17 April 2020

Menyongsong Bulan Ramadhan

Dr. Tgk. Amir Khalis

GEMA JUMAT, 17 APRIL 2020

Oleh Dr. Amir Khalis, Ketua Mahkamah Syar’iyah Sabang

Bulan Ramadhan merupakan musim untuk meningkatkan ketaatan dan mencapai kemenangan, yang tingkatannya berbeda-berbeda antara satu hamba Allah dengan yang lainnya. Ia adalah bulan untuk mencapai kebaikan dan kemuliaan, pada tingkat yang lebih tinggi serta sebagai pendekatan kepada tuhan pemilik bumi dan langit. Selamat datang Ramadhan, bulan untuk selalu bersama Al-Qur’an, yang merupakan kalam ar-Rahman (Allah). Melalui Ramadhan, kita diharapkan seperti malaikat, yang mampu berpuasa atau menahan diri dari semua keinginan hawa nafsu yang ada pada manusia. Dengan harapan, agar nanti di akhirat kelak, kita bisa berada di samping Rasulullah. Selamat datang Ramadhan. Engkau adalah tamu yang sangat istimewa dan penghulu dari semua bulan.

Ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan, Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabat, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Abu Ubadah bin Shamit, yang berbunyi: ”Telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah dan bulan yang penuh kebaikan, yang dengannya Allah menutupi keburukanmu. Kemudian, Allah menurunkan rahmatnya, menghapuskan kesalahan-kesalahanmu, mengabulkan do’a-do’amu dan melihat kesungguhan-kesungguhan hambanya yang saling berlomba–lomba dalam kebaikan, sambil membanggakannya, serta memperlihatkan kebaikan yang ada pada dirimu kepada para malaikat. Sedangkan orang yang celaka adalah orang jahat yang diharamkan atasnya rahmat Allah pada bulan Ramadhan.”

Abdul Aziz Rajab, dalam sebuah tulisan berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, mengatakan bahwa Rasulullah ketika datang bulan Ramadhan bersiap-siap untuk Allah, bukan dengan persiapan makanan dan minuman, serta bukan dengan pakaian yang indah. Tetapi, persiapan yang dilakukan oleh Rasulullah adalah melalui ketaatan dan dengan memperbanyak ibadah serta dengan menumbuhkan sifat dermawan dan kemurahan hati. Rasulullah SAW, ketika bersama Allah adalah hamba yang taat dan ketika bersama masyarakat adalah hamba yang lapar dalam arti merasakan kesusahan dan kepedihan sebagaimana yang dirasakan oleh orang yang tidak mampu, serta ketika bersama dengan saudara dan tetangganya. Rasulullah adalah hamba yang baik dan dermawan.

Selain itu, Rasulullah SAW, menyambut Ramadhan dengan cara memperbanyak puasa, khususnya, dibulan Sya’ban, sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Aisyah, yang berbunyi:

Artinya: “Tidak pernah aku melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh, kecuali bulan Ramadhan dan tidak pernah aku melihat Rasulullah banyak berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban”.

Praktik kebaikan Rasulullah yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari, diungkapkan oleh Abdullah Ibn Abbas, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, mengatakan bahwa “Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi ketika datangnya bulan Ramadhan, yang juga merupakan bulan bertemunya Rasulullah dengan Jibril. Karena, Rasulullah SAW, setiap malam Ramadhan berjumpa dengan Jibril. Kemurahan hati Rasulullah lebih cepat dibandingkan dengan angin yang bertiup”.

Demikian juga para sahabat dan para ulama pada masa yang lalu telah mengikuti sifat Rasulullah SAW dalam menghadapi bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan bagi mereka ibarat musim atau kesempatan untuk mendidik jiwa, agar dapat menghirup bau surga dan meyakini bahwa iman orang-orang mukmin akan naik ke langit yang sangat tinggi serta sujud atau shalat orang-orang mukmin akan naik ke langit melewati kepala-kepala orang-orang yang dhalim atau jahat.

Abdul Aziz Rajab menceritakan, bahwa dalam suatu riwayat disebutkan seorang tuan menjual seorang budak dan budak tersebut memperhatikan kebiasaan mereka disaat menjelang Ramadhan yaitu mempersiapkan diri dengan berbagai macam makanan. Kemudian budak tersebut bertanya, apa alasan mereka melakukan hal tersebut? Kaum tersebut menjawab, ”Kami bersiap diri untuk menyambut Ramadhan.” Budak tersebut berkata:, ”Kamu hanya berpuasa pada bulan Ramadhan sedangkan aku setiap waktu adalah Ramadhan”, oleh karena itu, kembalikan aku kepada kaumku.

