Gaya Hidup Halal

GEMA JUMAT, 15 NOVEMBER 2019

Oleh: Dr Tgk H Muhammad Yasir Yusuf, MA

Pernahkah anda merasa jengkel dengan kelakuan seseorang yang sudah jelas-jelas terbukti bersalah misal korupsi, pembunuhan serta bentuk kejahatan lainnya tapi wajahnya masih menunjukkan rasa tak bersalah dan tidak ada penyesalan sama sekali? Atau pada diri kita sendiri yang gelisah tanpa tahu apa sebabnya? Atau kita beribadah secara tekun tapi tak merasakan sama sekali manisnya ibadah tersebut—hati tetap terasa gersang? Atau terasa ada ego saat kita menerima nasihat? Hal-hal tersebut bisa jadi disebabkan oleh karena adanya barang atau makanan yang haram dalam tubuh seseorang atau diri kita. Dampak negatif ini disitir oleh Ibnu Taimiyyah Rahimahullah (dalam Majmu’ Fatawa 10/21), Allah mengharamkan makanan-makanan yang buruk lantaran mengandung unsur yang menimbulkan kerusakan, baik pada akal, akhlak maupun aspek lainnya. Keganjilan perilaku akan nampak pada orang-orang yang menghalalkan makanan dan minuman yang haram, sesuai dengan kadar kerusakan yang dikandung makanan tersebut.

Suatu hal yang pasti bahwa kehidupan yang diimpikan oleh seorang mukmin adalah kehidupan yang bahagia didunia dan bahagia diakhirat. Tolak ukur kebahagiaan di dunia yang akan menghantarkannya kepada kebahagiaan diakhirat bagi seorang mukmin adalah sejauh mana kehidupan dunianya diisi dengan amal ibadah dan amal kebajikan kepada Allah SWT. Salah satu bentuk penentu amal ibadah dan amal kebajikan seorang mukmin diterima Allah SWT adalah setiap makanan yang dikonsumsinya haruslah berasal dari harta yang halal. Hal ini diingatkan oleh Rasululllah SAW dalam sabdanya:

Artinya: “Barangsiapa mendapatkan harta dengan cara yang berdosa lalu dengannya ia menyambung silaturrahim atau bersedekah dengannya atau menginfakkannya di jalan Allah, ia lakukan itu semuanya maka ia akan dilemparkan dengan sebab itu ke neraka jahannam.”

(HR. Abu Dawud dalam kitab Al-Marasiil, lihat Shahih At-Targhib, 2/148 no. 1721)

  Merupakan sebuah peringatan keras serta ancaman yang berat bagi orang yang tidak mau memperdulikan darimana ia mendapatkan rezekinya, apakah halal atau haram. Benarlah yang disabdakan Rasulullah SAW :

 Artinya:“Akan datang kepada manusia suatu zaman, yaitu seseorang tidak lagi memperdulikan dari mana ia mengambil hartanya, apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram” (HR Bukhari no. 2083).

Orang yang tidak peduli dengan sumber penghasilannya bisa jadi karena memang dia tidak tahu atau mungkin juga dia sudah tahu tetapi tetap dilanggarnya dengan berbagai macam alasan, bahkan kemudian membuat rekayasa pembenaran. Orang pertama bias jadi lebih ringan dibandingkan dengan orang kedua, karena bisa jadi dia akan meninggalkan yang haram itu dan bertaubat jika dia mengetahuinya. Sedangkan orang kedua, gemerlapnya dunia telah mempedayainya sehingga dia tidak bisa mengendalikan dan menundukkan kerakusan nafsunya akan harta. Padahal Rasulullah SAW sudah mengingatkan agar muslim jangan sampai rakus dengan harta sehingga tidak peduli walaupun harta tersebut haram. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah  RA:

Artinya: “Celaka hamba dinar celaka hamba dirham celaka hamba pakaian celaka hamba perhiasan celaka dan tersungkur dan jika kena duri tidak bisa melepaskan (kalau kena musibah putus asa dan tidak mampu melepaskan darinya) kalau dikasih (duit) ridha kalau tidak dikasih murka (HR. Bukhari, no. 2886)

Jika hadits ini dipahami dengan baik, maka sesulit apapun keadaannya, seseorang muslim tidak akan mengatakan sebagaimana ungkapan banyak orang, “Jangankan yang halal yang haram juga susah” terlepas dari ungkapan ini adalah sebuah gurauan ataukah gambaran dari fakta.

