dendam pada orang yang telah menyakiti hatinya selama ia tidak meminta maaf.

Perhatikanlah, kalau begini perasaan kita terhadap orang, maka begini pula perasaan orang pada kita.

Di sini kita pantas mengingat kembali hadis yang diperingatkan Nabi kita tentang penyakit “kibrun.” Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallau ‘anhu, ia berkata : Rasulullah bersabda :” Tidak akan masuk syurga siapa yang dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari kesombongan/ keangkuhan (kibrun)’’.

Seorang lakilaki bertanya : seseorang menyukai bajunya bagus dan sandalnya bagus” Rasul bersabda : “ Allah itu indah menyukai keindahan, kesombongan (alkibru)adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain” ( HR. Muslim, Abu Dawud)

Hadis shahih tersebut memaparkan bahaya penyakit angkuh yang tersimpan dalam hati walau sekecil apapun. Rasulullah mengabarkan angkuh dengan sebesar zarrah, yang dalam bahasa Arab zarrah bermakna biji paling kecil yang bisa dilihat oleh mata. Sikap angkuh jelas tidak bisa berwujud materi sehingga bisa diukur, namun Rasulullah mendeskripsikan hal tersebut agar mudah dipahami manusia. Bila ia terdapat dalam hati, akan berbahaya fatal. Yaitu tertolak dari syurga. Menjauhkannya dari Allah. Nabi secara langsung mengambarkan syurga sebagai bahaya kesombongan, kenapa?

Karena ke syurga kita harus menempuh jalan kebenaran, sementara sikap kesombongan dalam diri seseorang akan menjauhkan dari kebenaran yang sampai padanya. Hal ini akan menggelincirkannya dari jalan yang membawanya ke syurga.

Untuk melenyapkan dan belajar menghindari sifat angkuh dan sombong serta penyaki benci dan dendam yang bisa merusak hubungan antara kita dengan saudara kita yang dekat dengan kita, sepatutnya kita belajar cara menghindari penyakit itu dengan kebesaran hati kita.

di Madinah, pernah ada sekelompok orang yang menyebarkan berita bohong tentang Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Istri Nabi dan anak Abu Bakar. Di antara orang yang menyebarkan berita bohong itu adalah kerabat Abu Bakar sendiri dan orang yang selalu dibantu dan disantuni oleh Abu bakar. Abu bakarpun geram dan sangat terpukul dengan perlakuan tersebut.

Lalu Abu Bakar r.a. bersumpah bahwa dia tidak akan memberi apaapa lagi kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri ‘Aisyah. Maka turunlah ayat melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema’afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

Firman Allah SWT : “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orangorang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Nuur : 22)

Selanjutnya simaklah kisah yang terjadi dengan sahabat Nabi agar kita dapat pelajaran hidup dan solusi dari masalah kita bersama. Berikut kisah terjadi dikalangan sahabat dulu.

Abu Dzar pernah berselisih dengan Bilal bin Rabah. Padahal mereka berdua bersahabat. Namun mereka tetaplah manusia biasa. Abu Dzar marah dan berkaa pada Bilal : “ Wahai anak orang Hitam”. Perasaan rasis Abu Dzar tiba-iba muncul.

Tidak menerima panggilan itu, Bilal mengadu kepada Nabi SAW. Lalu Nabi memanggil Abu Dzar dan bertanya : “ Apakah engkau memaki seseorang?”

“Ya” jawab Abu Dzar. Rasulullah bertanya lagi, “ apakah engkau menyebutkan nama ibunya?” Abu Dzar berkata : “ Wahai Rasulullah, siapapun memaki orang, nama ayah dan ibunya akan dibawa-bawa.”

Rasulullah bersabda : “Kalau begitu, dalam dirimu masih ada warisan jahiliyah”. Seketika raut muka Abu Dzar berubah lalu bertanya pada Nabi “Apakah saat itu dalam diriku ada sombong?” “ya “ jawab Nabi.

Mengetahui demikian, apa yang dilakukan Abu Dzar? Abu Dzar segera pergi mencari Bilal setelah bertemu ia memohon maaf. Cara ia meminta maaf dengan bersimpuh di depan Bilal dengan meletakkan pipinya di atas tanah seraya berkata:

“Wahai Bilal, injakkan kakimu di pipiku.” (H.R. Muslim) Nah, Saudarku, Lihat bagaimana kisah permusuhan dan kebencian terjadi dan bagaimana berakhir. Ada yang membenci dengan kesombongan lalu berakhir denan penyesalan dan meminta maaf. Siapa saja bisa dan sangat mudah bersikap terlanjur, namun hal itu tidak mencegah sesorang untuk menyesali dan memadamkan api kebencian dan dendam.

Abu Bakar dan Umar pernah terlibat perbincangan sengit berdua. Karena merasa marah dengan Abu Bakar, Umar seketika mencabut diri dan pergi. Melihat hal itu, Abu bakar merasa menyesal, dan beranajak menyusul Umar meminta maaf. Tapi Umar tidak mau menoleh. Abu bakar terus mengikuti Umar sampai ke rumahnya meminta maaf, tapi Umar masuk menutup pintu tanpa memberikan maaf.

Abu Bakar lemas, dan pergi menjumpai Rasulullah. Melihat Abu bakar datang dengan kondisi berbeda dan tidak bersemangat, Nabi berujar pada orang yang duduk bersama beliau : “ sahabat kalian ini habis bertempur”

Abu bakar hanya duduk dan diam tidak melaporkan apap-apa pada Nabi. Namun tak lama kemudian Umar pun Datang ke majlis itu dan menceritakan apa yang terjadi antara mereka berdua, dan menceritakan kalau ia telah berpaling tidak memberi maaf pada Abu bakar. Sontak Nabipun marah pada Umar, seketika Abu Bakar berkata : “Demi Allah, wahai Rasulullah akulah yang zalim, akulah yang berbuat aniaya.” Abu Bakar membela Umar. (H.R. Bukhari)

Kedua mereka telah berbuat salah, Abu bakar bersala membuat Umar marah dan membencinya, tapi dengan cepat meminta maaf. Kesalahan Umar adalah tidak mau memberikan maaf, namun akhirnya menyesal dan menemui Abu Bakar yang sedang bersama Nabi. Akuilah kesalahan dan akuilah kesalahan bila memang kita berbuat salah dan membuat orang lain marah dan membenci. Itulah rumusan yang dijalankan para sahabat dalam hidup mereka sehingga mereka mampu menjaga persaudaraan mereka dengan cara baik.

Sesungguhnya, banyak permasalahan kita dengan saudara kita terjadi disebabkan oleh kesalahpaaman orang terhadap kita dan ketidak mampuan kita memahami orang lain. Juga disebabkan harapan kita yang lebih pada orang lain padahal dia tidak memiliki kemampuan dengan harapan kita. Maka ingatlah Firman Allah :

“dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Nuur : 22)