GEMA JUMAT, 29 NOVEMBER 2019

Pemerintah Aceh menunda membangun 1.100 rumah duafa bantuan Baitul Mal Aceh tahun 2019. Dengan demikian calon penerima rumah yang sudah diverifikasi sejak 2018, harus bersabar hingga 2020 karena rumah dibangun tahun depan. Berarti bakal tiga tahun penerima rumah dhuafa menunggu masuk ke rumah baru yang dihitung sejak diverifikasi pada 2018. Kita desak Pemerintah Aceh bisa menepati janji pada 2020, 1.100 rumah itu sudah selesai dibangun.

Baitul Mal Aceh berdalil penundaan ini karena tidak lagi cukup waktu bagi rekanan membangun rumah pada akhir 2019. Dalam hal ini, kita sepakat bahwa Pemerintah Aceh bukan membatalkan pembangunan rumah namun menunda ke 2020 dengan menyalahkan kontraktor yang tidak bisa menyelesaikan pada akhir 2019. Sementara para waktu bersamaan, pembangunan ini dilakukan oleh swakelola oleh warga alias tanpa tender. Mana yang benar?

Pembangunan rumah duafa menggunakan dana infaq, bukan zakat dengan harga per unit rumah Rp 80 juta dan dikerjakan tanpa melalui tender. Kita sepakat Pemerintah Aceh bisa menyatakan pembangunan rumah dhuafa adalah sebagai prioritas pada masa mendatang. Ini menyangkut nasib ribuan warga yang hidupnya menjadi tanggung jawab negara. Pemenuhan sandang papan adalah tanggung jawab negara.

Dalam hal ini kita mengapresiasi kepada Baitul Mal yang sudah sangat siap untuk menyelesaikan pembangunan rumah duafa. Semua tahapan dan proses pelaksanaan sudah dilakukan, tinggal penetapan rekanan pelaksana oleh ULP Pemerintah Aceh. umat layak menuntut Pemerintah Aceh untuk komit kepedulian pada kaum dhuafa. Penundaan ini sangat mengecewakan warga yang telah diverifikasi oleh tim. Artinya, penerima rumah dhuafa ini sudah layak menerima rumah bantuan dari umat yang menyetorkan infaqnya ke Baitul Mal.

Kaitan dengan penundaan rumah dhuafa ini, kita bisa menyatakan kinerja Pemerintah Aceh buruk dan melukai perasaan umat. Urusan umat, Pemerintah Aceh tidak gesit, namun urusan pengadaan mobil Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) sangat ligat. Memang Aceh memiliki anggaran besar namun banyak terserap pada porsi belanja aparatur yang mencapai 78,56% dari total APBA 2018. Akibat gagal membangun 1.100 rumah duafa yang tersebar di seluruh Aceh pada 2019 akan menambah SiLPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) berjalan 2019.

Selain peran negara membangun rumah dhuafa, umat bisa juga secara “meuripe” atau bergotong royong membangun rumah dhuafa. Dengan tidak melibatkan negara, maka proses membangun rumah itu cepat seperti yang antara lain dilakukan oleh Gerakan Cet Langet Rumoh yang digerakkan oleh Edi Fadhil yang tersebar di Aceh. dengan modal facebook, anak muda milenial itu berhasil menjaring dana miliaran untuk membangun rumah dhuafa, beasiswa, membangun sekolah dan lain-laini di Aceh dengan anggaran satu rumah sekitar Rp 50 juta. Biaya bisa ditekan karena semua pihak terlibat membantu. Penjual besi memberikan diskon, pekerja rumah juga demikian dan lain-lain.

Warga punya hak menyalahkan pemerintah yang “hana bereh” melayani umat. Pada waktu bersamaan, umat bisa peduli dengan mengeluarkan kocek dari saku masing-masing membangun atau membantu kaum dhuafa. Rajin ibadah namun tidak peduli pada tetangga dhuafa, maka yang rajin ibadah haji atau umrah dan lain-lain bisa tertunda ke surga karena tidak peduli kaum dhuafa. Rasulullah itu bersama kaum dhuafa.

Rasulullah SAW bersabda,”Carilah aku di antara para dhuafa dan orang miskin (diucapkan sampai tiga kali), karena sesungguh engkau akan ditolong dan diberikan kemudahan rezeki dengan sebab doa kaum duafa karena kepedulian dan keberpihakanmu.” [Murizal Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!