MQK, Eksistensi dan Marwah Dayah Aceh

GEMA JUMAT, 4 OKTOBER 2019

Dinas Pendidikan Dayah Aceh akan menggelar Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) tingkat provinsi. “Kita akan mengadakan Musabaqah Qiraatil kutub tingkah provinsi semeriah pergelaran MTQ yang digilir pelanaksanaan disetiap kabupaten kota,” jelas Kepala Dinas Pendidikan Dayah Provinsi Aceh, Tgk. H. Usamah El-Madny, S.Ag, MM, saat menceritakan ide awal munculnya pelaksanaan MQK kepada Gema Baiturrahman.

Musabaqah Qiraatil Kutub ini penting dilaksanakan untuk memberitahu kepada masyarakat tentang kebiasaan yang terjadi di dalam dunia ke-dayahan, mengkaji kitab kuning. Kebanyakan masyarakat sudah awam dengan apa yang disampaikan dalam kitab kuning.

Kitab Kuning merupakan tradisi dan ruh dayah yang wajib diberdayakan, “Kita berkeinginan agar para generasi ulama Aceh kedepan semakin banyak yang menguasai khazanah keilmuan Islam yang terkandung di dalam kitab kuning,” ucap Usamah.

Semua hukum dalam pelaksanaan syariat Islam ada di dalam kitab kuning, bagaimana tata cara shalat, puasa, membayar zakat dan lainnya. Jadi begitu penting mempelajari kitab kuning untuk menyiapkan diri didalam dunia. Menyiaapkan anak menjadi generasi yang islami dan cita-cita terbesar orang tua anaknya menjadi orang alim.

“Kita berharap masyarakat bisa terinspirasi untuk dapat mempercayai proses pendidikan anaknya itu di dayah, setelah mereka menyaksikan Musabaqah Qiraatul Kutub ini, para orang tua memiliki cita-cita anaknya itu menjadi seorang santri atau menjadi ulama,” tambah Usamah.

Pergelaran Musabaqah Qiraatul Kutub akan berlangsung pada tanggal 29 November sampai dengan 03 Desember 2019 di Asrama Haji Embarkasi Aceh di Banda Aceh dan akan di ikuti oleh 460 peserta yang didampingi oleh 92 orang dari 23 Kabupaten/Kota se Aceh.

“MQK ini diselenggarakan untuk dapat memotivasi dan meningkatkan kemampuan santri dalam melakukan kajian dan pendalaman ilmu-ilmu agama Islam yang bersumber dari kitab kuning sebagai bagian dari proses kader ulama dan tokoh masyarakat dimasa yang akan datang,” jelasnya.

Untuk cabang yang akan diperlombakan mencakup 10 cabang diantaranya, Fiqh, Ushul Fiqh, Hadist, Tafsir, Tauhid, Tarikh, Akhlaq, Nahw, Pidato Bahasa Arab dan Pidato Bahasa Indonesia.

Senada dengan Usamah, Pimpinan Dayah Mishrul Huda Malikussaleh, Tgk Rusli Daud, Lam Jame,menambahkan, dalam kegiatan MQK ini turut melibatkan semua pihak terutama pihak dayah, “Banyak dewan hakim dlm setiap cabang yang diperlombakan itu ada orang dayah, baik dewan guru yang masih aktif di dayah atau para alumni yang sekarang aktif di perguruan tinggi,” jelas Waled kepada Gema Baiturahman, Kamis (03/10).

Waled Rusli sapaan akrab untuk Tgk Rusli Dadu Lam Jamee ini menyatakan, setiap pertandingan tentu adanya hasil baik maupun buruk. Untuk MQK yang akan digelar ini tentu semua pihak menginginkan hasil terbaik terutama untuk pendidikan dayah di Aceh.

“Banyak sekali manfaat MQK ini utk pendidikan dayah di Aceh , khususnya dayah salafi, karena even ini menjadi semacam evaluasi bagi santri yang bergelut dalam pendidikan kitab kuning di Aceh. Bagi santri yang menjadi peserta dapat langsung mengukur kemampuan dirinya dalam setiap tampil. Pasca MQK ini para santri kitab kuning di Aceh akan lebih bersemangat lagi dalam pendidikan di dayah,” tutup Rusli Daud.

Makna Logo dan Maskot

Lebih lanjut Usamah menjelaskan, bahwa pihaknya telah me-launching logo dan maskot MQK beberapa waktu lalu,  di Kyriad Muraya Hotel tepatnya pada tanggal 25 September 2019 lalu.

Menurunya, logo dan maskot yang dilaunching itu memiliki makna yang luar biasa. Misalnya, Bintang delapan dengan istilah Najmat al-Quds atau Rub al-Hizb yang merupakan bentuk geometris islam yang universal. Bentuk logo juga memiliki kemiripan komposisi gaya loral dengan sentuhan estetika yang membentuk seuntai bunga khas Aceh yakni Bungong Meulu dan rempah khas Aceh, yaitu Bungong Lawang Kleing.

Secara semiotika, kata Usamah, logo dapat dianalogikan dari gabungan dua persegi  atau kotak antara Ka’bah dan Baitul Makmur, sehingga membentuk delapan  sudut. Diharapkan memberikan keseimbangan, kekuatan dan keagungan. Perpaduan dua warna Hijau dan Kuning bermakna program unggulan Pemerintah Aceh  yaitu, Aceh Meuadab dan Aceh Carong yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Dayah.

Sedangkan warna logo ini meliputi  warna light coklat, kuning orange, abu-abu dab dark coklat. Warna coklat bermakna warna elemen bumi yaitu tanah yang mencerminkan bagian dari kehidupan, Warna kuning-orange terkait dengan kitab kuning yang menjadi objek utama dari event Musabaqah Qiraatul Kutub, sebagaimana kitab kuning dapat menjadi salah satu pedoman dalam khazanah keilmuan. Serta warna abu-abu yang merupakan warna ketenangan dan kebijaksanaan.

Maskot yang didesign oleh Sayed Muhammad Az-Zahir untuk Musabaqah Qiraatul Kutub ini pun melambangkan seorang santri sedang memegang kitab kuning yang siap berangkat menuju ke Balai Pengajian untuk mensyarah isi dan makna yang terkandung di dalam Kitab.

Selain itu, Usmah juga menjelaskan tentang filosofi yang ingin digambarkan oleh Sayed Muhammad terhadap Maskot ini yaitu, representasi dari karakteristik santri yang berpegang teguh pada prinsip ‘adalah dan muru’ah yang diartikan sebagai moral probity dengan mengenakan pakaian adat  meuseukah, kain sarung, kupiah aceh, alas kaki sandal. Secara semiotik, maskot tersebut menampilkan impresi  optimistis, semangat juang, sederhana dan bersahaja sebagaimana karakter santri yang sesungguhnya. (Jannah)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!