27 Maret 2020

Keamanan Syarat Kemajuan Bangsa

dr ahm,ad husen

GEMA JUMAT, 27 MARET 2020

Persoalan keislaman dan keimanan ini bukanlah fenomena baru, melainkan suatu keadaan yang sudah berlaku sejak zaman Rasulullah saw masih hidup. Mari kita simak bagaimana penuturan al-Qur’an tentang pengakuan beriman dari kaum Arab Badui berikut : “Orang-orang Arab Badui itu berkata:

“Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S.alHujurat(49):14).

Ayat ini telah memberi pelajaran penting bagi kita, bahwa menjadi seorang Muslim tidaklah sempurna, bila tidak dengan keimanan yang benar dari lubuk hati paling dalam. Iman hubungannya dengan hati, tersembunyi dan tidak kelihatan dengan mata telanjang. Seorang Mukmin pun dituntut untuk menunjukkan keislamannya melalui prilaku, akhlak dan norma kehidupan yang dilakukannya setiap saat. Artinya, menjadi seorang Muslim yang Mukmin atau Mukmin yang Muslim adalah sosok pribadi sempurna lahir bathin, memperlihatkan karakter pribadi yang menggambarkan dirinya sebagai seorang Mukmin sekaligus sebagai Muslim atau sebaliknya.

Beriman bukanlah sekedar pengakuan lisan atau statement komunitas, berupa pengakuan lahiriah, tetapi lebih pada pengakuan batiniah bersumber dari hati (qalbu). Iman seperti ini memiliki kekuatan maha dahsyat untuk mampu menggerakkan anggota tubuh manusia untuk berbuat amal-amal yang saleh, perbuatanperbuatan terpuji yang akan menggambarkan pribadi beriman sekaligus Muslim. Itulah akhlakul karimah sebagai buah keimanan dan keislaman.

Selain daripada itu, iman bukanlah harta benda yang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya secara turun temurun. Keimanan membutuhkan proses penanaman, pemupukan, perawatan dan pengawasan, laksana bibit tumbuhan yang ditanam untuk menggantikan pohon utamanya. Hasilnya, terkadang pohon baru bisa lebih subur dan lebih banyak buahnya, atau sebaliknya, pohon yang diharap sebagai generasi penerus, kandas di tengah jalan bahkan tak jarang mati sebelum menghasilkan buah.

Secara harfi ah kata iman dan aman berasal dari huruf suku kata yang sama yaitu: alif, mim dan nun. Al-Qur’an sendiri pernah menggandengkan dua suku kata ini dalam satu ayat, misalnya:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah orangorang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orangorang yang mendapat petunjuk. (Q.S.al-An’am(6):82).

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa antara keamanan dan keimanan seseorang terdapat korelasi dan ikatan yang sangat erat. Keamanan akan semakin kuat dengan kuatnya iman; dan sebaliknya keamanan akan semakin melemah seiring dengan melemahnya iman. Iman dan keamanan merupakan dua sejoli yang selalu beriring sejalan. Keduanya tidak bisa dipi sahkan satu sama lain. Setiap kali iman menguat, maka keamanan pun akan menguat. Keamanan bukanlah sekedar aman lahiriah saja, melainkan amannya orang beriman adalah aman lahir bathin, atau aman yang hakiki.

Mari kita lihat korelasi iman dan aman menurut penuturan alQur’an, diantaranya: Pertama, orang beriman peduli dan mampu menjaga diri pribadinya, dan itulah salah satu yang membedakan dirinya dengan orang yang tidak beriman, fi rman Allah: Arinya : “Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman. (Q.S.al-An’am(6);12).

Makna yang tergambar dari ayat ini adalah bahwa orang beriman adalah sosok yang terbina mentalnya secara baik, mampu membedakan mana yang baik dan mana pula yang buruk, baik untuk dirinya maupun untuk masyarakatnya. Ia tidak egois yang hanya mementingkan dirinya saja, melainkan ia peka terhadap lingkungannya, karena ia sadar bahwa dirinya adalah juga seorang Muslim yang mampu menebarkan nilai-nilai keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian hidup bagi masyarakat bangsa dan negaranya.

Kedua, selalu berorientasi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi orang lain. Orang beriman tidak akan mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman. Artinya; mereka terhindar dari berbagai perbuatan keji seperti mengkhianati amanah yang diberikan kepadanya, tidak akan melakukan curang, korupsi, berdusta dan bohong serta perbuatan tercela lainnya. Bahkan mereka cenderung untuk terus berinovasi untuk lebih baik. Allah swt berfirman:

Artinya : “Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S.alAn’am(6):48).

Betapa Allâh Azza wa Jalla telah menghilangkan rasa takut orang-orang beriman, sebagai buah dari keimanan mereka dan usaha inovasi dan perbaikan yang mereka lakukan. Justru karena itu, bila keimanan seorang hamba semakin kuat dan menanjak, maka akan menguat pula bagian keamanan yang ia raih, sesuai dengan kadar kuatnya iman yang ada padanya. Bukankah Allâh Swt , Dialah yang memberikan rasa aman kepada orang yang merasa takut, dan memberi perlindungan kepada orang yang meminta perlindungan kepada-Nya. Dan Allâh pula yang memberi penjagaan kepada para hamba-Nya; yakni dengan memberikan bantuan dan pertolongan, taufi q serta kemenangan dari-Nya; La haula wa la quwwata illa billah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *