BERQURBAN: RASA SYUKUR HAMBA KEPADA ALLAH SWT

Oleh Fahmi Sofyan, MA

Masyarakat terdahulu sudah tidak asing lagi dengan kata-kata Qurban. Qurban diartikan sebagai suatu penyembelihan atau pengorbanan atau persembahan yang dilakukan oleh pribadi atau sekelompok orang untuk mendekatkan diri dengan sesuatu yang diyakininya. Ini sebagaimana halnya yang dilakukan oleh anak nabi Adam ‘alaihissalam Habil dan Qabil, begitu pula masyarakat mesir yang setiap tahunnya melakukan penyembelihan terhadap seorang wanita yang dipersembahkan untuk penjaga sungai Nil, agar sungai Nil tidak kering.

Demikian pula yang dilakukan oleh penganut agama sebahagian kecil masyarakat kita di Indonesia; menyembelih sapi sebagai persembahan, agar tidak datang marabahaya. Penyembelihan yang mereka lakukan sama sekali tidak memiliki nilai-nilai komsumtif, bahkan sifat mubazir yang dikedepankan.  Hal ini sangat jauh berbeda dengan penyembelihan dalam syariat Islam, dimana qurban sebagai sesuatu untuk mendekat diri dengan Allah SWT juga sebagai bukti kepedulian dengan mendistribusikan  daging qurban tersebut. Berarti dengan berqurban ada dua hal yang kita peroleh; yang pertama dekat dengan Allah yang kedua dekat dengan makhluq Allah itu sendiri.       

Syariat qurban

Berlandaskan firman Allah QS Al-kautsar Ayat 1-2, “Sesungguhnya Kami telah memberikanmu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat kepada Tuhannya dan berqurbanlah”.

Makna al-kautsar mengandung beberapa pengertian: Pertama, nikmat yang banyak yang telah diberikan oleh Allah SWT, karena al-kautsar berasal dari lafadh katsir yang artinya banyak.

Imam as-Sya’rawi memaknai nikmat itu, “Adalah segala sesuatu yang bisa diambil manfaat oleh manusia”  sedangkan imam al-Qurthubi mengatakan, “Nikmat itu adalah harta dan jabatan”. Ini pertanda bahwa  nikmat Allah yang diberikan kepada manusia tidak pernah berhenti, sesuai dengan firman Allah SWT QS Ibrahim ayat 34, “Dan Dia telah memberikan kepadamu apa-apa saja yang kamu mohon kepadaNya, dan jika kamu menghitung nikmat Allah maka tidak sanggup kamu menghitungnya, sesungguhnya manusia itu dhalim dan ingkar”.  

Kedua; adalah nama sebuah sungai yang dipersiapkan oleh Allah SWT bagi orang-orang mukmin yang berada didalam surga, sesuai dengan Hadits dari Anas yang riwayatkan oleh Imam Muslim, “Tatkala Rasulullah tidur sejenak bersama kami di masjid tiba-tiba Rasul mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar, kami bertanya apa yang menyebabkan Engkau tersenyum ya Rasulullah? Rasulullah bersabda: Telah turun kepada Saya surah al-Kautsar, kalian tahu apa itu al-kautsar? Kami menjawab Allah dan RasulNya lebih tahu. Rasulullah bersabda: “Adalah sebuah sungai yang dijanjikan Allah kepada saya yang didalamnya penuh dengan kebaikan, sungai itu akan dilalui oleh ummatku pada hari kiamat yang dipenuhi dengan kendi-kendi sejumlah bintang dilangit”. (HR Muslim)    

Inilah bukti kepedulian Allah SWT kepada Hamba-Nya, yaitu  dengan memberikan nikmat yang tidak terhingga, sehingga dari sekian banyak nikmat itu yang Allah minta kepada hambaNya dua hal yang sangat simpel:

Pertama, melakukan ibadah shalat

Nabi Musa dan Nabi Daud pernah bertanya kepada Allah SWT tentang bagaimana cara membalas nikmat yang sudah diberikan kepada mereka, Allah menjawab, “Seorang hamba tahu kalau nikmat itu berasal dariKu dia sudah bersyukur”. Salah satu cara untuk mengingat Allah adalah shalat, maka seorang hamba yang melakukan ibadah shalat itulah hamba yang tahu diri serta sebaliknya. Bahkan Allah menyuruh hambanya untuk selalu menjaga waktu shalat terlebih lagi shalat fardhu yang lima waktu, serta Rasulullah menambahkan bahwasanya yang membedakan antara seorang mu’min dan kafir adalah shalat.  

Kedua, ibadah Qurban

Ibadah yang dimaksud adalah penyembelihan sapi, unta atau kambing yang dilakukan pada 10 Zulhijjah dan hari tasyriq 11, 12, 13 Zulhijjah, serta dagingnya didistribusikan kepada masyarakat. Ibadah Qurban adalah bukti rasa syukur seorang hamba kepada Allah SWT. Pada prinsipnya semua ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba akan kembali manfaatnya kembali kepada hamba itu sendiri, bahkan Allah tidak pernah mengambil manfaat sedikitpun dari hewan yang diqurbankan. Sebagaimana firman Allah SWT, “Daging qurban dan darahnya tidak akan pernah sampai kepada Allah SWT melainkan ketaqwaan seorang hamba kepada Allah SWT”. (QS Al-Hajj: 37)

Kita harus bersyukur kepada Allah SWT, karena Allah tidak meminta kepada kita untuk mengorbankan anak sebagai rasa syukur, berbeda dengan Nabi Ibrahim AS melalui mimpinya Allah SWT meminta untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya, walaupun pada akhirnya diganti oleh Allah SWT dengan seekor kibas. 

Para ulama berbeda pendapat tentang masalah qurban; Imam as-Syafi’i mengatakan, qurban hukumnya sunnah muakkad (dianjurkan), sedangkan Imam Hanafi mengatakan wajib. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mendapat kelapangan tetapi tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami”.  Didalam mazhab As-Syafi’I seseorang dikatakan memiliki kelapangan apabila dia memiliki nafkah untuk diri dan keluarga yang ditanggung pada hari raya Idul Adha dan hari tasyriq.  

Khatib, Dosen Tetap Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry

Description: blob:https://web.whatsapp.com/b6c54ed3-2ee5-4059-b98a-3c532d53d0bb

Nama                           : Fahmi Sofyan, MA

Pekerjaan                      : –  Dosen Tetap Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh

  • Anggota MPU Banda Aceh

Alamat                                    : Desa Penyeurat Kecamatan Banda Raya Banda Aceh

Email                           : fahmiesofyan@yahoo.com

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!