Saldo Amal Nol

GEMA JUMAT, 26 JULI 2019

Sabtu lalu, nasabah Bank Mandiri marah. Pasalnya, saldo di ATM berkurang atau hilang.  Nasabah  protes kenapa hal itu bisa terjadi.   Perihal nasabah Mandiri yang saldonya nol terjadi di seluruh Indonesia karena  ada masalah dengan IT.  Pihak Mandiri menyatakan uang nasabah tidak hilang di ATM.  Hanya error di sistem saja. Dan terbukti, beberapa jam kemudian, angka nominal muncul di layar monitor ATM atau telepon seluler.

Sangat wajar nasabah panik dengan kehilangan uang di bank. Hasil keringat yang ditabung  bertahun-tahun tiba-tiba raib tak berbekas untuk beberapa jam.  Hanya sekejab uang hilang  bikin heboh para nasabah. Bagaimana jika saldo amal kita yang jadi nol? Apakah saldo amal bisa hilang secara tiba-tiba? Hilang amal/pahala adalah bencana besar bagi umat. Ibadah yang dilakukan 24 sepanjang hidup, tiba-tiba berkurang bahkan berpindah ke sahabat  atau  pihak lain yang dikenal atau tidak.

Siapa penyedot pahala  atau amal kita? Ya kita sendiri yang secara tidak sadar telah membuang timbunan amal-amal/pahala. Melalui senjata ghibah, fitnah, menzalim, prasangka buruk, ria, takabur, ujud dan sebagainya, kita telah menguras saldo amal.  Jika kita buka lembaran pada masa kampanye pilpres atau pilkada,  mungkin kita ikut menjadi bagian dari menyebarkan fitnah melalui mulut atau melalui ujung jari di HP. Dengan sekali tekan di HP, kita telah sebarkan fitnah  karena tidak melakukan tabayun atau cek ricek.

Dalam hal ini, kita selalu merujuk pada sabda Rasulullah, “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut?”

Kata sahabat, “Orang yang bangkrut ya Rasulullah adalah orang yang sudah tidak punya harta lagi. Dia berbisnis, kemudian rugi dalam bisnisnya, habis, hancur.”

Kata Rasul, “Bukan, bukan yang itu. Kalau kerugian harta, gampang bisa diurus soal harta. Tapi kerugian yang besar, Al Muflis. Man indahu minal ‘amalisholihati man jibal. Memiliki amal shaleh sebesar gunung,   namun ketika kiamat, Allah tunjukkan amal shalehnya. Dia bangga dan senang saking banyaknya amal. Tapi dia suka mencaci-maki orang, gosip, fitnah, menzalimi orang dan sebagainya. Kemudian Allah menghapuskan semua amalannya dan dia habis itu masuk neraka.

Pada kisah lain, Rasul mengisahkan seorang wanita tetangga masjid zaman Rasulullah SAW,
“Ya Rasulullah, Ini wanita berpuasa, dan shalat malam tidak pernah berhenti. Tapi ya Rasulullah, dia punya satu masalah; tetangganya tidak selamat dari ucapannya. Lidahnya terlalu kejam sama tetangganya.”
Kata Rasulullah, “Dia masuk neraka walaupun puasa atau qiyamul lail sangat  banyak.”

Setiap umat bercita-cita agar setiap detik bisa mengumpulkan amal sebanyak mungkin tanpa perlu kehilangan amal karena dosa yang dikerjakan.  Di era modern ini, sangat mudah melakukan ghibah, fitnah, dan tindakan negatif lain. Dulu ada ucapan “mulutmu harimau”, kini “ujung jarimu adalah harimau.”  

Nyaris setiap minggu kita saksikan anak-anak bangsa sebarkan fitnah, teumeunak (caci-maki) atau berkata kotor di media sosial karena dendam, kebencian, kebodohan atau malas membaca/bertanya. Mereka menjadi sadar setelah yang difitnah itu melaporkan ke polisi dan mendekam di penjara. Aksi fitnah selama beberapa detik di media sosial bisa berujung bertahun-tahun di balik terali. Ini belum lagi dosa kepada yang kita sebarkan. Tentu saja, saldo amal berkurang.

Kita marah ketika saldo ATM berkurang karena kesalahan sistem IT, namun lupa setiap hari berkurang amal karena fitnah atau ghibah yang disebarkan melalui media sosial.  “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam” (HR. Bukhari). [Murizal Hamzah]

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!