5 Juni 2020

Melanjutkan Belajar dari Rumah

GEMA JUMAT, 5 JUNI 2020

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengeluarkan Surat Edaran (SE) untuk perpanjangan kegiatan belajar di rumah bagi siswa di Provinsi Aceh hingga 20 Juni 2020 mendatang. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat kenapa diperpanjang lagi? Satu sisi mereka khawatir anak-anak dilepas belajar diluar, dilain sisi belajar dirumah via online atau offl ine tidak efektif menurut mereka.

Kondisi darurat begini untuk proses belajar mengajar tidak bisa efektif seperti kondisi normal. Namun, Harus di garis bawahi yang penting pembelajaran dan belajar di rumah itu bisa berlangsung dengan online atau offl ine,” jelas Drs Rachmat Fitri HD MPA, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, kepada sejumlah media, Selasa (2/6), kemarin.

Menurut Rachmat, untuk membuka sekolah kembali normal menurutnya, harus disiapkan SOP-nya yang maksimal, jadi tidak serta merta hanya untuk membuka sekolah dan melanjutkan kegiatan-kegiatannya, “Kita berharap jangan sampai terpapar anak didik kita,” katanya.

Menurutnya, SOP harus disiapkan dari sekarang, khusus SMA dan SMK langsung dari dinas provinsi, sementara SD dan SLTP dari kabupaten kota. Sebelum dibuka ada simulasinya, kesiapan protokoler kesehatan dan SOP.

“Yang paling penting adalah protokol kesehatan di sekolah selama ini beberapa bulan kita tutup sekolah, tiba-tiba kita buka apa sudah disiapkan, sudah pikirkan sesuai standar protokol kesehatan,” tambahnya.

Ia berpandangan, untuk memastikan ketika kedatangan anak-anak di sekolah tidak boleh berkerumunan, pihak sekolah harus tersedia petugas khusus yang akan memastikan termograf guna mengukur suhu, jika kelebihan suhu harus balik ke rumah, tidak diperkenankan untuk masuk lingkungan sekolah. Selanjutnya, kata dia, di sekolah juga tersedia cuci tangan, hand sanitaizer, wastafer dan masker yang menjadi kebiasaan.

“Nah,protokol-protokol seperti itu harus kita pastikan bisa dijalankan dan bisa kita siapkan, menjaga anak-anak terurai tidak ada yang berkurumun, jelasnya lagi.

Selain itu, harus adanya panitia bersama yang dibentuk dibentuk dulu. Kemudian, memastikan apakah sekolah sudah
disemprot insefektan, “selanjutnya memastikan apakah ini sudah disosialisasi dan simulasi ke pihak terkait”ungkapnya.

Namun, demikian belajar di rumah diperpanjang lagi, Kadis pendidikan Aceh ini menjelaskan bahwa tanggal 2 sampai dengan 19 Juni merupakan pada masa normal adalah masa ujian. Jika sekolah dibuka sekarang anakanak harus ujian. Sementara, kata dia, untuk sekarang ini ujian tidak ada lagi karena sudah dihapus. Selanjutnya, lanjut dia lagi, pada tanggal 20 Juni bertepatan dengan pembagian rapor. Kemudian, pada 2 sampai 9 Juni juga dijadwalkan, pendaftaran murid baru, sampai dengan 11 juni jadwal registrasi ulang.

“Ada kegiatan terus ini bukan kegiatan pembelajaran, pembelajaran sudah tidak ada lagi, kemudian tanggal 21 Juni sampai dengan 12 Juli di kalender pendidikan itu libur,” tambahnya.

Dalam kondisi pandemi ini semua lini harus bekerja sama terutama didunia pendidikan dan kesehatan. “Kitamelihat teman-teman guru ini luar biasa pengabdiannya, dedikasinya untuk anak didiknya. Tidak ada online, dia datangi kerumah dengan pakai sepeda, sepeda motor, ini kontribusi guru, dedikasinya memang harus kita apreisasi,” ungkapnya lagi.

Patuhi Protokol Kesehatan Kepala Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Setda Aceh, Zahrol Fajri, S.Ag mengatakan, untuk melanjutkan kembali proses belajar mengajar di rumah. Pemerintah Aceh berharap kepada semua masyarakat, agar dapat memahami dan bersabar dalam rangka menyelamatkan anak didik sebagai generasi penerus, supaya terhindar dari wabah penyakit corona.