Pentingnya hidup halal ini telah jauh-jauh hari telah diingatkan oleh Baginda Rasulullah SAW agar do’a-do’a kita bisa diijabah/diterima oleh Allah SWT, tidak sebaliknya yakni do’a kita ditolak-Nya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah Ra, bahwasanya Nabi SAW bersabda,

Artinya: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi SAW  menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Di dalam hadits mulia ini terdapat empat  pelajaran yang bisa kita ambil yakni:

Pertama : Di antara nama Allah SWT adalah Thayyib. Maksudnya, Allah memiliki sifat-sifat yang baik, suci dari segala kekurangan dan kejelekan. Allah Maha Baik pada Dzat-Nya, Maha Baik pada Sifat-sifat-Nya, Nama-nama-Nya, hukum-hukumNya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan dalam segala apa yang bersumber dari-Nya.

Kedua : Karena Allah Maha Baik, maka Dia tidak menerima kecuali sesuatu yang baik. Allah tidak menerima amalan-amalan yang tercampur dengan berbuatan syirik dan haram, karena amalan syirik dan haram bukanlah amalan yang baik

Ketiga : Para Rasul juga diperintahkan dan dilarang oleh Allah, sebagaimana pula kaum mukminin untuk tidak melakukan perbuatan yang haram, harus makan dan mencari yang baik dan halal. Rasulullah SAW menyebutkan, bahwasanya Allah memerintahkan kepada para Rasul dan juga kaum Mukminin untuk memakan makanan yang baik. Yaitu makanan yang dihalalkan oleh Allah. Dan dalam mencarinya juga dengan cara yang halal, bukan dengan cara-cara yang dimurkai Allah.

Keempat: Salah satu perbuatan yang menyebabkan tertolaknya amal shaleh adalah terlibat dengan pendapatan dari sumber yang haram, memakan makanan haram, memakai baju dari cara yang haram serta kenyeang dengan makanan yang haram.

Gaya hidup menurut kamus bahasa Indonesia adalah pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. Dari definisi ini menunjukkan bahwa gaya hidup menjelaskan bagaimana orang hidup, bekerja, pola tingkah lakunya, minat dan bagaimana membelanjakan uangnya, dan bagaimana mengalokasikan waktu. Gaya hidup mencerminkan keseluruhan pribadi seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya.

Adapun halal, Halal halāl, halaal adalah istilah bahasa Arab yang menurut Imam Abu Jakfar At Thabari dalam kitab tafsir Jami’ al Bayan fii Takwil al Qur’an juz I yang berarti “terlepas atau terbebas”. Menurut Syaikh Yusuf al Qaradawi dalam Kitabnya al Halal Wal Haram Fil Islam pengertian halal adalah sesuatu yang mubah (diperkenankan), yang terlepas dari ikatan larangan. Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa halal sesuatu yang diper- bolehkan oleh syariat untuk (i) dilakukan, (ii) digunakan, atau (iii) diusahakan, karena telah terurai tali atau ikatan yang mencegahnya atau unsur yang membahayakannya dengan disertai perhatian cara memperolehnya, bukan dengan hasil muamalah yang dilarang (Mukhtar Ali, Jurnal Konsep Makanan Halal dalam Tinjauan Syariah, tanpa tahun)

Dalam konteks pangan, makanan halal adalah makanan yang boleh dikomsumsi, diproduksi dan dikomersialkan. Bila kita perluas ruang lingkup halal dalam arti hal yang dibolehkan dan sah menurut hukum Islam maka, halal tak cuma menyangkut makanan dan minuman melainkan juga melampaui bahkan merefleksikan semua aspek dalam kehidupan kita.

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa gaya hidup halal adalah pola hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan atau aktivitas yang halal, minat dan pendapatnya dalam membelanjakan uangnya untuk makan, minum dan kesenangan lainnya secara halal dan bagaimana mengalokasikan waktu juga secara halal.

