Jadi Guide Kubah Tsunami

GEMA JUMAT, 1 NOVEMBER 20198

Sriana Rusli, SPd.

Sriana adalah ibu rumah tangga yang luar biasa. Ibu dari Ulya Adaila (16 th), Muhammad Arifin (15 th) dan Roihan Jazil (13 th) ini sehari-harinya mudah dijumpai di area situs tsunami Kubah di kawasan persawahan Gampong Gurah, Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar.

Isteri dari kepala desa atau keuchik setempat, Ja’far AR ini merupakan satu-satunya guide yang ditugaskan oleh warga setempat guna mendampingi wisatawan lokal, wisatawan nusantara (wisnu) maupun wisatawan mancanegara (wisman) untuk menceritakan kembali bagaimana kubah itu sampai berdiri anggun di situ.

Kubah berbobot mencapai 80 ton tersebut adalah bagian bangunan Masjid Lamteungoh di tepi pantai yang hancur oleh terjangan tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Kubah itu terhempas dan terdampar sejauh 2,5 km dari pondasi asalnya.

Disebutkan Sri atau Ana, biasa perempuan berusia 36 tahun ini dipanggil, “beberapa orang selamat karena menaiki bagian dalam kubah yang berlantai cembung ini.”

“Saya selamat dari tsunami dikarenakan sedang pulang ke rumah orang tua di Bireuen untuk menunggu kelahiran anak pertama,” demikian informasi tambahan si guide tunggal.

Wisman yang banyak berkunjung kemari berasal dari Malaysia, sebut Ana. Kebanyakan pengunjung wisata religi-tsunami itu merasa kesulitan saat shalat tiba, karena di lokasi belum tersedia mushalla yang memadai walau dalam komplek telah disediakan balai sebagai tempat shalat.

Sehingga pada 2015, Haji Amir dan rombongan asal Keudah-Malaysia juga kemari. Amir yang biasa dipanggil warga Gurah dengan sebutan Ayah ini menyampaikan perlunya dibangun masjid. Namun Ja’far maupun Ana menolak karena tak jauh dari artefak besar ini telah ada Masjid Tgk. Chik Maharaja Gurah.

Lalu Ayah Amir mengusulkan didirikannya surau atau mushalla, sembari menyerahkan bantuan berupa uang tunai Rp. 10 juta sebagai biaya awal pembuatan pondasi. Ja’far sempat bingung, karena tanah sebagai tempat lokasi dibangunnya mushalla yang bersebelahan dengan kubah adalah tanah milik keluarga Ibnu Hajar yang belum mengetahui rencana dimaksud.

Alhamdulillah, pemilik tanah bersedia melepas tanah dengan harga “membantu” sehingga permasalahan tanah selesai dengan mudah. “Keluarga Ibnu Hajar tidak menjual tanah seluruhnya. Sebagian diwakafkan atas nama ayah-ibunya yang menjadi korban tsunami,” ujar Sri.

Semangat percepatan keberadaan mushalla bergelora di dada Sriana. Maka, setiap berkesempatan menyampaikan history kubah ini, Ana mengajak tetamunya untuk berpartisipasi, “Jangan lupa kepada bapak-ibu, saudara-saudari semuanya untuk berinfak seikhlasnya agar pembangunan mushalla dapat segera selesai.”

Ada beberapa warga asal negeri jiran Malaysia yang turut terlibat sehingga pembangunan mushalla pun terselesaikan, diantaranya adalah Raja Ima Abdullah, muslimah yang sering berkunjung sosial ke Aceh. 

Dimulai di tengah persawahan yang ada hanya berupa kubah eks Masjid Lamteungoh, lalu pemerintah menyiapkan akses jalan sekitar 200 meter dari rumah-rumah warga, kini berkat perjuangan Sriana, Ja’far dan beberapa pihak lainnya maka berdirilah Mushalla Kubah.

“Mushalla Kubah sudah dipakai untuk shalat sejak pertengahan 2017 lalu. Selain pengunjung destinasi wisata religi yang Shalat Dzuhur atau Shalat Ashar di sini, petani-petani yang tengah ke sawah juga shalat di Mushalla Kubah,” imbuh Sriana.

Walau Mushalla Kubah sudah dipakai melaksanakan shlat. Namun Keuchik Ja’far dan isteri masih berharap adanya menara sebagai penambah ciri sebuah mushalla atau masjid sekaligus untuk meletakkan corong pengeras suara saat panggilan shalat tiba. NA Riya Ison

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!