7 Februari 2020

Solusi Kemarau

GEMA JUMAT, 7 FEBRUARI 2020

Kemarau akhir-akhir ini membawa keresahan khususnya bagi masyarakat Aceh. Tumbuh-tumbuhan kekeringan, petani gagal panen, air sumur terkadang sudah mengering. Dikarenakan sudah lama tidak hujan akhirnya beberapa lokasi di Aceh melaksanakan shalat istisqa, memohon kepada Allah untuk diberikan hujan.

“Kemarau panjang boleh saja kesalahan hamba itu sendiri, atau boleh juga karena ujian Allah,” kata Pimpinan Dayah Ruhul Fata Seulimum, Waled Husaini, Kamis (06/02). Menurut Waled Husaini sudah banyak nikmat yang diberikan Allah, hanya sekali tidak diberikan nikmat oleh Allah, bagaimana situasi hamba.

“Apalagi kita minta sendiri bala ini kepada sama Allah, dengan tidak mensyukuri nikmat, dikasih rezeki panen padi tetapi terkadang hambanya malas membayar zakat, malas memberi makan tetangga yang kelaparan,” tambah waled.

“Seperti praktik riba dikampung merajalela, datang orang luar membantu orang-orang fakir, dikasih 10 ribu waktu bayar 11 ribu, bagaimana kita masukan bebek dalam kandang, sementara biawak ada didalamnya,” tegasnya.

Menurutnya, bala kekeringan ini terjadi disebabkan oleh prilaku hamba sendiri, sebagian masyarakat berdo’a kepada Allah tetapi sebagian lainnya mengerjakan maksiat terus menerus.

“Kita shalat hujan meminta kepada Allah, tetapi orang maksiat lebih banyak, yang shalat minta hujan enam orang sementara yang minta kemarau enam ribu orang sangat jauh perbandingan, mana dikasih oleh Allah,” sebut Wakil Bupati di Aceh Besar.

Solusi Dalam Islam

Menurutnya, supaya diberi keberkahan oleh Allah, solusinya harus taat kepada Allah, misalnya ada perintah dari pemerintah mari kita hentikan kegiatan setelah azan dikumandangkan, ini arahnya ingin membahagiakan ingin membawa rakyat aceh untuk lebih taat kepada Allah.

“Jika kita sudah taat kepada Allah, maka janji Allah untuk memberi rezeki langit dan bumi itu pasti. Seperti firman Allah, “Andaikata penduduk negri-negri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al A’raf: 96)

Proses terjadi kemarau
Jika ditinjau dari sisi ilmiah, menurut Dosen MIPA Fisika Unsyiah, Dr Suhrawardi Ilyas SSi MSc menjelaskan bahwa, dalam setahun, setiap tempat di permukaan bumi mengalami siklus musim basah dan musim kering.

Musim basah dan musim kering terjadi mengikuti keberadaan matahari di sekitar khatulistiwa. Saat matahari bergerak dalam gerak tahunan semu dari selatan ke utara dan kembali lagi, timbul sabuk hujan yang bergerak bersama matahari dan menghasilkan musim basah.

Sementara musim hujan di suatu wilayah terjadi saat sabuk hujan (yang mengikuti matahari) berada di atas wilayah tersebut. Setelah sabuk hujan melewati daerah tersebut, daerah itu memasuki musim kering.  Untuk wilayah tropik di sekitar khatulistiwa, ada dua periode musim basah dan dua periode musim kering, sejalan dengan siklus perjalanan matahari.  Setiap tahun, pada tanggal 21 Maret matahari berada di atas garis khatulistiwa, lalu bergerak ke utara sehingga pada tanggal 21 Juni matahari berada di Garis Balik Utara, 23,5 derajat lintang utara dari khatulistiwa. 

“Matahari melintas di atas Aceh di bulan April, sehingga pada bulan Mei dan Juni sabuk hujan berada di atas Aceh untuk menghasilkan musim hujan di Aceh. Pada bulan Maret dan April, sebelum sabuk hujan melintas di atas Aceh, Aceh mengalami musim kering. Kemudian pada tanggal 23 September matahari kembali berada di atas khatulistiwa dalam gerakannya ke arah selatan, untuk berada di atas Garis Balik Selatan (23,5 derajat lintang selatan) pada tanggal 22 Desember. Menyusul matahari, sabuk hujan akan berada di atas Aceh pada bulan Oktober dan November, menghasilkan hujan yang hingga bulan Desember,” jelas Suhrawardi Ilyas.

Masih menurut Suhrawardi Ilyas, wilayah Aceh, periode hujan biasanya terjadi pada bulan Oktober hingga awal Januari, diikuti dengan periode kemarau dari akhir Januari hingga April. Selanjutnya dari Mei hingga Juli adalah periode hujan untuk diikuti periode kemarau lagi antara Agustus dan September. Maka adalah hal yang lumrah jika dari pertengahan bulan Januari hingga Maret kita berada dalam masa musim kering.

Solusi

“Solusi dalam jangka pendek adalah mengusahakan sumur sumur resapan air hujan di berbagai daerah dari pedesaan hingga perkotaan. Air hujan yang turun di musim hujan jangan semuanya dibuang ke saluran pembuang yang mengalir ke sungai dan berakhir ke laut, tetapi ditampung dalam sumur sumur  atau kolam penampungan, untuk diserap oleh tanah secara perlahan dan menjadi cadangan di musim kemarau,”tambahnya lagi.

Solusi dalam jangka panjang jelasnya, penanaman pohon secara massif di berbagai tempat, dari halaman rumah, pekarangan, pinggir jalan, lahan lahan terlantar hingga ke pinggir pantai dan pegunungan.

Penciptaan lahan konservasi untuk serapan air hujan di setiap kecamatan, penghentian penebangan hutan dan perusakan lingkungan dan pembangunan waduk-waduk untuk tempat reservasi atau penyimpanan air. (Jannah)