Mungkin di satu sisi bisa jadi harganya agak lebih mahal, jika menggunakan bahan halal. Dibandingkan misalnya dengan bahan dasar gelatin lemak babi. Dan ini memang sebuah ujian, di mana babi sangat mudah diternakkan, cepat, melimpah dan murah. Kepala Bidang Humas, Kerjasama, dan Pelayanan Pusat Kajian Produk Halal (PKPH) UNMA Banten Bpk Hadi Susilo, M.Si mengutip yang dikatakan oleh Richard Lutwyche, yang merupakan pengusaha pengelola peternak babi yang berpengalaman puluhan tahun di Inggris, yang juga Ketua Traditional Breeds Meat Marketing Company yang mengatakan, semua anggota badan babi bisa dimanfaatkan semuanya untuk lebih dari seratus produk sehari-hari. Pertanyaanya, apakah kita akan menggunakan produk haram hanya dikarenakan murah?

Kaum mulsimin, gaya hidup halal dalam hal konsumsi artinya melakukan proses konsumsi yang sesuai dengan prinsip konsumsi syariah. Prinsip tersebut jelas terdapat dalam ayat-ayat Al-Qu’an dan hadits nabi ataupun perilaku sahabat. Terdapat empat prinsip konsumsi dalam Islam yang dapat diterapkan dalam bergaya hidup halal:

Pertama, prinsip Syariah, Konsumsi bagi umat muslim tidak hanya bertujuan mendapatkan kepuasan melainkan berfungsi “Ibadah” dalam rangka untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Islam juga menjunjung tinggi kebersihan, maka dari itu dalam berkonsumsi harus memperhatikan kebersihan. Yang mana, harus bersih dari kotoran ataupun penyakit dan tentu harus menyehatkan sekaligus memiliki nilai manfaat tidak mengandung kemudharatan.

Kedua, prinsip Kuantitas, Sederhana, tidak bermewah-mewahan. Dalam berkonsumsi sudah seharusnya kita menghindari sifat seperti itu karena sifat tersebut jauh dari nilai-nilai syariah yang dapat merusak tatanan kehidupan umat muslim. Seperti sifat boros, ishraf dan mubazir. Dan ketika melakukan kegiatan konsumsi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan harta yang kita punya. Artinya harus diseimbangkan antara konsumsi dan pendapatan.

Keempat, prinsip Prioritas, Dalam konsumsi harus ada hal-hal yang menjadi prioritas, maka perlu adanya filter untuk memilih mana yang harus didahulukan dan lebih penting untuk dipenuhi. Namun juga perlu diingat bahwasanya dalam harta kita ada sebagian harta orang lain yang lebih membutuhkan.

Kelima, prinsip Moralitas, Perilaku konsumsi seorang muslim juga harus sesuai dengan adab dan etika yang telah disunahkan oleh Nabi Muhammad Saw. Yaitu, ketika mengonsumsi barang atau rezeki harus dengan cara yang baik dan halal, seperti halnya tidak mencela barang yang telah dikonsumsi. Karena etika dalam Islam akan membentuk pribadi-pribadi umat muslim yang tidak hanya puas secara konsumtifn namun juga menciptakan kepuasan kreatif yang dapat menghasilkan kepuasan produktif.

Kalau kita melihat sejarah Islam, banyak sekali potret orang-orang shalih terdahulu yang telah terbiasa hidup dengan gaya halal menjadikan diri mereka benar-benar berupaya maksimal dalam menjauhi harta atau makanan yang syubhat sekalipun apalagi tidak halal.  Diantaranya:

Pertama Dari ‘Aisyah Ra  bahwa ayah beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq Ra memiliki seorang budak yang setiap hari membayar setoran kepada Abu Bakar Ra (berupa harta atau makanan) dan beliau makan sehari-hari dari setoran tersebut.

