9 Agustus 2019

Maqbarah Ma’ala

GEMA JUMAT, 911 AGUSTUS 2019

AOleh: H. Ameer Hamzah

Di hari kiamat nanti Allah akan membangkitkan 70.000 (tujuh puluh ribu) orang dari maqbarah ini (Ma’ala) dengan wajah bentuk seperti bulan, mereka masuk surga tanpa hisab.(HR Ali Bin Abi Thalib).

MAQBARAH MA’ALA adalah perkuburan bersejarah di Mekkah Al-Mukarramah. Ma’ala berada  di dekat kaki  Bukit Al-Hujjun. Jarak  dengan Masjidil  Haram cuma satu kilometer dari  sebelah utara.  Di sana dikebumikan  orang-orang ternama, baik masa Jahiliyah maupun masa Islam. Dari golongan  tokoh Qurays para nenek moyang  Nabi  antara lain:  Qushai, Hasyim, Abdul Muthalib, Abu Lahab,  Abu Thalib,  dan banyak lainnya.

Setelah zaman Islam, Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid dan putranya  Qasim juga di sana. Abdullah bin Zubair dan Ibunya Asma Binti Abubakar juga bermaqam  Ma’ala. Khadijah wafat  dua  tahun sebelum hijrah. Putranya Qasim dan Abdullah wafat waktu berumur 18 bulan.

Wafat di Mekkah  dan  dimakamkan di Ma’ala adalah sebuah kemulian, karena lokasi itu telah dimuliakan oleh Rasulullah SAW. Kemuliaan itu khusus bagi orang-orang beriman dan tidak termasuk orang-orang musyrik.  Orang-orang kafir tetap dalam  azab kubur sampai hari kiamat.

Orang-orang mukmin yang dimakamkan di sana, lebih cepat berjalan di Padang Mahsyar nanti. Wallahu a’lam.  Dua syuhada perang dalam Islam Sayyidah Samiyah, dan suaminya Yasir dimakamkan di Ma’ala. Mereka berdua adalah orang tua Ammar Bin Yassir, sahabat Rasulullah.

Selain para sahabat Nabi, di maqbarah ini juga dikebumikan ulama-ulama besar seluruh dunia, termasuk ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah atau yang wafat musim haji. Ulama Indonesia yang dimakamkan di sini antara lain; Syeikh Zaini Dahlan,  Syeikh Nawawi Albantani, Syekh Abdullah Al-Asyi, Syeikh Ismail Al-Asyi, dan yang  baru adalah Kiyai Haji Maimoen Zoebair dari Jawa Timur. 

Dalam kitab “Akhbar Mekkah”, Muhammad  Taufiq  Ali Yahya menyebutkan; Dulu Maqbarah Ma’ala, setiap kubur ulama ada kubah di atasnya. Seperti kuburan Khadijah, Abdullah Bin Zubair, namun era Arab Saudi, semua kubah itu dihancurkan. Mazhab di Saudi menganggap menambah bangunan di atas kubur adalah bid’ah.