Menurut Zahrol, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama sedang menyusun panduan sistem belajar efektif dalam masa New Normal, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Pemerintah Aceh, jelas Zahrol, melanjutkan belajar dari rumah berdasarkan Instruksi Gubernur Nomor : 08 Tahun 2020. Alasannya, karena masa belajar sesuai dengan Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2019/2020 berakhir pada tanggal 20 Juni 2020 dan masa sekolah kembali untuk semester baru (Ganjil 2020/2021 di mulai pada tanggal 13 Juli 2020. Kemudian, kata dia, belum ada penilaian resmi dari pihak berwenang tentang kondisi pandemi Covid19 di Aceh sampai dengan tanggal 27 Mei 2020.

Selanjutnya, belum tersosialisasi dan dipahami dengan baik terhadap kondisi New Normal. Terakhir, kesiapan satuan pendidikan dalam implementasi pembelajaran di sekolah yang belum sesuai dengan Protokol Kesehatan yang berlaku.

Dampak belajar dari rumah terhadap kualitas pendidikan menurutnya, belum dilaksanakan evaluasi secara menyeluruh sehingga belum bisa menyampaikan hasil positif atau negatif. Untuk belajar normal kembali, “Melakukan sosialisasi New Normal atau menuju tatanan normal baru dan tetap tetap menjalankan protokol kesehatan,” jelas Zahrol.

Sekolah belum Aman Sementara itu, Plt Kabid Pendidikan Madrasah, Drs Zulkifl i MPD, Kemenag Aceh, Pemerintah Aceh melanjutkan belajar dari rumah karena, menimbang kondisi Aceh belum begitu aman terhadap pencegahan dan penyebaran covid 19, masa belajar efektif tahun pelajaran 2019-2020 tinggal 1 minggu lagi, sisa minggu efektif semester genab pelajaran 2019-2020 tinggal tiga minggu lagi , dan itu masa ujian semester dan persiapan kenaikan kelas.

Kemudian, kesiapan Sekolah dan Madrasah dalam menerapkan Protokoler Covid 19 belum maksimal, yaitu belum semua madrasah memiliki thermometer infrared, hand sanitaizer tiap kelas, tempat cuci tangan setiap kelas, pengadaan masker, physical distancing tidak bisa diterapkan karena luas area tidak sebanding dengan banyak siswa.

Jika belajar dirumah dilanjutkan, hasil evaluasi metode survey menurutnya, 98,6 % Madrasah dan RA mengintruksikan kepada siswa untuk belajar dirumah. 33,3 % melaksanakan pembelajaran daring yang dikendalikan oleh guru, 26,7 % hanya melaksanakan sebahagian saja belajar dengan daring, sementara 40,1 % tidak melakukannya dengan sistem daring. Terkait keterlibatan dan kerjasama orang tua, 96,3 % menyatakan bahwa orang tua ikut aktif dan bekerjasama dalam proses belajar dari rumah.

“Maka dampak terhadap kualitas pendidikan terutama penyerapan materi tidak maksimal, karena belajar tidak ada tatap muka secara langsung, serta tidak evaluasi yang berkala terhadap belajar dari rumah,” pungkas Zulkifli.

Samahalnya dengan dunia kampus, dampaknya ketika diberlakukan kebijakan seperti ini, kampus seperti kota mati, namun kami berusaha semua kegiatan yang seharusnya dilakukan dikampus dipindahkan tetap bisa dilakukan dengan baik dengan daring. “walaupun seperti praktikum tidak bisa dilaksanakan, tetapi kita tetap memberi modul-modul, gambarangambaran dalam melaksanakan praktikum itu lebih detil,” jelas Dosen MIPA Fisika Unsyiah, Dr Rini Safi tri MSi.

Efektif tidaknya, menurut Rini tidak bisa diukur karena ini terjadi kepada siswa di seluruh dunia, artinya kejadian ini terjadi berdasarkan kondisi. Seluruh sistem pendidikan dibangun agar keraguan terhadap keefektifan ini bisa dikurangi.

Jika proses belajar akan normal kembali yang perlu diperhatikan, ruangan untuk belajar sudah disterilkan, protokoler kesehatan harus diikuti dengan maksimal. “Jangan sampai ketika dibuka kembali kelas justru pandemi ini semakin mewabah bukannya semakin hilang, saat ini ikuti saja keputusan Pemerintah apa yang harus dilakukan,” tambah Rini Safitri.

Menurut Dosen FMIPA tersebut, lebih dari 3000 mahasiswa unsyiah dikirimkan untuk melaksanakan KKN Tematik, yaitu KKN paling sederhana secara kegiatannya yaitu mahasiswa peserta KKN hanya melaksanakan KKN ditempat/didesa mereka masing-masing.

“Mereka memilih kegiatan yang berhubungan dengan pandemic covid dengan memberi sosialisasi kepada masyarakat bagaimana masyarakat harus menyesesuaikan diri dalam kondisi kovid,” tutup Rini.Jannah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *