CARA RASUL MENGAJARKAN AKHLAK KEPADA SAHABAT

GEMA JUMAT, 24 JANUARI 2020

Oleh. Dr Tgk H. Fauzi Saleh MA

Akhlak sebagai prilaku yang tertanam dalam jiwa dan terwujud dalam ucapan dan perbuatan secara mudah dan otomatis. Ia merupakan rahmat Allah yang istimewa sebagai firman-Nya;

Rasul Saw menanamkan akhlak itu dalam diri sahabat dengan cara khas dan unik yang perlu diteladani. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, ta’lim bil hal. Akhlak dan perilaku Rasulullah Saw dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pengajaran kepada sahabatnya. Tingkah laku dan sikap interaksi beliau dengan keluarganya mengajarkan sahabat bagai hidup dengan orang yang dekat mereka. Rasul saw memanggil Ummul mukminin dengan panggilan yang indah “Ya Humairah” (wahai kemerah-merahan),  ya ‘Aisy dan Ya Ibnatu ash-Shiddiq (wahai anak as-Siddiq).  Panggilan ini seolah-olah beliau sedang mengajarkan sahabat dan kita semua bagaimanaya memanggil  orang lain yang menggugah, motivasi dan inspirasi kepada siapa yang dipanggilnya. Hubungan munadi (yang memanggil) dan munada (yang dipanggil) akan berdampak kepada nida’ (objek panggilan yang diharapkan untuk dilaksanakan).

Hal ini sejalan dengan apa yang diajarkan Al-Quran bagaimana Ibrahim memanggil anaknya Ismail, panggilan lembut, menarik dan memberikan kesan (impression) yang akan dikenang selamanya. Banyak sahabat yang sangat merindukan panggilan Rasul saw. Ali merindukan panggilan Abu at-Turab, Jakfar ibn Abi Thalib (Abu Masakin: ayahnya orang-orang miskin), Abu Bakar (As-Siddiq: orang yang membenarkan), Utsman bin Affan (Dzu Nurain: Pemilik dua cahaya), Zainab bin Khuzaiman (Ummul Masakin: Ibunya orang-orang miskin dan seterusnya. Semua panggilan punya kisah tersendiri, indah dan berkesan bagi yang berkesangkutan dan juga bagi orang memanggilnya di kemudian hari.

Akhlak ini kemudian mengajarkan kita bagaimana memanggil sesama sebagai wujud implementasi firman Allah swt dalam Qs. Al-Hujurat.

Janganlah kalian memanggil dengan panggilan yang buruk

Praktek ini menggambarkan relevansi dengan apa yang dikerjakan beliau di antaranya adalah taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik paling banyak antarkan orang masuk ke dalam surga orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya

Kedua, ta’lim bil lisan (ucapan Rasul saw). Rasulullah Saw bertanya kepada Abu Dzar: Maukah kamu aku tunjukkan akan perilaku yang terkenal menghantarkan ke dalam surga . Abu Dzar menjawab Ya Rasulullah Rasul bersabda akhlak yang baik dan bersikap diam.

Ketiga, Rasulullah Saw memberikan apresiasi tentang potensi kebaikan pada seseorang di antara sahabat. Nabi Saw pernah menyebutkan: “Abu Dzar, engkau punya dua perilaku yang dicintai oleh Allah Swt; perilaku hilmu (penyabar) dan lembut”

Keempat, melibatkan sahabat dalam kehidupannya. Adalah Anas bin Malik hidup lama bersama Rasulullah Saw. Sejak beliau berusaha enam tahun. “Saya melayani Rasul saw selama 10 tahun tidak pernah beliau mengucap ketika saya mengerjakan sesuatu kenapa engkau mengerjakannya atau ketika saya tidak mengerjakan sesuatu, beliau tidak menanyakan “kenapa engkau tidak mengerjakannya”[2]. Rekaman kebaikan akhlak yang luar biasa ini berjalan dalam durasi yang lama, bukan dalam waktu 1 atau 2 hari 1 tahun 2 tahun, tetapi adalah selama satu dekade atau 10 tahun. Baginda Rasul saw tetap konsisten menunjukkan Akhlak Yang Mulia yang dipuji oleh penghuni langit dan bumi dan itu bentuk pengajaran yang efektif bagi sahabat dan umatnya.

Keenam, mengajarkan doa untuk berakhlaqul karimah. hadis rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan doa yang indah kepada sahabat dan kita semua: ya Allah Aku berlindung kepada engkau dari perpecahan, kemunafikan dan akhlak yang jelek hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi.

Doa tidak hanya dilafalkan, tetapi ditadabburi kandungannya. Setiap lafaz itu merupakan bentuk internalisasi kebaikan prilaku dalam diri orang yang berdoa. Keinginan dalam diri seseorang, diwujudkan dalam tingkah laku dan kemudian dipintakan kepada Allah akan memberikan taufik agar ia memudah mengamalkan kebaikan tersebut dalam hidupnya. Lebih dari itu, orang yang berdoa berharap dapat istiqamah untuk mengamalkannya.

Keenam, berakhlak untuk semua. Adalah nabi saw bila melewati anak-anak, beliau memberikan salam kepada mereka (HR Bukhari Muslim) [3]. Anak-anak yang usia belia ketika diberikan penghargaan, salam, penghormatan atau apresiasi apapun akan menumbuhkan akhlak untuk menghormati dan menghargai.

Ini anugerah dan keistimewaan yang Allah berikan kepada Rasul saw. sebagaimana Firman Allah swt.

Ketujuh, akhlak untuk solusi persoalan. Seorang sahabat menghadapi kerugian besar dari penjualan buah-buahan dan bertambah pula utang piutangnya. Dia bertemu dengan Rasulullah Saw. Dan beliau menyampaikan kepada sahabat lain untuk bersedekah kepadanya. Mereka pun bersedekah tetapi tentu tidak dapat mencapai jumlah uang guna melunasi utangnya. Nabi saw mengatakan kepada yang berpiutang “Ambillah apa yang kalian dapatkan (dari orang ini) dan itulah yang dapat kalian ambil”. Dalam hal ini, Rasul membantu untuk meringankan sahabat yang mengalami kerugian besar dan juga mengetuk hati orang yang berpiutang untuk memberikan kemudahan bagi orang yang berhutang.

Sebuah riwayat dari Anas bin Malik ia mengatakan ketika kami sedang duduk dalam masjid bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam datanglah seorang badui lalu dia berdiri dan kencing sahabat mengatakan: “jangan-jangan”. Rasulullah saw. Bersabda: “Biarkanlah”. Mmereka pun membiarkan si Badui ini sehingga selesai kencing, Rasulullah Saw memanggilnya dan berkata: “sesungguhnya masih ini tidak layak untuk sesuatu semacam kencing dan kotoran. Mesjid (diperuntukkan) untuk zikir kepada Allah, shalat dan membaca al-Quran. Beliau menyuruh seseorang membawa setimba air guna membersihkannya (HR Muslim)[4]

Uraian di atas memberikan informasi kepada kita bahwa Rasulullah saw mengajarkan akhlak tidak hanya sekedar ucapan tetapi dicontohkan dalam sikap dan perbuatan baik dalam kehidupan individu, keluarga maupun sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu kehadiran Rasul saw dibekali dengan keistimewaan akhlak. Sebelum diangkat sebagai Rasul pun, beliau dikenal orang yang baik bertutur kata, sopan dan santun, amanah dan jujur. Beliau mengajarkan kita akan betapa pentingnya akhlak sebagai modal besar dalam keberhasilan dunia dan akhirat.

Khatib Dosen UIN Ar Raniry Darussalam Banda Aceh