10 April 2020

Kedudukan Isa Almasih dalam Al Quran

H Abrar Zym

GEMA JUMAT, 10 APRIL 2020

Al Quranul karim adalah Kitab suci yang sempurna lagi mulia, merupakan Kalamullah yang diturunkan langsung oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, melalui perantaraan malikat Jibril. Al Quran sendiri menjelaskan bahwa ; isi dari Al Quran adalah petunjuk bagi manusia. Al Quran juga menjelaskan tentang Aqidah, Ibadah, Muamalah, menekankan pentingnya moral, menjelaskan tentang hokum hukum dan juga berisi cerita mengenai kisah kisah bersejarah.

Di dalam Al Quran dikisahkan (Q.S. 3 : 45-47), kelahiran Isa Al Masih terjadi dengan ajaib, beliau lahir tanpa ayah biologis atas kekuasaan Tuhan. Ibunya yang bernama Maryam binti Imran, adalah dari golongan mereka yang suci, dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Sungguh, ini merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Swt, sebagaimana firmanNYA :

Artinya : “Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya sebagai tanda (kekuasaan kami), dan Kami lindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padangpadang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (Q.S. AlMu’minun: 50)

Di dalam Alquran, Allah Swt menjelaskan kedudukan Nabi Isa ‘as yang sesungguhnya, bahwa beliau adalah salah satu hamba terbaik pilihan Allah dan juga utusan-Nya, yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia di sisi-Nya.

Isa al Masih memiliki beberapa mukjizat atas kekuasaan Tuhan. Di samping kelahirannya, Ia mampu berbicara saat masih bayi, ia berbicara dan membela Ibunya dari tuduhan perzinaan. Dalam Qur’an juga diceritakan mukjizatnya saat Ia menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan kebutaan dan penyakit lepra.

Isa al Masih bukanlah sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Yahudi yang mengatakan beliau adalah anak zina. Bukan pula seperti orang-orang Nasrani yang menganggap bahwa beliau adalah Tuhan atau anak Tuhan,

Maha benar Allah dengan firman-Nya : Artinya : “Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat kepadanya dan Kami jadikan Dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail.” (QS. Az-Zukhruf: 59).

Islam harus meyakini Kenabian Is Al Masih binti Maryam ini, bahwa beliau adalah seorang Rasul, Allah Swt berfi rman : Artinya : “Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya adalah seorang shiddiqah, kedua duanya senantiasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka ayat ayat Kami, kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling.”(QS. Al Maidah : 75) Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah; ayat ini menjelaskan hakikat Isa dan ibu beliau, sekaligus membuktikan kemustahilan keduanya menjadi Tuhan atau bagian dari Tuhan.

Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul bukan Tuhan, tetapi pesuruh-Nya, sebagaimana pesuruh pesuruh Allah yang lain, yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, diapun akan berlalu dan mati, sehingga bagaimana dia dianggap Tuhan ? Dan ibunya seorang shiddiqah yang sangat benar dalam niat, ucapan dan perilakunya, serta seorang yang sangat memebenarkan dan mempercayai ayat ayat Allah. Kendati demikian, dia (Maryam) dan anaknya (Isa) tidak wajar dipertuhankan, karena kedua duanya senantiasa memakan makanan, kedua duanya membutuhkan makanan, dan yang butuh kepada sesuatu pastilah bukan Tuhan. Di dalam ayat lain, QS.An-Nisaa’ ayat 171 Allah Swt berfi rman : Artinya : “Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah, dan kalimat-Nya yang disampaikanNya kepada Maryam, dan ruh dariNya.” (Q.S. An-Nisaa’: 171).

Ayat ini menegaskan; tidak dapat dipungkiri bahwa Al Masih Ibnu Maryam adalah Rasul, kerasulan beliau yang pada prinspnya tidak berbeda dengan rasul rasul Allah yang lain, yakni manusia pilihan Allah Swt, yang ditugaskan menyampaikan ajaran Ilahi kepada manusia. Ayat ini sudah cukup menunjukkan bahwa al Masih bukan Tuhan, tetapi pesuruh Allah yang tentu saja tidak sama dengan Yang Menyuruh yaitu Allah Swt Tuhan yang Maha Esa.

Tentu isi khutbah ini tidaklah bermaksud menista suatu agama, akan tetapi selaku umat islam, kita harus memperkokoh aqidah, memantapkan keyakinan ; bahwa menurut al Quran, Isa al Masih bukanlah Tuhan, dan bagi umat Islam yang meyakini bahwa Isa al Masih adalah Tuhan atau anak Tuhan, atau siapa yang meyakini bahwa Tuhan itu lebih dari satu atau mengakui bahwa Tuhan itu punya anak, maka orang itu kafir. Allah Swt berfirman : Artinya :

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orangorang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al Maidah :72)

Artinya : “Sesungguhnya kafi rlah orang orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.”(QS. Al Maidah : 73)

Islam dengan jelas mengajarkan kepada kita bahwa Allah itu satu (QS. Al-Ihklas : 1-4) : (1).Katakanlah (Muhammad) dialah Allah Yang Maha Esa, (2).Allah tempat meminta segala sesuatu, (3). Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, (4). Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.

Tidak boleh Aqidah Islam dicampur aduk dengan aqidah agama lain, Allah melarang kita umat islam mencampur adukkan antara kebenaran dengan kabatilan (QS. 2 : 42), dan dengan tegas Allah sampaikan di dalam Al-Quran Surat al Kafi run ayat 1-6 :

“(1).Katakanlah (Muhammad), Wahai orang orang kafir ! (2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, (3).Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, (4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, (5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah, (6).Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

Umat Islam boleh bergaul dengan umat lain dalam masalah dunia (QS.49 : 13), dengan tetap menjaga dan menerapkan social distancing di tengah-tengah mewabahnya pandemi COVID-19, kita dianjurkan untuk menghormati agama dan kepercayaan masing masing. Menjaga kerukunan umat beragama untuk saling menghormati, menghargai, sambil terus meningkatkan semangat toleransi dalam kehidupan antar umat beragama; Terciptanya rasa aman dan damai bagi semua pemeluk agama; Terpeliharanya kehidupan yang rukun dan harmonis antar umat beragama”. Khatib adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *