CARA RASULULLAH MENGAJARKAN AL-QURAN

GEMA JUMAT, 10 JANUARI 2020

KHUTBAH JUMAT Oleh. Dr Tgk. H Abdul Qadir Umar, MA

Dalam khutbah yang singkat ini mencoba melihat bagaimana Rasulullah SAW menyampaikan Al-Quran kepada umat hingga sampai kepada kita tanpa ada penambahan,  pengurangan dan perubahan.

Cara Rasulullah SAW mengajarkan Al-Quran kepada para Sahabat adalah dengan membaca langsung kepada mereka, atau apa yang disebut dengan metode talaqqi dan musyafahah (metode  tatap muka). Dengan kata lain, Rasulullah membaca dan para Sahabat mendengar.

Rasulullah SAW membaca Al-Quran dengan tartil, maksudmya sesuai dengan kaidah yang benar mengikut ilmu tajwid dan makharijal huruf. Beliau membacanya dengan suara yang indah secara perlahan, jelas didengar dan berhenti pada setiap hujung ayat. Ummul Mukmminin Ummu Salamah RA menceritakan: Rasulullah SAW memutus-mutus bacaannya satu-satu ayat. Beliau membaca:

 Bissmillahi rahmanirrahim berhenti. Lalu membaca Alhamdulillahirrabbil ‘alamin

berhenti. Kemudian membaca Ar rahamanirrahim dan berhenti. Selanjutnya, membaca Maliki Yaumiddin berhenti. Demikian seterusnya hingga tamat membaca surah al-Fatihah. (H.R. Abu Daud, Ahmad, Darulqjutni dan lain-lain).

Dengan bacaan Baginda yang perlahan telah memudahkan para pendengar menyimak, menulis, mengulangi bacaan dan mengahafalnya.

Majlis Rasulullah SAW selalu dipenuhii oleh para Sahabat. Mereka duduk melingkar di hadapan Rasulullah SAW dalam bentuk halaqah (setengah lingkaran), sehingga semua yang hadir terlihat mukanya oleh Rasulullah dan merekapun dapat melihat wajah Baginda.

Cara kedua, Rasulullah SAW mengajarkan Al-Quran kepada para Sahabat dengan mengulang-ulang ayat yang sama dimanapun beliau berada. Hal itu dimaksudkan agar para Sahabat dapat menghafalnya. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dengan sanadnya:

 Aku mendengar Abdullah bin Mughaffal berkata: “Aku pernah melihat Nabi SAW membaca disaat beliau berada di atas untanya yang berjalan. Ketika itu beliau membaca surah al-Fath atau dari surah al-Fath – , yakni dengan bacaan yang pelan (indah) seraya mengulang-ulangnya. (H.R. Bukhari No. 5047)  

Mengulang-ulang ayat yang sama beberapa kali (takrir) adalah metode yang sangat baik dalam menghafal. Dalam petuah bahasa Arab disebutkan:

Sesuatu yang diulang-ulang akan melekat dalam ingatan.

Cara ketiga: Rasulullah SAW mempercayakan Sahabat yang bagus bacaannya untuk mengajarkan Al-Quran kepada orang lain. Beliau bersabda:

Ambillah Al-Quran dari empat orang: Dari Abdullah bin Mas’ud, Salim (maula Abi Huzaifah), Mu’az bin Jabal dan Ubay bin K’ab. (H.R. Bukhari No. 3808, Muslim No. 2464).

 Sebelum hijrah, Rasulullah SAW mengutus Mus’ab bin ‘Umair dan Abdullah ibn Ummi Maktum ke Madinah untuk mengajarkan Al-Quran kepada penduduknya yang telah memeluk agama Islam.  

Cara keempat: Rasulullah SAW memotovasi (mendorong, menggalakkan) para Sahabat agar belajar Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang lain.. Rasulullah SAW bersabda:

Sebaik-baik kamu orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya (kepada orang lain) (H.R.Bukhari No. 5027).

Imam al-Tarmizi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah al-Qurazdi, ujarnya:

Aku mendengar Abdullah bin Mas’ud berkata: Bersabda Rasulullah SAW: “Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Quran, maka baginya dikira satu kebajikan. Dan satu kebajikan akan dibalas dengan sepuluh kali ganda. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim  satu huruf,  tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf. (H.R. al-Tarmizdy No.2910).

 Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda:

Orang yang fasih membaca Al-Quran dan lancar dikelompokkan bersama para Malaikat utusan Allah yang mulia. Dan orang yang membaca Al-Quran dalam keadaan terbata-bata karena belum lncar membacanya, baginya dua pahala. (H.R. Muslim No. 798).

Cara kelima: Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan bacaan Al-Quran, akan tetapi juga menerangkan makna ayat-ayat tidak dipahami oleh para Sahabat..

Sebagbai contoh, ketika turun ayat 82 surah al-Anam:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ketika itu para Sahabat resah-gelisah, karena merasakan diri mereka tidak masuk dalam golongan orang-orang yang selamat dan mendapat petunjuk dari Allah SWT. Lalu mereka bertanya kepada Nabi SAW seraya berkata: “Siapa diantara kami yang tidak menzalimi diri diri sendiri?”. Lalu Nabi SAW menjelaskannya dengan sabdanya:

Sesungguhnya makna zulm dalam ayat itu bukan sebagai yang saudara pahami. Tidakkah saudara-saudara sekalian mendengar ucapan seorang hamba Allah yang solih: (Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu adalah benar-benar kezaliman yang besar).

Zulm dalam ayat tersebut bermaksud “syirik”.

Cara keenam:Rasulullah SAW meminta para Sahabat agar menerapkan ayat-ayat yang telah mereka hafal dalam kehidupan.

Al-Quran diturunkan bukan hanya untuk dibaca dan dihafal, akan tetapi ianya untuk diamalkan. Membaca dan menghafal sebenarnya adalah sebagai wasilah (jalan) untuk mudah mengamalkannya. Abu Abdur Rahman Al-Sulamiy seorang tabi’in berkata: “Orang-orang yang mengajarkan Al-Quran kepada kami seperti Usman bin Affan, Ibnu Mas’ud dan lain-lain menceritakan kepada kami bahwa apabila mereka belajar kepada Nabi SAW sepuluh ayat, mereka tidak pindah kesepuluh ayat  berikutnya sebelum mempelajari ilmu dan beramal dengan sepuluh ayat yang pertama. Mereka mengatakan: Lalu kami belajar Al-Quran: ilmunya dan ‘amalnya sekalian. Oleh sebab itu mereka mengafal sesebuah surah dalam waktu yang lama. Dalam sebuah riwayat Abdullah bin Umar menghafal surah al-Baqarah beberapa tahun lamanya. Dalam riwayat yang lain mengatakan beliau menghafalnya dalam masa delapan tahun.

Abdullah bin Mas’ud berkata:

 Kami belajar (Al-Quran) kepada Nabi SAW sepuluh ayat. Kami tidak mengetahui sepuluh ayat berikutnya sebelum kami belajar beramal dengan kandungan sepuluh ayat yang pertama. (Abu Ja’faf al-Azdy, Syarh Musykil al-Atsar No. 1450)

Khatib  senior lecturer di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) dan sekarang menetap di Gampong Siem  Darussalam, Aceh Besar.