Pernyataan budak tersebut, memberi pelajaran kepada kita bahwa budak itu tidak setuju dengan cara kaum tuannya yang baru mempersiapkan diri mereka untuk menyambut bulan puasa dengan bersenang-senang dengan makanan dan daging, sedangkan masih ada sebagian lain yang masih merasakan kelaparan, yang kelaparan itu, tidak hanya bulan Ramadhan, tapi setiap saat dan waktu mereka rasakan. Maka, budak tersebut tidak mau dijual, ia lebih senang berada dalam kaum tuan yang sebelumnya, dimana ia selalu bisa merasakan kepedihan dan kelaparan sebagaimana yang dirasakan oleh sebagian yang lain.

Perasaan dan cara budak ini membuat pernyataan, telah mengajarkan kita semua bahwa persiapan Ramadhan bukan dengan makanan dan minuman, tapi Ramadhan, adalah jalan untuk meningkatkan iman kepada Allah dengan ketaatan beribadah, juga untuk merasakan kelaparan dan kepedihan yang masih dirasakan oleh kaum fakir dan miskin, yang kemudian sering disebut dengan istilah ibadah sosial.

Dari beberapa penjelasan di atas, termasuk pendapat Ibnu Abbas, ada dua hal yang dapat disimpulkan. Pertama, persiapan Rasulullah SAW ketika menjelang Ramadhan adalah meningkatkan imannya kepada Allah dengan menjalankan ibadah sekuat tenaga dan kedua berbuat baik dengan manusia. Semua ibadah mempunyai dua tujuan yaitu untuk meningkatkan hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.

Setiap ibadah yang dilakukan oleh hamba Allah, selalu dimulai dengan bersandarkan kepada iman yang kuat, dalam arti, ketika seseorang melaksanakan ibadah seperti puasa, ia harus meyakini bahwa apa yang ia lakukan itu adalah perintah Allah dan diawasi, serta nanti Allah akan membalasnya di hari akhirat nanti. Oleh karena itu, Allah mewajibkan puasa hanya bagi orang yang beriman, bukan yang tidak beriman. Karena, tidak semua orang mampu memenuhi perintah Allah untuk melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan, kecuali orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah, ayat 183 yang berbunyi:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.

Selain itu, ibadah puasa seseorang akan bernilai di mata Allah, bila dikaitkan dengan iman. Begitu besarnya pengaruh iman dalam menjalankan perintah Allah atau beribadah, Rasulullah SAW menjelaskan kepada para sahabat berkaitan dengan ayat tiga surat Al-Baqarah tentang apa yang dimaksud dengan beriman kepada yang ghaib? Ketika salah seorang sahabat bernama Abi Jum’ah bertanya kepada Rasulullah yang kemudian dinukilkan kembali oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Hajar al-Asqalani dalam tafsirnya, yang berbunyi:

Artinya: “Ya Rasulullah, apakah ada orang yang lebih baik dari kami, dimana kami masuk Islam bersamamu dan berjihad juga bersamamu. Kata Rasulullah, ada, yaitu kaum setelah kalian, mereka beriman kepadaku tanpa melihat aku”.

Para sahabat termasuk didalamnya Muaz bin Jabal, suatu hari, bersama mereka juga ada Abi Jum’ah, yang bertanya kepada Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir yang dinukilkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya:

Artinya: “Ya Rasulullah, apakah ada kaum yang lebih besar pahalanya dari kami? Dimana kami beriman kepadamu dan mengikuti perintahmu. Rasulullah SAW berkata: Tidak ada yang menghalangi kalian kepada tingkatan itu. Karena, Rasulullah ada dihadapan kalian dan kalian langsung mendapatkan wahyu dari langit sedangkan kaum setelah kalian, mereka mendapatkan kitab (wahyu) dengan dua tahap, yaitu: mereka beriman kepadanya dan kemudian mereka mengamalkannya”, oleh karena itu, mereka lebih besar pahalanya dua kali lipat daripada kalian.

Demikian juga Amr Ibnu Syuaib, berkata: Rasulullah SAW, bersabda sebagaimana dinukilkan kembali oleh Ibnu Katsir, yang berbunyi :

Artinya: Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat: “Siapa menurut kalian makhluk Allah, yang paling kuat imannya?, para sahabat menjawab: para malaikat: Rasulullah berkata: “bagaimana mereka tidak beriman, wajar mereka beriman, karena mereka selalu bersama Allah. Kemudian, para sahabat menjawab para nabi: bagaimana mereka tidak beriman, sedangkan mereka selalu menerima wahyu dari Allah. Para sahabat menjawab kembali: kalau demikian, kami (sahabatmu), ya Rasulullah: Bagaimana kalian tidak beriman, kalian selalu bersamaku. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Makhluk Allah yang paling membuatku heran tentang imannya adalah kaum setelah kalian. Dimana mereka hanya mendapatkan kitab yang didalamnya ada tulisan, kemudian mereka mau beriman terhadap isi-isi kitab tersebut.

