Memotong Nafsu

GEMA JUMAT, 911 AGUSTUS 2019

Oleh Murizal Hamzah

Seorang raja terusik dengan  pertanyaan, apakah yang paling najis dan jijik di dunia ini? Raja mengadakan sayembara untuk meneliti  hal  itu. Yang tahu jawaban akan dilantik sebagai menteri.

Punggawa kerajaan tergiur janji itu dan segera menelusuri jawaban. Mereka ke gampong-gampong bertanya kepada orang-orang pintar. Banyak yang bilang yang paling najis adalah air kencing manusia.

Seorang punggawa  yakin dengan jawaban itu dan bergegas ke istana menghadap raja. Bayangan menteri sudah di benaknya. Tak sabar ingin tiba di istana.

Dalam perjalanan ke istana perhatiannya tertuju pada seorang pemuda yang menggembalakan kambing. Punggawa bertanya kepada pemuda itu. Jika jawabannya sama dengan jawaban yang mayoritas dijawab ini akan lebih memantapkan hatinya.

“Apakah yang paling najis di dunia ini?” tanyanya.

Penggembala bersedia menjawab dengan satu syarat.

Penasaran jawaban yang akan diberikan penggembala, punggawa menyatakan bersedia memenuhi syarat itu. 

“Katakan saja, apa yang kau mau,” tanya punggawa.

“Saya tidak meminta apa-apa. Syaratnya Anda harus melakukan sesuatu untuk anda sendiri,” jawab  pemuda itu tenang. 

Kata-kata si pemuda semakin membuat punggawa penasaran. Sepertinya jawaban yang akan diberikan itu yang bisa memuaskan raja dan kedudukan menteri itu akan jadi miliknya, pikir punggawa.

“Apa yang harus aku lakukan?” desaknya.

“Anda harus minum kencing sendiri,” jawab pemuda. 

“Apa?” Amarah punggawa mendidih.

Pemuda itu  tidak terkejut dengan kemarahan punggawa. 

Dengan berat hati ia terima syarat itu. Dia meminum air kencing sendiri. Setelah selesai. Ia segera menagih jawaban dari pemuda penggembala.

“Apa yang paling najis di dunia ini?” Ia ulangi pertanyaannya.

“Wahai punggawa. Yang paling najis di dunia ini adalah tamak. Tamak, yang membuat anda meminum sesuatu yang tadinya anda yakin itu adalah yang paling najis di antara apa pun di dunia ini,” terang pemuda itu.

Demikian narasi ini dikutip dari artikel Hikmah Persia karya Ammar Abdillah.

Bagaimana kita memotong tamak? Antara lain dengan melakukan qurban pada Hari Raya Haji. Secara fisik umat menyaksikan hewan disembelih hingga darahnya membasahi bumi, namun secure no visit.  Qurban memotong nafsu serakah, tamak, riya dan sebagainya.

Selamat berqurban.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!