6 April 2020

Hakikat Beriman Kepada Hari Akhir

Tgk H. Gamal Akhyar Lc M. Sh

GEMA JUMAT, 31 JANUARI 2020

Tgk H. Gamal Akhyar Lc M. Sh

Berbicara tentang rukun Iman, mungkin ada diantara kita yang menganggap remeh, seakan-akan itu adalah pelajaran ketika kita masih kecil dan masih SD dan setelah kita melewati masa tersebut kita tidak pernah berjumpa lagi dan membahas lagi pelajaran tentang rukun Iman ini.

Padahal ketika kita membuka al-Quran dari awal hingga akhir, kita tidak pernah jauh dari rukunrukun iman tersebut. Berbicara tentang percaya kepada Allah, tatkala seorang mengenal TuhanNya, tatkala ia faham dan yakin bahwa Allah yang telah menciptakannya, tentu ia akan hidup dengan tenang dan tidak pernah takut dengan kehidupan dunia yang sementara ini.

Maka tatkala kita hendak tidur, kita baca akhir dari surat Al-Baqarah ayat 285; “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya dan rasulrasul-Nya “

Setiap hari kita baca, kita beriman kepada Allah, kita beriman kepada Para Malaikat-malaikat – Nya, kita beriman kepada kitabkitabnya sebagai aturan-aturan penting dan pedoman bagi hidup kita. Dan Allah mengutus Rasulrasul Nya sebagai penutupnya adalah Nabi Muhammad SAW. Dan rukun yang kelima adalah Iman kepada Hari Akhir.

Dan ketika kita membaca dan mengkaji tentang Iman kepada Hari akhir, tentu akan menambah ketaatan kita kepada Allah SWT. Dan kita semakin faham bahwa seluruh yang kita lihat dari keindahan dunia ini akan hancur lebur. Lalu kenapa kita hanya terpaku untuk membangun rumah kita di dunia dan kita melupakan untuk membangun rumah kita di akhirat.

Iman kepada hari akhir sering kali disandingkan antara “al- iman billah wal yaumil akhir”, dan kalimat tersebut diualang-ulang dalam Al-Quran sebanyak 19 kali. Diantaranya dalam surat al-Baqarah Allah berfirman: Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka
itu sesungguhnya bukan orangorang yang beriman.

Karena ada konsekuensi ketika kita beriman kepada Allah, ada tuntutan ketika kita beriman kepada Hari akhir. Faedah Beriman pada Hari Akhir Hikmah dan manfaat beriman kepada hari akhir, adalah agar manusia bisa benar-benar memaknai tujuan kehidupan di dunia, yakni beribadah kepada Allah SWT. Sebab, hari akhir merupakan waktu dimana kita mempertanggungjawakan segala sesuatu yang pernah kita lakukan di dunia. Sehingga secara garis besar, diantara faedah beriman kepada hari akhir adalah: Pertama, semakin menyadarkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara;

Kepercayaan seseorang terhadap hari akhir membuat hidup seseorang menjadi teratur, mereka akan berusaha selalu berperilaku baik dan menjauhi dosa. Mereka akan sadar dan yakin bahwa apapun yang di perbuat di dunia akan dipertanggungjawabkan dan mendapat balasan dari Allah Swt. Sebagai buah dari keimanan dan ketakwaan itu, seseorang yang meyakini akan hari akhir akan berusaha menghindari perbuatan dosa dan selalu berbuat baik. Karena menyadari bahwa perbuatan dosa hanya akan menghantarkan pada kesengsaraan, sedangkan perbuatan baik akan menghantarkan menuju kebahagiaan. Harus disadari untuk kehidupan akhirat seseorang harus membawa bekal yang cukup. Oleh karena itu, kepada kehidupan di akhirat akan mendorong kita untuk lebih bersemangat dalam berkarya sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak.

Kedua, Mendidik manusia untuk menjadi manusia yang cerdas ( al-Kayyis) Dengan kepercayaan kepada kehidupan akhirat akan mendidik manusia agar mempersiapkan yang terbaik bagi kehidupan masa depannya. Jika kehidupan masa depan di akhirat kita persiapkan dengan sebaik-baiknya maka secara otomatis kehidupan masa depan di dunia pun juga akan menjadi lebih baik, Adanya kehidupan setelah mati membuat manusia mempunyai tujuan hidup yang jelas. Maksudnya, semua hal yang dilakukan ketika hidup di dunia akan di balas setelah meninggal. Balasan yang di berikan oleh Allah Swt. Setimpal dengan amal perbuatan dengan perbuatan yang pernah dilakukan dalam kehidupan di dunia lalu.

Ketiga, untuk melakukan muhasabah terhadap amalan yang telah dilakukan Setiap perkara di dunia ini mempunyai sisi lahir dan bathin.

Kadang sebagian dari kita hanya memerhatikan aspek lahirnya saja, tidak dengan bathin. Seperti dalam sebuah kisah tanya jawab yang dilakukan beberapa orang pada Ahmad bin Hanbal tentang bagaimana yang dikatakan dengan orang buta. Beberapa orang bertanya dengan pertanyaan ini kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Berapa jumlah orang yang sholat? Beliau menjawab : hanya satu, Mereka bertanya : apakah Engkau buta? Beliau menjawab : Pertama, buta itu bagi orang yang bersujud kepada Allah SWT namun ia sombong terhadap hamba-hamba-Nya.

Kedua, buta itu bagi orang yang hanya bersedekah sehari padahal ia mampu untuk bersedekah setiap hari.Ketiga, buta itu bagi orang yang puasa dari makanan tapi ia tidak puasa dari yang diharamkan. Keempat, uta itu bagi orang yang sholat dan puasa kemudian menipu dalam jual belinya.

Kelima, buta itu bagi orang yang berdiri dihadapan ALLAH dan dalam hatinya masih menyimpan dendam, kebencian dan merendahkan kepada saudaranya seagama Islam. Keenam, buta itu bagi yang sholat namun ia tidak mendapatkan manfaat dengan sholatnya. Dan Allah berfirman: “Maka siapa yang di dunia buta maka di akhirat pun ia buta dan tersesat “.

Yaa ALLAH jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang buta yang mana usaha mereka sesat dalam kehidupan dunia akan tetapi mereka mengira telah berbuat baik. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan faedah dari beriman kepada Hari Akhir… Amin ya rabbal alamiin

Khatib Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Darussalam Banda Aceh