Puasa yang akan kita jalankan beberapa hari lagi adalah sangat tinggi nilainya, bila dilakukan atas dasar iman yang kuat, bahkan Rasulullah mengatakan bisa lebih dari para sahabat. Walaupun pernyataan itu, menurut Ibnu Katsir, bukan mutlak. Tetapi, perumpamaan tersebut di atas, menunjukkan bahwa begitu tingginya nilai ibadah atau puasa ummat Muhammad. Karena dilakukan atas perintah yang ghaib, dimana ummatnya, tidak pernah melihat yang memerintahkan atau yang menyampaikan perintahnya, serta hanya mendapatkan pesan dari sebuah kitab suci yaitu Al-Qur’an, kemudian disampaikan oleh orang yang tidak sebanding dengan Rasulullah, tetapi, mereka percaya dan mengamalkannya. Pada kondisi demikianlah, ibadah atau puasa, bernilai sangat tinggi di mata Allah, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Hal ini juga sesuai dengan hadist Rasulullah SAW, yang diriwayatkan oleh Bukhari, yaitu:

Artinya: Barang siapa yang berpuasa karena iman dan penuh keikhlasan, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.

Kedua, tujuan berpuasa adalah menjaga hubungan baik sesama manusia. Rasulullah selalu menjaga hubungan baik dengan yang lainnya. Bahkan, saking tingginya nilai hubungan sesama manusia, Rasulullah mengatakan bahwa diterima dan tidaknya puasa seseorang, sangat tergantung sejauh mana hubungan baik seseorang dengan yang lainnya. Hal ini, sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, yang dinukilkan kembali oleh Yusuf Qardhawi, dalam kitabnya, al-Halalu wa al-Haramu, yang berbunyi:

Artinya: Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, Allah SWT, akan mengampuni setiap hamba Allah yang tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah (syirik), kecuali, orang yang terlibat permusuhan dengan saudaranya. Maka Allah berfirman, “Tangguhkanlah kedua orang ini, hingga mereka berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini, hingga mereka berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini, hingga mereka berdamai”.

Hadist di atas menjelaskan kepada kita, bahwa surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, maka disunnahkan untuk berpuasa sunat pada kedua hari tersebut. Jika puasa sunat saja, Allah tangguhkan pahalanya bagi mereka yang saling bermusuhan, bagaimana dengan puasa Ramadhan?, tentu lebih utama untuk ditangguhkan. Oleh karena itu, wahai kaum muslimin, sebelum datangnya bulan Ramadhan, mari kita saling meminta dan memaafkan orang lain, agar Allah menerima Ramadhan yang akan kita jalani bersama, sehingga, kita dapat menjadi orang-orang yang bertaqwa. Di antara salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang menahan amarah dan memaafkan orang lain sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an surah Ali Imran, ayat 133.

Berangkat dari sejarah puasa yang sudah begitu lama dijalankan oleh ummat Islam, tapi tujuan puasa sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, masih sulit kita dapatkan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Karena, yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, ada orang yang tingkat ibadahnya kuat seperti shalat berjamaah, puasa Ramadhan, puasa sunat, akan tetapi, ia lemah dalam demensi sosial seperti sedekah, sabar dan memaafkan orang lain dan masih ada sifat-sifat yang tidak baik pada diri orang tersebut seperti iri hati dan dengki serta suka menfitnah orang lain. Bahkan Rasulullah SAW mengatakan puasa adalah setengah dari kesabaran.

Demikian juga sebaliknya, ada orang yang sangat kuat ibadah sosial, membantu orang lain dengan bersedekah, tapi sangat lemah dalam hal keimanan dan ketaatan dalam beribadah. Padahal, yang diharapkan oleh Allah SWT dan Rasulullah, praktek ibadah, termasuk puasa mampu menggabungkan kedua hal tersebut, yaitu ibadah harus mampu melahirkan orang yang kuat iman dan taat dalam beribadah kepada Allah dan mampu mewujudkan orang yang baik hubungannya dengan manusia yang lain, yaitu saling kasih dan sayang sesama manusia yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *