Ajaklah dengan Bijak

GEMA JUMAT, 27 SEPTEMBER 2019

Seorang pelukis muda menempatkan lukisannya di  tengah kota. Dia menulis  “Beri tanda silang (X) pada bagian yang kurang bagus.”

Pada sore, dia memandang lukisannya penuh tanda silang. Dia terkejut. Pasalnya setelah bertahun-tahun belajar melukis pada pelukis senior, ternyata  banyak kurang lukisan itu. Lukisannya  penuh coretan. Dia memperlihatkan  lukisan itu kepada gurunya.

Gurunya meminta dia melukis seperti itu lagi. Pelukis muda itu melakukan instruksi gurunya. Seminggu kemudian, gurunya menaruh lukisan itu di tempat yang sama. Disediakan cat, kuas serta secarik kertas dengan pesan.”Perbaikilah bagian-bagian yang kurang bagus”. Pada sore, guru dan murid melihat lukisan. Hasilnya, lukisan itu masih utuh tanpa coretan.

“Orang-orang lebih suka menyalahkan namun tidak mampu membenahi,”  kata gurunya. Demikian kisah ini saya kutip di media sosial.

Kisah di atas bisa jadi hanya imajinasi penulis. Namun dalam realitas sehari-hari kita menemukan hal-hal seperti. Apalagi di zaman media sosial melalui WA, FB, twitter dan sebagainya.  Setelah membaca posting di media sosial misalnya perihal warga yang miskin di sebuah gampong, kita dengan gampang dan enteng menulis, apa kerja pemerintah? Kok tidak peduli pada derita warga? Begitu warga dengan gampang berkomentar sambil meneguk kopi di kedai ber-AC. Dia lupa warga yang miskin itu berada satu daerahnya dengan dirinya.

Dalam sebuah pengajian yang diasuh oleh Buya Hamka hadir perempuan memakai rok mini.  Pada pengajian selanjutnya, wanita itu masih memakai rok mini. Sedangkan ibu pengajian lain tidak sabar meminta Hamka meminta wanita itu tidak mengikuti pengajian jika masih kenakan rok mini. Dalam pertemuan selanjutnya, wanita itu sudah menutup aurat. Hal yang membuat wanita itu membalut tubuhnya dengan kain karena Hamka menerima dirinya mengikuti pengajian apa adanya sehingga timbul kesadaran. 

Hamka membiarkan wanita itu mengikuti pengajian.  Dengan sabar, Hamka melalui ceramahnya menarik wanita itu hingga menutup aurat. Apa jadinya, jika setelah pertemuan pertama, Hamka mengusir. Bisa jadi wanita itu tidak kelihatan lagi. Buah dari kesabaran, dengan kesadarannya, dia menutup aurat.

Dari dua  kisah di atas, untuk berbuat amal, tidak perlu menunggu orang lain bergerak duluan.  Memang mencari kesalahan orang lain lebih mudah daripada memberi solusi atau jalan keluar termasuk menemukan kesalahan/dosa yang bersarang pada tubuh kita masing-masing. Ketika ada anak putus sekolah, secara secara berjamaah, kita bisa meuripe membantu anak yatim piatu itu daripada sekadar menyalahkan pemerintah atau negara dengan menyatakan itu kewajiban negara mengayomi warga. 

Pesan kedua dari Buya Hamka, ajaklah mereka yang tidak dekat dari syiar dakwah ke jalan kebaikan dengan bijak tanpa mengurui mereka. Bahasa sederhananya, rangkul mereka bukan dibenci atau dijauhi. Kita kadangkala sering tidak  nyaman melihat anak punk dengan tatapan liar, benci bahkan mengusirnya. Dengan cara demikian, mereka semakin jauh dari Islam.  Sebuah yayasan di Jakarta justru memberi keterampilan dan agama. Hasilnya mereka berubah dari yang tidak peduli pada agama  menjadi taat.

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS. An-Nahl; 16:125]. [Murizal Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!