Suatu hari, budak tersebut membawa sesuatu (makanan), maka Abu Bakar Ra memakannya. Lalu budak itu berkata kepada beliau: “Apakah anda mengetahui apa yang anda makan ini?”. Abu Bakar Ra balik bertanya: “Makanan ini (dari mana)?”. Budak itu menceritakan: “Dulu di jaman Jahiliyah, aku pernah melakukan praktek perdukunan untuk seseorang (yang datang kepadaku), padahal aku tidak bisa melakukannya, dan sungguh aku hanya menipu orang tersebut. Kemudian aku bertemu orang tersebut, lalu dia memberikan (hadiah) kepadaku makanan yang anda makan ini”. Setelah mendengar pengakuan budaknya itu Seketika itu, Abu Bakar langsung memasukkan jarinya dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Abu Bakar mengatakan,

Artinya: “Andaikan makanan itu tidak bisa keluar kecuali ruhku harus keluar (mati), aku akan tetap mengeluarkannya. Ya Allah, aku berlepas diri dari setiap yang masuk ke urat dan yang berada di lambung. (HR. Bukhari, 3554).

Sikap Abu Bakar dalam berhati-hati dalam masalah halal dan haram, mencerminkan ketakwaan seorang hamba. Karena dengan sifat ini, kebaikan agama seseorang akan selalu terjaga dengan izin Allah SWT. Rasulullah Saw bersabda:

Artinya: “Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang samar (belum jelas status halal atau haramnya) maka sungguh dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam hal-hal yang samar tersebut maka berarti dia telah terjerumus ke dalam perkara yang haram (dilarang dalam Islam)”. (HR. Muslim, no 1599)

Kedua: Suatu ketika Umar bin Khattab diberi minum susu dan beliau radhiyallahu ‘anhu begitu senang. Kemudian beliau bertanya kepada orang yang memberinya minum, “Dari manakah engkau mendapatkan susu ini?” Orang itu menjawab, ‘Aku berjalan melewati seekor onta sedekah, sementara mereka sedang berada dekat dengan sumber air. Lalu aku mengambil air susunya.’ Mendengar cerita orang itu, seketika itu pula Umar memasukkan jari ke mulutnya agar ia memuntahkan susu yang baru diminumnya.

Umar bin Khattab Ra benar-benarmemahami sabda Nabi Sawdari Khaulah al-Anshâriyah Ra bahwa Rasûlullâh Saw bersabda :

Artinya: “Sesungguhnya ada sebagian orang yang mengambil harta milik Allâh bukan dengan cara yang haq, sehingga mereka akan mendapatkan neraka pada hari Kiamat’ (HR. al-Bukhâri)

Ketiga: Kisah seorang wanita shalihah yang menasehati suami tercintanya dengan ucapannya, Wahai suamiku..

Artinya: “Jauhi olehmu penghasilan yang haram, karena kami mampu bersabar atas rasa lapar tapi kami tak mampu bersabar atas neraka.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah)

Begitulah sikap kehati-hatian orang-orang shalih dalam rangka menjaga agama mereka. Dalam rangka merealisasikan ketakwaan mereka serta menjauhkan diri-diri mereka dari perkara-perkara syubhat (yang tidak jelas) dan tidak halal.

Sikap-sikap mawas diri seperti inilah yang menjadi esensi dari Firman Allah SWT dalam ayat Al Qur’an yang khatib baca diawal khutbah tadi,

Artinya: “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah ke-pada-Nya.” (Q.S. An-Nahl ayat 114).

Dari sinilah mari kita sebagai Muslim yang cinta pada Allah SWT, yang cinta pada sunnah Rasulullah Saw dan cinta pada Islam memulai peduli terhadap konsumsi halal pada diri kita, keluarga kita dan masyarakat kita.

Jangan sampai kita beribadah seperti wudhu’, shalat, berzikir, puasa, haji, dll sementara ternyata kita masih menggunakan produk-produk yang ditengarai mengandung bahan dasar lemak babi. Bahkan barangkali produk sabun, shampoo, pasta dan sikat gigi serta minuman -makanan yang kita konsumsi pun tidak jelas kehalalannya.

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah pernah ditanya seseorang. “Apa yang bisa melembutkan hati, Wahai Abu Abdillah?” Sejenak Imam Hambal merenung, lalu menjawab, “Makanan halal”

Khatib Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Aceh dan Ketua Yayasan Wakaf Haroen Aly

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!