Keluarga Ibrahim Teladan Sepanjang Masa

GEMA JUMAT, 2 AGUSTUS 2019

Mencintai didalam Islam dibolehkan, tetapi harus kepada orang yang tepat dan benar. Seperti suami mencintai istri dan sebaliknya, orang tua mencintai anak dan begitu pula anak mencintai orang tuanya.

Sebesar apapun cinta sesama makhluk tidak boleh melebihi cinta kepada sang pencipta yang maha menciptakan cinta. Cinta kepada-Nyalah yang paling nyata, jangan sampai menjauhi Allah karena cinta yang semu yaitu cinta sesama makhluk, cinta kepada-Nyalah kekal dan tidak berubah-ubah.

Sebagai ummat muslim harus mampu menjaga cinta didunia hanya untuk mendapatkan cinta hakiki yaitu cinta Nya Allah azzawajalla, seperti cinta nabi Ibrahim As kepada Allah SWT.

Ibrahim, sejak muda ia adalah seorang lelaki yang teguh dalam mencari hakikat kebenaran. Ia tidak tunduk dalam kejumudan tradisi penyembah berhala. Ia mencari kebenaran dan teguh memegangnya meskipun nyala api dikobarkan Namrud untuk membakar jasadnya.

Begitu pula setelah ia menjadi utusan Allah. Kecintaannya pada Allah melebihi kecintaannya pada keluarga, istri maupun buah hati yang amat dicintainya.

Nabi Ibrahim begitu mencintai Allah melebihi apapun di dunia ini, hal serupa juga ditanamkan kepada Ismail anak satu-satunya yang sudah lama diharapkan lahir. “Sejak lahir Ismail telah ditanamkan keimanan yang begitu kuat tentang kekuasaan Allah oleh Nabi Ibrahim As,” jelas Wakil Ketua MPU Aceh, Tgk H Faisal Ali.

Mengakui kekuasaan Allah bukan hanya sekedar perkataan tetapi harus mengakui dari hati yang paling dalam bahwa semua yang ada di alam dunia ini semua milik Allah. “Karena tauhid yang dipelajari Ismail sudah kuat, sehingga ismail sangat ikhlas menerima keputusan Allah termasuk dia harus dikurbankan, kalaupun tidak disembelih ayahnya suatu saat akan mati juga,” tambah Tgk Faisal.

Belajar mengenal Allah dari keluarga Ibrahim As

Bagaimana kita harus belajar dari keluarga Ibrahim AS untuk mencintai Allah tanpa goyah sedikitpun Awaluddin ma’rifatullah dengan cara: Belajar tauhid dengan sesungguh-sungguhnya mengenal Allah, kemudian kekokohan beribadah kepada Allah dan akhlak Ismail yang sangat mulia. “Kalau anak akhlaknya sudah bagus, disembelihpun tidak berargumen apapun,” tambah Tgk Faisal.

Bagaimana kita dapat mencontohi keluarga Ibrahim As dalam membina keluarga sakinah mawaddah warahmah dengan pondasi keimanan yang luar biasa. Anak dan istri begitu mencintai dan patuh pada perintah Allah.

Untuk membentuk keluarga yang sakinah dan selalu taat kepada Allah harus dibangun dengan pengorbanan dan usaha berat. Dari awal ingin menikah harus ada pondasi iman yang kuat sebagai bekal membina keluarga sakinah warahmah.

“Ibrahim menjadi suri tauladan keluarganya, begitu pula program kita untuk membimbing catin kusus suami, dapat menjadi suri tauladan dan pemimpin dalam keluarga. Istri ketika imannya sudah mantap dia akan taat kepada suaminya. Dan disamping taat kepada suami istri harus menjadi pendidik bagi anak-anaknya,” jelas Kepala KUA Kecamatan Darussalam, H. Amirullah Djakfar di Banda Aceh.

Menurut Amirullah program bimbingan untuk catin dilakukan ada beberapa kali sebelum menikah, dilakukan untuk visi misinya menikah dan setelah menikah ada program konseling bagi keluarga yang membutuhkan.

“Kita ada program bimbingan calon pengantin, lebih kepada pembekalan keimanan, ekonomi dan sebagainya,” tambah H. Amirullah Djakfar.

Sebelum menikah harus ada keinginan awal untuk apa menikah apa tujuannya dan sebagainya. Harus dipertimbangkan bagi catin agar ketika sudah berkeluarga tidak kebingungan mau dibawa kemana keluarganya.

“Program bimbingan catin terutama visi misinya, untuk calon suami harus dipertanyakan untuk apa menikah? Menikah bukan semata-mata untuk nafsu, kalau menuruti nafsu menikah tidak cukup empat orang, delapan orangpun tidak cukup. Suami harus sabar ketika keinginannya tidak terpenuhi didunia ada kesempurnaan lain nanti di akhirat begitu pula sebaliknya,” pungkasnya.

Hal yang sama dijelaskan oleh Dr Nurjannah Ismail pelajaran dapat diambil dari keluarga Ibrahim As agar terbina keluarga bahagia, sakinah warahmah. Salah satunya dengan menghargai pendapat anak. Keluarga akan bahagia jika anggota keluarga merasa dihargai dan dibutuhkan.

“Seperti keluarga Ibrahim mungkin tidak sanggup kita contoh, dengan keadaan sudah lama tidak punya anak, waktu sudah ada anak yang tanpan, cerdas dan taat kepada Allah disuruh sembelih, walau begitu perintah Allah, tetapi nabi Ibrahim tetap mengajak anaknya untuk mufakat bagaimana untuk perintah Allah yang ini, Ismail menjawab jika ini perintah Allah kerjakan Ayah,” cerita Dosen Ilmu Al-Quran dan Tafsir Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry, Dr Hj Nurjannah Ismail M Ag.

Hal ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, agar mampu dan mau menghargai pendapat anak. “Mendengar pendapat anak itu penting, kita sekarang kuliahin anak dan bawa masuk anak ke pesantren tidak kita tanya pendapat anak, kita ambil keputusan terus tanpa persetujuan anak,” tutup Nurjannah Ismail. (Jannah)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!