27 Maret 2020

Ancaman Bagi Penimbun Barang

Islam memandang perbuatan menimbun barang sebagai bentuk kezaliman dan bertentangan dengan maqashid syariah berdagang karena tindakan menimbun akan menyengsarakan orang banyak. Penimbunan masuk dalam kategori kejahatan ekonomi dan sosial. Ulama seperti Ibnu Hajar al-Haitsami menganggap pelakunya sebagai pelaku dosa besar. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan menimbun barang kecuali dia seorang pendosa.” (HR Muslim).

Dalam hadis di atas, pelaku penimbun barang disifati dengan kata khoti’ atau pendosa. Sifat khoti’ ini jugalah yang dilabelkan Allah SWT kepada para thagut yang berlaku zalim seperti Firaun (QS al-Qashash [28]: 8).

Dalam hadis lain disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menimbun makanan selama 40 hari, ia akan lepas dari tanggungan Allah dan Allah pun cuci tangan dari perbuatannya, dan penduduk negeri mana saja yang pada pagi hari di tengah-tengah mereka ada orang yang kelaparan, sungguh perlindungan Allah Ta’ala telah terlepas dari mereka.” (HR Ahmad dan Hakim).

Bahkan, dalam sistem sosial Islam ditekankan jika ada pelaku penimbunan di tengahtengah mereka, Allah mengancamnya dengan penyakit berat dan kebangkrutan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menimbun bahan makanan bagi kaum Muslim, maka Allah akan menimpakan penyakit lepra dan kebangkrutan ke atasnya. “

(HR Ibnu Majah, Ahmad, dan Hakim). Berdasarkan banyak hadis yang menjelaskan tentang haramnya perilaku penimbunan yang berkaitan dengan bahan makanan, maka seba dalil tentang ihtikar ini adalah diharamkannya penimbunan atas semua jenis barang yang menjadi hajat orang banyak karena akan menyusahkan mereka jika terjadi penimbunan.

“Adapun penyebutan penimbunan bahan makanan secara khusus dalam beberapa hadis, sebagian ulama menerangkan, maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa penimbunan bahan makanan lebih berbahaya ketimbang penimbunan barang lainnya,” demikiann jawab Ustaz Dr. Bachtiar Nasir,Lc, MM, Pengurus Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam menjawab pertanyaan di Rubrik Khazanah Repubika, Edisi Selasa (26 /03) 2013 Lalu.

Sebagaimana dikutip di Khazanah, ia mengatakan, hikmah penting di balik diharamkannya penimbunan adalah
agar jangan sampai sifat tamak sebagian orang dalam suatu masyarakat menyebabkan kesengsaraan dan kesulitan bagi banyak orang. Sebab, Islam adalah agama yang bertujuan memberikan dan merealisasikan kemaslahatan bagi masyarakat banyak serta mencegah dari kemudharatan.

Menurutnya, syariat ekonomi Islam sangat menghormati usaha seseorang dan melindungi kepemilikan pribadi, tetapi Islam juga memberikan hak kepada pemerintah untuk merampas atau memaksa pelaku penimbunan untuk menjual barangnya dengan harga pasar, serta berhak untuk memidanakannya jika pelaku penimbunan menolaknya karena tindakan tersebut adalah tindakan melawan hukum.

Sidak Pasar Tim Satgas Pangan Polda Aceh bersama Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) terkait melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah pasar di Kota Banda Aceh, pada Senin, (23/3) kemarin, sidak tersebut dilakukan untuk memastikan ketersedia stok sembako, terkait merebaknya wabah Covid -19 di Aceh, Untuk ketersediaan beras, Kadis Perindag tersebut memperkirakan di bulan Agustus mendatang akan ada penambahan stok beras hasil panen, sebab itu, untuk beras dapat dipastikan tidak ada masalah hingga satu tahun kedepan.

Terkait kelangkaan gula pasir dipasaran, Muslem mengatakan, hal itu terjadi akibat adanya kebijakan dari Sumatera Utara tentang pelarangan pengeluaran gula dari Sumut untuk sementara waktu selama masa pencegahan virus corona covid 19. “Terkait gula, ini yang agak sedikit mengkhawatirkan. Karena biasanya pedagang membeli dari Medan. Namun untuk saat ini ada kebijakan yang tidak mengizinkan keluarnya gula dari Sumatra Utara. Tapi ada gula yang diperuntukkan untuk Aceh, melalui pengusaha Aceh, sudah tidak ada problem, stoknya masih mencukupi,” jelas Muslem Yacob AS.Ag, M.Pd, Plt. Kadisperindag Aceh.

Untuk kebutuhan harga pangan lainya, seperti minyak goreng, telor, kemudian bawang dan cabe Disperindag Aceh memastikan tidak ada permasalah dan stok masih mencukupi. Dalam menghadapi permasalah terkait
kelangkaan gula. Disperindag Aceh telah melakukan langkahlangkah strategis untuk mengantisipasi kelangkaan gula tersebut.

Muslem mengatakan, Disperidag akan terus berkoordinasi dengan para pengusaha gula agar suplai gula yang sudah dibeli di Medan tersebut secepatnya dapat dibawa ke Aceh. “Hari Kamis nanti juga akan datang lagi gula sebanyak 8 kontainer,” tambahnya.

Respon Kemendag Surat Pelaksana Tugas (Plt), Gubernur Aceh, Nova Iriansyah terkait permintaan penambahan kuota gula untuk Aceh yang dikirimkan pada 24 Maret 2020 lalu telah mendapat respon dari Mentri Perdagangan RI Agus Suparmanto. Kamis ( 26/03). Respon Mendag tersebut, disampaikan Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kementrian Perdagangan RI, Susi Herawaty kepada Plt Kadis Perindag Aceh melalui sambungan telfon siang tadi. “Alhamdulillah Kementrian Perdagangan RI melalui Dir Bapok
ting sudah merespon surat Plt Gubernur Aceh terkait permintaan tambahan kuota gula untuk Aceh. Kemendag akan mengirim secepatnya gula untuk Aceh sebesar 20 ton untuk tahap awal,” jelasnya.

Meski pada tahap awal gula yang dikirim untuk Aceh hanya 20 ton, menurut Muslem Yacob, Plt Gubernur Aceh memberi apresiasi kepada Kemendag yang telah merespon secara cepat sebagai bantuan awal terkait kelangkaan gula di Aceh. “Pak Plt Gubernur Aceh memberikan apresiasi kepada Kemendag yang telah merespon dengan cepat atas surat Pak Plt Gubernur yang dikirim beberapa hari lalu. Tahap selanjutnya segera akan dilakukan langkahlangkah strategis lainya sebagai antisipasi kelangkaan gula di Aceh,” ujarnya.Marmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *