MENELADANI KEPRIBADIAN MUHAMMAD SAW

GEMA JUMAT, 22 NOVEMBER 2019

DR. H. AGUSTIN HANAFI, LC, MA.

Saat ini anak-anak kita sedang mengalami krisis keteladanan. Tidak sedikit dari mereka mengagumi dan mengidolakan publik figur yang sering mereka lihat di televisi, dengan meniru gaya berpakaian, rambut dan tutur katanya. Tetapi  tidak sedikit diantara mereka mempertontonkan sikap amoral, gaya hidup mewah dan boros, terjebak dunia narkoba dan  pergaulan bebas sehingga membuat fans begitu kecewa sehingga anak kita kehilangan arah dan bingung siapa yang harus dijadikan panutan hidup. Ini disebabkan karena sejak dini hingga dewasa, mereka tidak mengenal atau dikenalkan secara intens siapa sosok yang seharusnya mereka teladani dan idolakan.

Muhammad saw sosok manusia agung, ketinggian nama beliau tidak saja dibuktikan melalui ayat-ayat Alquran dan Hadits, tetapi juga melalui pembuktian logis dan ilmiah, dan melalui pandangan para ahli yang tidak menggunakan tolok ukur agama. Annie Besant dalam The Life and Teachings of Muhammad, menggambarkan “Mustahil bagi siapa pun yang mempelajari kehidupan dan karakter Muhammad saw hanya memunyai perasaan hormat saja terhadap Nabi mulia itu, ia akan melampauinya sehingga meyakini bahwa beliau adalah salah seorang nabi terbesar dari sang Pencipta. Bahkan Michael Hart dengan sangat objektif menempatkan Muhammad saw di peringkat pertama dari 100 tokoh yang paling berpengaruh sepanjang masa.

Hidup Sederhana

Muhammad saw hidupnya begitu sederhana, tidak bermewah-mewah, tidak bermegah-megah, dan  menumpuk harta. Dalam rumah beliau tidak ada pemandangan yang mencolok dan istimewa, tetapi hanya sebuah tikar hampar, alas tidur yang terbentang bersih dan rapi, dan beberapa bejana yang sangat sederhana bahkan nyaris tak ada harganya jika dijual. Berbeda sekali dengan sebagian orang dewasa ini yang cenderung hidup hedone suka mengikuti trend dan gaya hidup modern, tak jarang publik figur memamerkan perhiasan ber-merk milikinya yang bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah dengan sengaja. Hal itu membuat iri banyak orang hingga berkeinginan hidup sesuai standar zaman. Generasi millenial yang tidak memiliki dasar pengetahuan agama yang kuat, akan mudah meniru sikap hedone tersebut, seolah-olah ia adalah tuntunan yang harus dikuti. Akibatnya, jika tak mampu memenuhi hasratnya maka berbagai cara akan ditempuhnya temasuk menggadaikan kehormatan dan harga dirinya sebagaimana kasus terbaru oknum mahasiswi ditemukan di sebuah hotel dengan pria yang bukan mahrahmnya, karena tergiur dengan materi dan ingin mengikuti gaya hidup hedone  sehingga ia rela kehilangan masa depannya.

 Meskipun Rasulullah hidupnya sederhana, bukan berarti menganjurkan umatnya untuk hidup miskin sebagaimana pemahaman sebagian orang. Tetapi sebaliknya, menyuruh umatnya untuk selalu bekerja keras dan cerdas, berusaha dengan ulet dan tekun untuk mendapatkan rizki yang halal sebanyak-banyaknya sehingga mampu mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji, bersedekah, dan lain-lain, yang merupakan pilar-pilar agama. Bahkan beliau sendiri tidak suka kepada pengemis sebagaimana dipahami dari sabda-Nya: “Bahwa tangan di atas lebih baik dan lebih mulia dari tangan di bawah”.

Patut Diteladani

Rasulullah memiliki kepribadian yang sungguh menyenangkan, meninggalkan tiga hal yaitu, riya, boros, dan sesuatu yang tidak berguna.  Beliau juga selalu mengucapkan salam, juga santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapapun, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, lemah lembut dan sopan bahkan kepada seorang pembantu sekalipun tidak pernah berkata kasar, tidak pernah mengatakan kenapa engkau tidak melakukan ini, atau mengapa engkau lakukan ini. Tidak pernah mencela apapun yang dilakukan pembantunya, duduk makan bersamanya, memberi makan seperti yang ia makan dan memberi pakaian seperti yang ia pakai. Tidak membebani pembantunya melebihi kemampuan, bahkan berusaha membantunya apabila mereka memiliki  beban lebih.

. “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada isterinya”. Beliau tak pernah menunjukkan kebencian kepada isteri-isterinya. Tak pernah terdengar berkata menyakitkan dan merendahkan walaupun kasalahan isterinya sangat fatal sekalipun yang bisa dijadikan alasan untuk menceraikannya, tetapi beliau tidak melakukannya, beliau hanya bergumam “Bahwa perbuatan seperti ini sama sekali tidak terpuji”, di lain waktu apabila suasana telah kondusif, beliau menasehatinya dengan lembut dan santun. Muhammad saw tidak pernah memukul isterinya, bahkan beliau melarang secara tegas sebagaimana sabdanya “Apakah kamu tidak malu memukul isterimu? Siang kamu pukuli, dan malamnya kamu kumpuli”.

Kemudian sosok baginda Rasulullah, jika disuguhi makanan, beliau bersyukur tanpa pernah mencela makanan sama sekali. Beliau seorang suami yang romantis, kadang beliau minta disisirkan, kadang isterinya sendiri yang berinisiatif menyisirkan rambut beliau. Memanggil Aisyah dengan “Humayra” (cantik putih kemerah-merahan seperti bunga), bahkan mengajaknya lomba lari. Maka istri masa kini tak perlu baper dengan menonton drama Korea karena apa yang telah dipraktekkan Rasulullah tak sebanding dengan drama dan sandiwara itu. Beliau sangat perhatian kepada isterinya, saat isterinya sedih atau gelisah, beliau turut berbagi. Beliau ringankan bebannya dan mengarahkannya kepada yang positif. Begitulah secuil gambaran kepribadian Muhammad saw. Mari kita meniru dan meneladani sikap beliau yang demikian terpuji itu, serta menjadikannya sebagai idola, bukan mengidolakan yang sering tampil di layar kaca yang suka memamerkan gaya hidup mewah dan pergaulan bebas. Wallahu A`lam!

Khatib Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, dan Anggota IKAT-Aceh

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!