Razia Pantai

GEMA JUMAT, 2 AGUSTUS 2019

Ahad lalu, ratusan santri membubarkan pengunjung pantai di Aceh Timur. Mereka menyisir bibir pantai sambil mengumandangkan azan dan membaca al-Quran. Para santri membubarkan pengunjung di sana karena dianggap objek wisata pantai dapat mengarah kepada kemaksiatan, apalagi ketika mandi di pantai  yang otomatis bercampur laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Pimpinan santri menyerukan umat yang berwisata di pantai untuk jauhkan maksiat dan mari mendekatkan diri kepada Allah dengan mengingat-Nya. Demikian dikutip dari media online.

Sambil bertakbir dan bertahlil, santri menguliti beberapa tempat yang menjadi lokasi berkumpulnya muda-mudi. Satu persatu pengunjung pantai yang sedang mandi di laut buru-buru ke darat untuk pulang. Para santri membacakan doa di pinggir pantai dengan harapan dijauhkan malapetaka dari Aceh.  calon ulama ini menilai berwisata di pantai mengundang musibah karena ketiadaan batasan antara laki-laki dan perempuan sama halnya menciptakan maksiat.

Kita sepakat, razia ke pantai ditujukan kepada pasangan yang belum menikah atau remaja yang tidak diikat oleh  nikah. Sebaliknya warga yang ke pantai bersama keluarga, mereka berhak menikmati pemandangan alam dan sebagainya. Cara berdakwah yang tidak sempatik memberikan pemahaman buruk terhadpa Islam.  Kita mendengar  Islam rahmatan lil alamin, Islam yang merangkul bukan Islam yang memukul, Islam mengajak bukan Islam menginjak dan sebagainya. Nah kini bagaimana cara bisa mandi di laut tanpa bercampur pria dan perempuan yang belum menikah? Solusinya, ada pemisahan tempat pengunjung pria dan wanita.

Jika ada yang memaknai pantai adalah tempat maksiat adalah pemikiran yang kurang tepat. Pantai adalah tempat untuk berobat  bagi sebagian warga yang sakit, melatih konsentrasi dan sebagainya.  Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyatakan memandang empat
perkara ini pun kita sudah dapat pahala. Empat  perkara itu tersebut adalah  wajah ibu bapak, al-Quran, lautan dan Kabah.  Versi lain, Aisyah menyatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Melihat pada tiga perkara adalah ibadah. Melihat wajah ibu bapak, melihat al-Quran dan melihat lautan.” (HR. Abu Nuaim) dan ditambah dengan “Melihat Kabah” dalam riwayat Abu Daud)

Ada yang memahami bahwa pantai, bioskop, taman, hotel, dan lain-lain adalah tempat maksiat. Setiap orang memahami apa yang dimengerti berdasarkan yang dialami atau dilihat selama ini.  Jika kita menguak lebih luas, masih ada tempat maksiat dalam arti yakni penerima amanah tidak amanah yakni yang duduk manis di kantor-kantor pemerintahan, kantor swasta, gedung dewan,  dan sebagainya. Di sana, para elite, pengusaha dan sebagainya bersepakat melakukan aksi munkar dengan mengurangi hak-hak  umat. Ada suap bin menyogok yang dihelat di tempat terhormat sambil tebar senyum. Kita lalai bahwa di sana juga ada ruang-ruang maksiat yang merampas hak-hak warga. Karena itu kita perlu merazia ke ruang-ruang mewah yang bersih itu agar mereka tidak mengingkari sumpah yang menempatkan Quran di atas kepala.

Pada akhirnya sebelum merazia pantai yang jaraknya  berkilo-kilo meter dari dayah atau tempat tinggal, mulailah razia dari sekitar tempat tinggal. Memastikan tidak ada kemaksiatan di sekitar rumah. Memastikan tidak ada warga yang kekurangan makanan, minus biaya pendidikan dan sebagainya. Mulai razia dari sekitar gampong menuju yang lebih besar baik yang tersirat dan tersurat. Kemaksiatan dahsyat itu yang bertopeng doktrin-doktrin agama. [murizal hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!