Jangan Renggut Waktu Anak Kami Bermain

GEMA JUMAT, 4 OKTOBER 2019

Oleh: Nurjannah Usman

Berbagai pro dan kontra menanggapi masalah yang lagi eksis dibicarakan oleh semua lapisan masyarakat, orang tua, guru dan bahkan siswa juga mempersoalkan masalah ini.

Terlepas dari masalah diatas kita perlu melihat dalam semua sisi kehidupan siswa dan keluarga. Kita tidak perlu menyimpulkan baik tidaknya program tersebut, coba kita melihat pada sianak apakah mereka siap jika diberlakukan Full Day School dengan sekolah lima hari dalam seminggu.

Jika diperhatikan pada wilayah perkotaan dengan mayoritas kondisi sisi keluarga sibuk, ayah dan ibunya sibuk, lalu anak-anak lepas tanpa kendali orang tua yang ujung-ujungnya lari kepada perbuatan terlarang dan hubungan sex bebas. Program ini baik diterapkan bagi anak-anak demikian.

Mungkin berpatokan pada peristiwa diatas sang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menerapkan Full Day School. Program ini cocok pada daerah tertentu dan kondisi orang tua tertentu, tetapi tidak cocok pada daerah lain dan orang tua punya cukup waktu untuk anak-anak mereka.

Jika diperhatikan pada usia SD, tentu program ini memaksa mereka untuk belajar. Karena pada usia ini waktu yang digunakan lebih banyak untuk bermain dan istirahat dibandingkan dengan waktu harus berlajar.

Jika keadaan ini dipaksakan dikhawatirkan akan menimbulkan strees permanen bagi anak-anak utuk menerima program tersebut. Tentu mereka akan kehilangan waktu istirahat dan bermain dengan teman-tema seusianya.

Sangat disayangkan jika mereka harus dipaksakan dengan rutinitas pendidikan yang full sementara IQ mereka tidak sanggup menerimanya.

Kita berpaling pada siswa berusia SLTP dan SLTA tentu usia ini sudah mulai dewasa untuk berpikir dan menyesuaikan diri dengan program pemerintah yang ada. Jika mereka berasal dari keluarga yang mampu mungkin tugas mereka hanya belajar dan yang hilang waktu istirahat mereka saja.

Tetapi bagaimana jika siswa tersebut berasal dari keluarga kurang mampu, yang rutinitas pulang dari sekolah harus membantu orang tuanya mencari nafkah dan sebagainya. Tentu program ini kurang cocok untuk mereka.

Bagaimana dengan kondisi guru, disisi lain mereka juga orang tua yang punya keluarga juga untuk diurus. Bagaimana kondisi orang tua yang punya program bimbingan belajar lain untuk anak-anaknya. Wallahualam, semoga dengan program ini mampu melahirkan hasil yang baik dan tidak merugikan semua pihak.

Penulis Ibu Rumah Tangga yang berdomisili di Neuhuen Aceh Besar

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!