Pengabdian untuk Aceh Bermartabat

GEMA JUMAT, 4 OKTOBER 2019

Azwir Nazar, Pendiri Yayasan Balai Cahaya Aceh

Kita boleh saja bermimpi. Setiap insan memiliki banyak impian dan harapan. Azwir Nazar juga memiliki impian. “Mimpi indah yang ingin kita bangun berjangka panjang”, ucap Azwir, panggilan akrabnya. Pemuda lajang ini ingin mengabdi dan berkontribusi demi pendidikan dan kebangkitan Aceh dan Islam.

Impian mulai bersemi semasa pemuda kelahiran, Lambada Lhok, 4 Januari 1983, ini menggapai Doktoral  Komunikasi di Hacettepe University, Turki. Di negerinya Erdogan, Azwir juga berkesempatan mengelilingi beberapa negara Asia dan Eropa lainnya.

“Alhamdulillah saya mendapatkan anugerah bisa keliling banyak negara,” katanya. Saat berkelana antar negara ia mendapati bahwa anak-anak di sana gemar belajar dan berprestasi. Kenapa anak-anak kita tidak bisa? Demikian pertanyaan yang sering muncul menggoda putra sulung dari lima bersaudara pasangan alm. Zulkifli Pawang Rani dan almarhumah. Arcadani ZA, yang kini tinggal berdua dengan adik bungsunya, Mushshallin sedangkan kesemua keluarga tercintanya menjadi korban tsunami Aceh tahun 2004 lalu.

Ia menyadari keacehan justru lebih mengental di luar negeri. Hal wajar apabila melirik risalah dan khazanah sejarah Aceh dulu pernah berjaya dan disegani dunia. “Betapa hebatnya indatu kita dahulu,” tukasnya.

Azwir turut merasakan ekses konflik Aceh, Kehancuran tersebut diperparah adanya bencana gempatsunami. Selain itu banyak pihak dengan sengaja ingin merusak Aceh. “Rugi sekali bila pengalaman di luar negeri tak bermanfaat demi kebangkitan peradaban Aceh” demikian gumamnya.

Tekadnya mengkristal, perlu wadah untuk sumbangsihnya terhadap anak negeri. Di benaknya sudah tertera nama Cahaya Aceh (CA) yang memiliki filosofi yakni Aceh beserta seluruh nilai sejarah dan kemuliaan yang pernah ada harus kembali bercahaya”, kenang mantan Presiden Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki periode 2016-2017 ini.

Maka sepulangnya dari Turki,  yang pertama dilakukannya adalah mendirikan yayasan yang diberi nama Balai Cahaya Aceh (BCA), pada November 2017. Rumahnya dijadikan sebagai tempat kegiatan, “Sekarang sudah dibangun satu balai edukasi dan taman baca,” tutur mantan Program Magister Komunikasi Politik 2010-2012  dan Program Doktoral Komunikasi Universitas Indonesia 2013-2019 ini.  Menurutnya, BCA atau CA yang berlokasi di Lambada Lhok Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar diperuntukkan bagi semua orang. Semua boleh datang untuk belajar atau mengajar. Penerima manfaat BCA lebih dikhususkan bagi anak-anak usia setara SD, SMP dan SMA.

Program unggulan berupa bidang pendidikan sosial, kemanusiaan dan keagamaan. Target program strategis tengah digodoknya, 10-20 tahun ke depan berdirinya Cahaya Aceh Academy. Anak-anak yang kini belajar alquran, ketangkasan dan Bahasa Inggris, Arab dan Turki kelak sebagai guru di situ.

 “Anak-anak yang belajar di Cahaya Aceh tidak dipungut biaya,” imbuhnya. Tenaga pengajarnya beragam, ada alumni Timur Tengah, Eropa dan Australia. Tapi banyak juga pengajar sedang kuliah dan belajar di dayah lokal. Hebatnya juga, mengajar secara sukarela. “Paraguru itu datang mengajar dengan tulus dan disiplin.  Bukan uang yang didepan, tapi pengabdian, mereka tidak dibayar, tapi doa anak-anak di balai akan membuka jalan kesuksesan mereka. Kelak mereka akan masuk dalam catatan sejarah,” lanjut Koordinator PPI Dunia Amerika Eropa 2017 ini.

Pemberlakuan pendidikan full day bagi siswa madrasah mulai tsanawiyah – aliyah membawa dampak di BCA. Anak-anak pulang sore kadang sudah sangat lelah. Sedangkan BCA tidak tersedia kelas malam.

Pada akhir semester, digelar evaluasi dan malam panggung apresiasi para murid CA disaksikan para orang tua dan masyarakat. Adapun mata pelajaran kalangan anak-anak adalah, tahfidz Quran, menari, melukis, tilawah, taekwondo/silat, Bahasa Arab, Bahasa Inggris/Turki, kajian kitab kuning.  CA juga rutin diadakan pengajian ibu-ibu. Dan bagi bapak-bapak dapat mengikuti belajar tafsir. NA RIYA ISON

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!