Abdul Kahar Muzakir : Agama dan Negara Tak Dapat Dipisahkan

Presiden Joko Widodo pada 8 Novenber 2019 lalu menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Prof KH Abdul Kahar Muzakir. Pemberian gelar tersebut merupakan salah satu bentuk apresiasi negara atas jasanya dalam memperjuangkan Islam dan Indonesia pada masa kemerdekaan Indonesia.

Abdul Kahar Muzakir lahir di Yogyakarta pada 16 April 1907. Ia merupakan putra H Mudzakir, seorang pedagang dan tokoh Muhammadiyah di Kotagede Yogyakarta. Kahar Muzakir muda pernah menempuh pendidikan mahasiswanya di Universitas Al-Azhar Kairo pada tahun 1925 dan kemudian pindah ke Universitas Darul Ulum Kairo pada tahun 1936.

Sejak berkuliah Kahar Muzakir sering menghadiri Kongres Islam se-dunia di Baitul Maqdis sebagai wakil umat Islam Indonesia. Kala itulah nama beliau banyak dikenal di dunia arab dan dunia Islam sebagai seorang pejuang pemuda Islam Indonesia. Selama 12 tahun di Mesir, ia aktif memperkenalkan Indonesia kepada sahabat-sahabatnya termasuk kepada Sayyid Qutb, tokoh Ikhwanul Muslimin penulis Tafsir Fii Dzilal al Qur’an.

Setelah tamat dari Universitas Darul Ulum, Kahar Muzakir kembali ke Indonesia, ia aktif di Persyarikatan Muhammadiyah dan diangkat menjadi Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah. Selain aktif di Muhammadiyah, Kahar Muzakir juga berperan sebagai Panitia Perencana Sekolah Tinggi Islam (STI) di mana ia kemudian menjadi rektornya. STI ini kemudian berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) sedangkan Fakultas Agamanya diambil alih oleh Departemen Agama dan dijadikan yang kini bernama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Sunan Kalijaga) di Yogyakarta. Kiprah besarnya dalam dunia pendidikan Islam mengantarkannya sebagai pelopor Perguruan Tinggi Islam di Indonesia.

Selain aktif dalam pergerakan dunia pendidikan, KH Kahar Muzakir turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan bagi Republik Indonesia. Beliau merupakan salah seorang penandatangan “Piagam Jakarta” (Jakarta Charter) pada 22 Juni 1945. Sebagai tokoh Islam, ia juga duduk dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersama tokohtokoh lainnya yang berjasa dalam perumusan dasar negara Pancasila.

Saat perdebatan tentang pembentukan negara Indonesia, Abdul Kahar Muzakir merupakan tokoh Islam yang sangat menginginkan bahwa Indonesia memberi tempat paling utama bagi Agama terutama Agama Islam. Ia seorang teguh pendirian dan sangat menentang cara berpikir kaum sekular yang memisahkan antara agama dan negara. Kahar Muzakir menganggap bahwa agama dan negara tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bahkan ia tidak segan-segan mengecam keras orang Islam yang merasa tidak perlu menyerahkan kehidupan kepada syari’at Islam dalam konteks publik (legal-formal).

Abdul Kahar meyakini bahwa syariat Islam merupakan jalan perjuangan paling sempurna yang terdiri dari pelbagai dimensi diantaranya adalah akidah, akhlaq, ibadah, fiqh, dan muamalah. Hingga puncaknya Abdul Kahar Muzakir beserta tokohtokoh Islam lainnya berhasil mempertahankan semangat syari’at Islam dengan diterakannya Ketuhanan Yang Maha Esa pada sila pertama. Tentunya penerapan dimensi teologis ini merupkan titik paling yang menentukan bahwa setiap arah kebijakan, kehidupan sosial dan pembangunan di Indonesia harus mengacu pada prinsip-prinsip illahiyah yang terkandung dalam sila pertama sebagai landasan paripurna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apabila kita membaca mendalam tentang sejarah pergerakan para tokoh-tokoh Islam di Indonesia, maka kita dapat menemukan gairah besar mereka dalam pemperjuangkan Islam dan Indonesia seperti halnya yang diperjuangkan oleh Abdul Kahar Muzakir. Tanpa bermaksud lancang, penulis dapatlah berimajinasi sedikit bahwa Abdul Kahar Muzakir kini tersenyum berbangga dan berbahagia melihat Aceh telah berhasil menerapkan syariat Islam secara legal formal dan sah secara konstitusional.

Perjuangan Aceh yang sangat panjang nan berkuah-kuah darah untuk menerapkan syariat Islam tidak hanya keinginan umat Islam di Aceh semata melainkan juga harapan dan citacita besar para tokohtokoh Islam Indonesia pada umumnya. Kita dapat menyebut bagaimana Ki Bagoes Hadikusumo, Buya Hamka, Buya Sutan Mansur, H Agus Salim, H Muhammad Natsir dan KH Abdul Kahar Muzakir merupakan sedikit contoh daripada keinginan besar tokoh-tokoh Islam di Indonesia untuk dapat menerapkan syariat Islam demi kemaslahatan bangsa dan negara. Oleh sebab itu sudah semestinya bagi kita masyarakat Aceh yang hidup di zaman ini untuk terus ikut andil dalam melanjutkan tongkat estafet perjuangan para pendahulu kita, terutama mereka para pejuang Islam dan Indonesia. Pelaksanaan syariat Islam di Aceh haruslah senantiasa kita dukung dan diterapkan secara konsekuen, berkeadilan dengan jiwa kesadaran religio-etik kita. Karena tentunya Aceh yang saat ini telah menerapkan syariat Islam sangat kita harapkan menjadi uswatun hasanah bagi provinsi-provinsi lainnya di Indonesia.

-Muhammad Ikhsan/SMH