Menara Utama Masjid Raya Kembali Difungsikan

GEMA JUMAT, 22 NOVEMBER 2019

Masjid Raya Baiturrahman merupakan masjid kebanggaan masyarakat Aceh. Masjid bersejarah yang menjadi salah satu ikon ibadah dan wisatawan. Ada ungkapan yang menyebutkan, rasanya belum sah jika ke Banda Aceh jika belum singgah dan berfoto di Masjid kecintaan Rakyat Aceh tersebut.

Dengan keunikan yang dimiliki oleh Masjid ini menjadi salah satu daya tarik dan magnit bagi para pelancong dan masyarakat Aceh. Hal ini pula diperlukan sebuah sistem pengelolaan khusus untuk perawatannya. Baik perawatan secara infra struktur  fisik, maupun pembangunan secara manajemen organisasi yang ada di lingkungan Masjid Raya Baiturrahman.

Salah satu bangunan masjid paling mencolok adalah menara utama Masjid Raya atau sering disebut juga sebagai Tugu Modal. Di dalamnya terdapat lift yang bisa dinaiki pengunjung hingga ke puncaknya. Di sini, pengunjung bisa melihat Kota Banda Aceh dengan amat sangat luas. Pascatsunami, akses ke puncak menara yang diresmikan tahun 1993 itu ditutup.

Namun, setelah hampir 15 tahun ditutup, lift menara utama Masjid Raya akan kembali dibuka untuk umum. Hal tersebut disampaikan Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Masjid Raya Baiturrahman Ustaz Ridwan Johan saat dijumpai Tabloid Gema Baiturrahman di ruang kerjanya, Banda Aceh, Kamis (21/10).

“Jadi nanti akan kita kenakan tarif (naik lift ke menara),” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pembukaan kembali menara Masjid Raya sebagai salah satu upaya meningkatkan pelayanan masjid.

Selain itu, tata tertib pelaksanaan pernikahan juga akan semakin diperbaiki. Lokasi foto pascapernikahan disediakan khusus dengan waktu 10 menit, agar tidak terjadi keributan akibat antusiasme pengunjung di dalam masjid. Sehingga kekhidmatan masjid terjaga dengan baik.

“Kepada pihak KUA kita juga sudah sampaikan agar menyampaikan khutbah nikah berupa nasihat, lemah lembut, menyejukkan, dan tidak ada lucu-lucu. Semua ini sudah mulai kita laksanakan,” terangnya.

Di bidang kebersihan pihak masjid akan senantiasa mengatur tempat pembuangan sampah agar semakin rapi. Bagi wisatawan ke depan akan didampingi oleh tour guide dari masjid. Tidak boleh dari pihak travel. Sehingga, wisatawan bisa mendapatkan informasi valid serta menyeluruh mengenai Masjid Raya.

“Masjid menjadi pusat reintegrasi umat, di situ ada musyawarah, kegiatan keagamaan, pusat perekonomian,” sambungnya.

Ia menuturkan bahwa ketertiban, kebersihan, kenyamanan, dan keamanan Masjid Raya akan terus mengalami peningkatan agar semakin profesional. “Masjid Raya adalah masjid nasional, kita harus mengembangkannya secara profesional. Masjid kita semoga menjadi contoh di tingkat Asia Tenggara,” paparnya.

Berkaitan biaya operasional Masjid Raya, lanjutnya, sumber dana berasal dari BLUD, APBA, dan dana umat. BLUD mengelola dana bersumberkan dari kutipan parkir, tempat wudhu’ sekaligus tempat mandi dan penitipan sandal. Ke depan, sistem parkir dijalankan menggunakan sistem elektronik.

“Sementara dana APBA dikelola oleh Dinas Syariat Islam, seperti untuk pembayaran listrik dan air. Dana umat berasal dari wakaf, zakat, infak, dan sedekah. Pengeluaran dan pemasukan dana umat hanya harus diketahui oleh pihak UPTD,” terangnya.

Sementara itu, tamu nonmuslim diperkenankan masuk ke pekarangan masjid dengan baju khusus. Diakuinya selama ini belum maksimal pelaksanaannya. “Mereka (wisatawan) harus mengetahui aturan masjid. Kita batasi mereka agar tidak masuk ke dalam masjid, karena itu rumah kesucian kita.” pungkasnya.

Tata Manajemen Masjid

Ketua Fraksi PPP DPR Aceh, H. Ihsanuddin MZ SE MM mengatakan, pada awalnya UPTD pengelolaan masjid raya Baiturrahman cuma mempersiapkan regulasi-regulasi yang berhubungan dengan peran UPTD dengan sistem pelaksanaan BLUD, namun dalam perjalanan BLUD dengan berbagai pertimbangan tidak diberlakukan sampai dengan sekarang.

Namun menurutnya, pelaksanaannya sampai sekarang masih ada dua kepemimpinan di Masjid Raya yaitu pengurus Masjid yang sudah ada sejak dahulu dengan UPTD yang baru disahkan tersebut.

“Sebenarnya untuk Masjid Raya dengan adanya UPTD, pengurus sudah berada di bawah UPTD artinya satu kepemimpinan yaitu UPTD,” jelas Ihsanuddin MZ.

Untuk memberi kenyamanan seluruh masyarakat yang beribadah. “Menara Mesjid Raya sebaiknya di jadikan tempat wisata religi, dengan pemasang lift yang jika ada tarif harus sesuai yang ditetapkan melalui pergub.

Untuk kemakmuran ekonomi masjid, ia berharap toko milik masjid Raya perlu pemamfaatannya yang lebih maksimal, sehingga juga mendapat keuntungan lebih banyak.

Contoh bagi Masjid lain

Selama tiga tahun adanya kepala UPTD tentu membawa perubahan bagi kesejahteraan Masjid Raya, baik internal maupun jamaah pada umummnya. “UPTD pengelola masjid raya sangat penting agar pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman dalam semua aspek dapat dilakukan dengan baik dan optimal,” sebut Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Ida Friatna SAg MAg, Kamis (21/11) di Banda Aceh.

Menurutnya, pasca dibentuknya UPTD pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman seperti pengelolaan imarah (keimaman), idarah (administrasi) dan ri’ayah (pemeliharaan/perawatan lingkungan) serta aktifitas pendukung lainnya sudah terkoordinir dengan rapi dan terprogram.

Keberadaan Unit kerja yang secara teknis mengurus masjid raya tentu berdampak sangat positif bagi pengembangan masjid. Tanggung jawab pengelolaan sudah jelas, program dan anggaran dikelola lebih rapi dan garis komando pembinaan yang jelas.

Dari semua aspek pengelolaan di masjid raya sudah sangat bagus, “Saya pikir jika ada yang harus dibenah, lingkungan sekitar masjid agar dapat menunjukkan syiar islami dengan menghentikan pekerjaan 10 menit menjelang azan berkumandang. Pengelola bersama pemerintah setempat agar berupaya menangai masalah nuansa islami di sekitar masjid,” pintanya.

Untuk pelancong wisata perlu adanya perhatian khusus seperti menyediakan pelayanan prima bagi pengunjung, keamanan dengan penyediaan security atau brigade masjid, kebersihan dan keindahan harus dijaga.

“Kita berharap ke depan UPTD lebih meningkatkan kinerja dan melakukan evaluasi secara sistematis terhadap pengelolaan Masjid Raya Baiturrahman,” tutup Ida Friatna. (Jannah & Furqan)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!