Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Yaumul Bidh Ke-2,
14 Muharam 1441

Saudaraku, tema muhasabah hari ini masih meneruskan tentang nasihat Ali bin Abu Thalib kepada anandanya Hasan. Wahai putraku! Sering-seringlah mengingat kematian dan memikirkan keadaan yang akan kaujumpai setelah itu, sehingga kematian akan mendatangimu kelak dalam keadaan dirimu telah siap menerimanya dan dirimu telah mengencangkan ikat pinggangmu untuk menemuinya. Jangan sampai kematian datang secara tiba-tiba sehingga membuatmu tersentak kebingungan.

Saudaraku, dalam kehidupan ini sebenarnya banyak sekali momen yang mengingatkan kita akan kematian, di antaranya yang lazim adalah:

Pertama, ingat mati saat kematian orang terdekat, yakni orang-orang yang ada di sekitar kita apakah orangtua atau guru atau anggota keluarga atau tetangga kita ternyata satu per satu berangkat pulang ke haribaan Ilahiy Rabbiy tanpa pernah ada yang balik ke rumah lagi.

Persoalan kapan, tempat, sebab, dan jalannya kematian dapat beragam; ada orangtua yang meninggal setelah didahului sakit sehingga keluarga dan anak cucunya sempat berkumpul serasa agak lega setelah turut takdhim merawatnya. Ada orang yang meninggal tiba-tiba saat shalat atau saat berpamitan tidur misalnya sehingga semua keluarganya tersentak, boro-boro merawatnya sampai tajziz mayitnya selesaipun ada yang tidak sempat mengikutinya. Ada orang yang meninggal di perantauan atau di perjalanan, sehingga keluarganya baru bisa menyelenggarakan tajziz mayit setelah menunggu sesampainya di kediaman rumahnya; sebelumnya saat berangkat dalam kondisi sehat wal afiat, tetapi pulang sampai rumah sudah jenazah, bahkan tidak dipanggil lahi dengan namanya, apalagi gelar akademiknya.

Kedua, ingat mati saat mendengar berita duka atas berpulangnya seseorang ke haribaan Ilahi rabbiy, apakah orang biasa atau orang luar biasa seperti para tokoh bangsa, atau para tokoh dunia. Kita sering mendengar pengumuman dukacita dari massmedia atau saat di desa dari tetua kampung melaui loudspeaker masjid atau meunasah. Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuhu, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, berita duka (nasional), atau layu-layu (jawa) telah berpulang ke rahmatullah orangtua/saudara fulan…

Ketiga, ingat mati saat bertakziah ke kediaman ahlu bait, baik saat kejadian langsung atau setelahnya yang sengaja diselenggarakan untuk itu. Saudara dan tetangga dekat bisa berkesempatan langsung bertakziah saat ada musibah kematian sehingga turut dalam penyelenggarasn takjiz mayit, tetapi handai tolan yang jauh atau yang sedang dalam kesibukan baru berkesempatan bertakziah setelahnya, maka ahlu bait lazim menyediakan waktu untuk bertakziah kepadanya.

Keempat, ingat mati saat diuji sakit. Saat diri kita diuji oleh Allah dengan sakit apalagi rada-rada berat, maka bayangan yang paling dekat secara manusiawi adalah kematian. Meskipun kita menyadari bahwa untuk mati tidak perlu syarat sakit terlebih dahulu, tetapi sakit menjadi prakondisi yang paling mudah untuk mengingat kematian. Kalau sudah sakit akut tidak bisa ingat mati, lalu kapan lagi?

Kelima, ingat mati saat mau tidur. Dalam iman Islam, saat mau beranjak tidur kita dituntun untuk berdoa bismikallahumma ahya wa amuut, dengan asmaMu ya Allah yang maha menghidupkan dan maha mematikan. Oleh karenanya di samping ingat hidup kita juga ingat mati. Coba, siapa yang dapat menjamin, setelah tidur, kemudian esok dini hari masih bisa bangun lagi?

Keenam, saat-saat kondisional dimana kesadaran ingat mati sengaja hadir atau dihadirkan, misalnya saat shalat, saat tilawah Qur’an terutama saat membaca ayat-ayat tentang akhirat, saat menunaikan ibadah haji saat wuquf di Arafah, atau saat-saat baik lainnya.

Saudaraku, mengapa kita mesti ingat mati? Tentu ada banyak alasannya. Di antaranya. Pertama, ingat mati agar sadar bahwa kita masih hidup. “Mengingat” itu kata kerja dan tentu dikerjakan oleh orang yang masih hidup. Jadi selama masih ingat mati, berarti kita masih hidup di dunia ini. Maka mengingat mati karena kita masih hidup dan agar kita lebih hidup. Oleh karena itu sembari mengulangingati mati, maka sejatinya kita berusaha merevitalisasi hidup dan kehidupan. Orang yang tidak ingat mati dikhawatirkan sejatinya ia sendiri (terutama hatinya) sudah tidak hidup lagi, meski masih bernafas atau berjalan ke sana sini.

