Generasi Qurani

GEMA JUMAT, 27 SEPTEMBER 2019

Oleh: Nurjannah, M.Si

Dipenghujung dunia semakin banyak perubahan pada semua sisi kehidupan manusia. Manusia semakin banyak yang pandai, tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara bersyukur. Semakin banyak manusia yang tinggi ilmunya, tetapi rendah akhlaknya. Semakin banyak manusia yang cerdas, tetapi tidak pandai cara bergaul yang benar sesuai ajaran Islam.

Hal positif di akhir zaman, semakin banyak generasi muda yang mampu menghafal Al-Quran, hal yang luar biasa kita dapatkan dalam masyarakat,  anak-anak kita banyak yang hafis sejak usia muda.

Kita semua tahu, menghafal Al-Quran termasuk ibadah jika dilakukan ikhlas karena Allah dan bukan untuk mengharapkan pujian di dunia. Bahkan salah satu ciri orang berilmu menurut Al-Quran, mereka memiliki hafalan Al-Quran.

Allah berfirman, “Bahkan, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata, yang ada di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu..(QS. al-Ankabut: 49).

Allah memberikan banyak keutamaan bagi para penghafal Al-Quran, di dunia dan akhirat, diantaranya:

Pertama, dia didahulukan untuk menjadi imam ketika shalat jamaah. Kedua, ketika meninggal, dia didahulukan, Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bercerita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan dua jenazah Uhud dalam satu kain kafan. Setiap hendak memakamkan, beliau tanya, “Siapa yang paling banyak hafalan qurannya?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memposisikan yang paling banyak hafalannya di posisi paling dekat dengan lahat.


Ketiga, diutamakan untuk menjadi pemimpin. Keempat, kedudukan hafidz al-Quran di surga, sesuai banyaknya ayat yang dia hafal. Kelima, ditemani Malaikat.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Orang yang membaca dan menghafal Al-Quran, dia bersama para malaikat yang mulia. Sementara orang yang membaca al-Quran, dia berusaha menghafalnya, dan itu menjadi beban baginya, maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari 4937)


Keenam, di akhirat, akan diberi mahkota dan pakaian kemuliaan. Ketujuh, Al-Quran memberi syafaat baginya.

Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rajinlah membaca Al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat. (HR. Muslim 1910). Kedelapan, orang tuanya akan diberi mahkota cahaya kelak di akhirat.

Sungguh luar biasa manfaat dan kelebihan yang diberikan Allah pada penghafal Al-Quran, dengan demikian menjadi motivasi bagi kita untuk tergerak hati menjadi hafiz dan hafizah.

Tetapi bukan berarti melupakan amalan dan kewajiban lainnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Manakah yang lebih afdhal, mempelajari Al-Qur’an ataukah menuntut ilmu (syar’i)?”

Jawaban beliau rahimahullah, “Ilmu yang wajib dipelajari setiap muslim adalah ilmu yang berisi perintah Allah dan larangan-Nya”. Mempelajari ilmu semacam ini lebih didahulukan dari menghafalkan Al-Qur’an yang tidak wajib.

Mempelajari ilmu itu wajib, sedangkan menghafalkan Al0-Qur’an dihukumi sunnah. Dan sekali lagi, yang wajib lebih didahulukan dari ilmu yang sunnah.

Tetapi sekarang sangat disayangkan terkadang sebagian hafiz dan hafizah melupakan ajaran Islam yang wajib. Misalnya melupakan belajar ilmu fiqih, bagaimana tata cara beribadah yang benar sesuai ajaran Islam.

Alangkah indahnya bagi yang sudah baligh yang sudah hafis dan hafizah, juga betul-betul mengamalkan ajaran Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya menghafal saja, tetapi juga mengamalkannya.

Mengamalkan dan tetap menjaga akhlak. Terutama harus tetap sopan dan santun kepada orang yang lebih tua, tetap bakti kepada orang tua dalam artian menolong orang tua sesuai kebutuhan. Tidak hanya menghafal Al-Quran saja, tetapi juga menerapkan tuntunan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!