Ekonomi Nyak-nyak

GEMA JUMAT, 15 NOVEMBER 2019

Ketika krisis ekonomi moneter pada 1998, mayoritas perusahaan besar, menengah, dan kecil  ambruk alias rugi. Namun ada juga pengusaha yang bertahan. Mereka adalah para pengusaha  yang bergerak di bidang usaha makro atau menengah ke bawah. Dalam struktur masyarakat di Indonesia, piramida warga miskin atau sedikit di atas kemiskinan/dhuafa masih dominan.

Warga yang berada di dataran  miskin namun gigih menjemput rezeki wajib dihargai. Mereka telah memuliakan diri sendiri dengan tidak menjadi pengemis, penipu, bahkan jadi koruptor.  Untuk itu, mari kita dukung kalangan bawah ini dengan mempromosikan, mendidik,  dan membeli produknya.

Dalam ruang lingkup Aceh, kita saksikan pernyataan Plt  Gubernur Aceh, Nova Iriansyah yang  komit menggenjot roda ekonomi Aceh guna membuka lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan. Salah satu caranya memprioritaskan penggunaan produk lokal. Mari kita sokong. Beli kue basah yang sehat dan bersih di kedai-kedai kupi atau toko adalah wujud nyata. Aksi nyata

“Saya sudah mengeluarkan imbauan ke SKPA dan lembaga-lembaga lain yang melakukan kegiatan di Aceh agar menggunakan produk hasil karya industri kecil menengah  Aceh,” kata Nova, Banda Aceh, Jumat (25/10/2019). 

Kita sepakat ada alasan kuat untuk mengeluarkan imbauan memberdayakan industri kecil menengah (IKM) di Aceh. Salah satu caranya dengan menggunakan produk IKM pada setiap pertemuan dan kegiatan jajaran Pemerintah Aceh. kadangkala kita temukan produk banyak namun tidak ada yang beli dengan berbagai sebab.

Kita pantas terkesima menyaksikan biaya biaya makan minum di lingkungan Pemerintah Aceh sekitar Rp 170 miliar. Jika 90 persen dari dana itu mengalir ke IKM, tentu mereka sangat terbantu

Nova tidak sekadar bicara. Di Pendopo Wagub Aceh ketika terima jajaran Redaksi Serambi menyuguhkan aneka kue produksi lokal seperti timphan baleun (dadar gulung), ubi kukus, dan kueh lapeh (kue lapis).

Semua makanan tersebut terasa lebih lengkap karena dipadu dengan suguhan kopi sanger Arabika Gayo. Apresiasi kepada Nova yang hidangkan air mineral kemasan tidak lagi menggunakan produk luar daerah, tapi air mineral yang diproduksi di Aceh. 

Jika seluruh institusi dan warga memakai produk IKM, kita percaya ekonomi nanggroe bisa didongkrak, lapangan kerja terbuka dan pada waktu bersamaan mengurangi angka kemiskinan. Dalam bahasa ekonomi, jika menggunakan produk lokal, maka bisa mencegah uang ke luar dari Aceh. sekarang kita paham, banyak uang dari Aceh beredar di Medan  dan lain-lain.

Memang diakui tidak semua produk bisa dihasilkan di Aceh. namun selama bisa dihasilkan di nanggroe, maka sepantasnya kita membelanjakan termasuk membeli pada nyak-nyak yang menjajankan dari rumah ke rumah atau di pasar tradisional. Perlu penguatan ekonomi secara mandiri agar bisa melepaskan ketergantungan pada daerah lain. misalnya saja,  untuk telur saja, Aceh habiskan Rp 800 miliar per tahun. Artinya uang tersebut jatuh di luar Aceh. mari kita alokasikan waktu bicara masalah perut, bicara ekonom karena ini menyentuh  semua dasar lapisan masyarakat. [Murizal Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!