Bila demikian, dengan ingat mati kita justru harus memahami hakikat hidup di sini. Dalam iman Islam, dinyatakan bahwa hidup di dunia ini sebagaimana halnya mati merupakan ujian iman. Dengan demikian meskipun berbeda, namun dua-duanya sama-sama sebagai ujian. Artinya, kita hidup di dunia sekarang ini dan mati setelahnya adalah ujian. Karena sebagai ujian, maka didoapintakan semoga kita semuanya lulus.

Saudaraku, saat tidur sejatinya kita menjalani “mati”, makanya ketika bangun tidur kita memajatkan rasa syukur kepada Allah yang telah menghidupkan kita kembali. Tidak seorangpun di antara kita juga manusia semuanya yang bisa memastikan kapan Allah akan tetap menahan dengan memanjangkan tidur buat selamanya atau membangunkannya kembali di keesokan harinya. Maka ketika bisa bangun tidur, berarti kita hidup lagi.

Saat masih dikaruniai hidup, maka kita menambahi bekal untuk akhirat kelak. Sementara saat mati merupakan masa istirahat yang seharusnya damai, tenang, dan menyenangkan. Saat kita hidup, bergerak atau bekerja memenuhi kebutuhan keluarga, tentu ada masa lelah dan capeknya. Ketika sudah capek beraktivitas, maka diri kita perlu istirahat. Dan sebaik-baik istirahat adalah tidur. Nah, logika ini kalau dilanjutkan maka sebaik-sebaik tidur adalah tidur yang tidak bangun-bangun lagi alias istirahat panjang sekali, selama-lamanya, alias mati. Oleh karenanya ketika mengantar jenazah ke kuburnya, kita sebut sebagai tempat peristirahatan terakhir. Suatu saat nanti kemudian akan dibangunkan kembali oleh Allah, insyaallah bersama kakek neneknya, ayah-ibunya, istri atau suaminya, anak-anak buyutnya dan keluarga yang seiman setakwa diarak laksana pawai menuju ke surgaNya Allah ta’ala.

Allah berfirman yang artinya, Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik) (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.(Qs. Al-Ra’du 22-24)

Kedua, ingat mati agar kita menjadi lebih rendah hati jauh dari sifat sombong. Mengapa? Ketika lahir, kita diazankan atau diiqamatkan atau dibacakan doa-doa oleh keluarga dan saat meninggal dunia kita dishalatkan oleh keluarga juga sesama. Artinya, hidup di dunia ini hanya di antara azan dan shalat saja, apa masih sempat berlaku sombong?

Ketika lahir, kita disambut lalu dibedong atau dibalut dengan kain popok dan saat mati nanti juga diikhlaskan lalu dibedong atau dibalut dengan kain kafan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hidup di dunia ini hanya di antara saat dipopoki dan dikafani saja. Apanya yang dosombongkan? Apakah karena kain popok atau kain kafannya mahal?

Ketika lahir, kita disambut dengan gembira tawa bahagia oleh orang-orang di sekitar kita, saat mati kita akan diantar ke kubur dengan sedih dan tangisan keluarga juga sesamanya.

Saat dikaruniai hidup, lazimnya kita menegakkan shalat di belakang imam, maka suatu saat nanti ketika mati, kita dishalatkan dengan cara ditempatkan di depan imam.

Ketiga, ingat mati agar bersemangat ibadah dengan ikhlas dan lebih hati-hati. Karena hanya dengan ibadah ini, kita bisa mengumpulkan pundi-pundi pahala sebagai bekal pulang ke haribaan Allah ta’ala. Pantang pulang tanpa bekal.

Oleh karenanya, ketika kita berhasil sering mengingat mati, maka sudah sewajarnya kita mensyukurinya, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan yang nyata.

Pertama, mensyukuri kesadaran ingat mati di hati yakni meyakini bahwa mati itu pasti, maka tidak perlu ditakuti tetapi disambut dengan kesiapan diri.

Kedua, mensyukuri kesadaran ingat mati di lisan dengan memperbanyak melafalkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Dengan terus memujiNya, semoga Allah mengaruniai kita hati tawadhuk terhadap ketentuanNya.

Ketiga, mensyukuri kesadaran ingat mati dengan perbuatan konkret, yaitu selagi masih hidup, kita menyiapkan bekal takwa terbaik untuk menghadapi kematian.

Maka sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Muhyi wa Mumiitu, … dan seterusnya. Ya Allah, zat yang maha hidup menghidupkan, zat yang maha mematikan, bimbing kami meraih ridhaMu ya Rabb.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!