Narkoba Ancam Pelajar Aceh

Narkoba sudah mengguncang bumi Aceh. Peredarannya merasuki berbagai kalangan, mulai dari pelajar, anggota polisi, PNS, guru, dan sebagainya. Parahnya, tren penggunaan narkoba jenis ganja di Aceh mulai beralih kepada pemakaian sabu-sabu.

Mukhlisuddin Ilyas, salah satu peneliti tentang narkoba, menjelaskan, narkoba mudah masuk narkoba ke Aceh karena secara geografis letaknya strategis. Sehingga, peredaran narkoba bisa masuk dari tingkatan regional, bahkan internasional. Baik dari jalur darat, air, ataupun udara.
“Banyak sekali orang luar Aceh menjadikan Aceh sebagai peluang bisnis (ganja, sabu-sabu) yang menjanjikan,”imbuhnya.

Dijelaskan, narkoba memiliki ikatan erat dengan seks bebas. Rata-rata pemakai benda haram itu cenderung melakukan seks bebas atau sebaliknya. Dari hasil penelitian Mukhlisuddin di daerah Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe dan Aceh Utara, perilaku seks bebas di SMP dan SMA berstatus darurat.

“Tidak mengherankan sekarang, anak SMP dengan canggihnya teknologi bisa menonton (film porno), mempraktekannya dan segala macam,”pungkasnya.

Bagi anak usia sekolah, keluarga memiliki peran signifikan untuk mencegah bahaya narkoba. Mayoritas pemakai dan pelaku seks bebas akibat kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang keluarga. Hal ini berakar dari keluarga mereka yang broken home atau orang tuanya sibuk bekerja. Artinya, harmonisasi dalam keluarga menjadi kunci pencegahan bahaya narkoba.

“Banyak orang luar termasuk orang Aceh sendiri yang mengandalkan Aceh sebagai tempat produksi ganja. Ada pemiliki modal yang membiayainya. Begitu juga sabu, orang Aceh-nya sebagai kurir,”ucapnya.
Fungsi orang tua bukan hanya memberikan biaya hidup anak-anaknya. Mereka wajib mencurahkan kasih sayang kepada buah hatinya itu. Kenyataannya, dalam banyak kasus, kasih sayang si anak justru mereka dapatkan dari baby sitter. Tentu saja, kasih sayang dari sang ibu berbeda dengan kasih sayang orang lain

Seharusnya permasalahan narkoba menjadi cambuk bagi pemerintah dan lembaga pendidikan. Mereka selayaknya mendesain kurikulum dan program-program secara sistematis untuk pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. Narkoba dapat merusak tubuh dan otak penggunannya. Akhirnya, generasi Aceh mendatang dihiasi oleh orang-orang yang bodoh.

Keluarga, lingkungan, dan pemerintah bagusnya memberikan hukuman yang tegas bagi para pemakai. Bertujuan, penggunanya tidak kembali jatuh dalam lubang yang sama.

Di lain kesempatan, Kadispendidikan Aceh Anas M. Adam menyampaikan, pihaknya sudah menghimbau kepala sekolah untuk melarang siswanya membawa ponsel ke sekolah. Sayangnya, aturan ini tidak digubris oleh wali murid. Banyak diantaranya yang protes dengan aturan tersebut dengan berbagai macam alasan. Contoh, ponsel akan memudahkan orang tua saat menjemput anaknya.

“Orang tua banyak yang protes. Katanya ini bukan salah teknologi. Tapi salah kita yang menggunakannya,”papar Anas mengutip pernyataan wali murid.

Ia menilai bahwa orang tua belum terlalu mengerti efek negatif membawa ponsel ke sekolah. Apalagi menyangkut pelajar yang kurang memahami pemanfaatan teknologi yang sebenarnya. Berbeda masalahnya jika di luar negeri. Mungkin di sana tidak terlalu mementingkan moralitas siswanya yang rusak karena teknologi.

Mengenai hukuman, kata Anas, pihak sekolah lebih berhak memberikan sanksi bagi para pelajar yang membawa ponsel.

Penguatan Ilmu Agama
Hal senada dipaparkan oleh Wakil Ketua MPU Banda Aceh Teungku Burhanuddin A. Gani. Ia menjelaskan Islam memiliki beberapa ciri khas seperti ajakan untuk memelihara kesehatan, akal sehat, harta, akidah dan sebagainya.

“Islam tidak cinta kepada orang-orang yang merusak akalnya,”pungkasnya.
Narkoba merupakan zat yang mampu menghancurkan sel-sel otak. Katanya, korban narkoba butuh bimbingan agama dan pemahaman yang kuat terhadap bahaya narkoba. Bimbingan agama tersebut dapat berlangsung melalui pengajian baik di dalam maupun di luar sekolah.

Pengawasan orang tua tidak boleh terlepas untuk pencegahan bahaya narkoba. Ia menghimbau kepada orang tua untuk selalu memeriksa atribut sekolah anaknya, seperti sepatu, tas, seragam sekolah dan lain-lain. Tidak menutup kemungkinan mereka menyembunyikan benda haram itu di dalam sepatu atau tas.

Burhanuddin mengharapkan Pemerintah Aceh tidak hanya mempersiapkan undang-undang mengantisipasi peredaran narkoba. Semestinya turut mendukung lembaga-lembaga rehabilitasi. Furqan20150304_142248