14 Februari 2020

Murtad

GEMA JUMAT, 14 FEBRUARI 2020

Dalam minggu ini, di media online  dan media sosial marak dengan pemberitaan seorang anak Aceh yang murtad.  Tak pelak pengakuan ini menyebabkan warga dunia maya melayangkan teumeunak atau caci maki.  Mereka meluapkan kemarahan kepada remaja itu. Hanya puas pada level marah-marah kepada remaja itu dengan segala amarah.

Ketika seorang hamba Allah jatuh ke lembah murtad,  dia tidak mendapat uluran tangan. Justru mendapat  pukulan bertubi-tubi dari netizen dengan kalimat yang menyayat hati.   Pendidikan, wawasan dan teman  bicara setiap hari ikut berpengaruh dalam bertindak. Apa  yang tertulis dan diucapkan adalah pernyataan isi kepala yang tidak bisa dibaca oleh manusia lain.

Dengan takdir Allah, status tauhid anak itu diselamatkan oleh seorang warga Aceh Haji Uma (Sudirman) yang membimbing kembali dia mengucap kembali kalimat syahadat di Jakarta, diantar kembali ke gampong halamannya dan diserahkan ke dayah untuk belajar. Artinya, anak yang telah sesat jalan setelah satu tahun lebih merantau di Jakarta ditarik lagi ke jalan yang benar. Alasan dia pindah agama karena faktor ekonomi dan pada waktu bersamaan ada pihak  yang peduli.

Kisah warga Aceh pindah agama bukanlah hal baru. Seorang warga Aceh  menulis buku perjalanan dirinya menjadi pendeta yang bertugas di Medan Sumatera Utara.  Buku yang terbit di era 1980-an itu hanya beredar untuk di internal saja. Secara ringkas, dia menjadi murtad bukan karena alasan ekonomi, namun alasan lain setelah melakukan kajian terhadap Islam.  Kabar yang lebih miris, pendeta itu berhasil membangun gereja berbasis komunitas Aceh yang khutbah disampaikan dalam bahasa Aceh. buku tersebut memuat foto-foto warga Aceh mengikuti ritual di gereja.

Cara lain warga Aceh menjadi murtad yakni menikah dengan suami dari luar Aceh. Ketika tugas di Aceh, pria itu masuk Islam. Nah ketika kembali ke gampong halaman atau tempat bertugas, sang suami kembali ke agama asalnya dan istrinya pun mengikuti agama suami alias menjadi murtad. Jika ada umat Islam yang jadi murtad karena faktor ekonomi, keluarga dan lain-lain, maka dibutuhkan ukhuwwah untuk saling membantu.

Ketika mendapat kabar umat Islam murtad karena faktor ekonomi, kita semua teringat pada hadits lemah yakni“Hampir saja kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran.”

Lebih tepat jika makna kefakiran ini berkaitan dengan miskin hati bukan miskin harta benda.  Miskin hati berdampak pada sikap mengeluh, semua kekurangan dan akhirnya jadi iri dengki. Rasulullah bersabda “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati).”

Kembali pada kisah umat Islam yang murtad khususnya di Aceh itu adalah hak individu yang bersangkutan. Tidak ada yang bisa memaksa kembali untuk menjadi mualaf. Beragama dimulai dari keyakinan yang bersumber dari sanubari. Satu hal, umat Islam harus peduli kepada sesama umat  yang perlu dibantu. Kita akan malu jika sesama yang berpegang pada tali Tauhid namun tidak peduli. Sebaliknya ketika orang kaphe membantu ureung Islam, umat marah-marah dengan  tuduhan ini hanya modus untuk menjadi murtad.

Tidak salah pernyataan sosok ulama KH Salahuddin Wahid   yang menyoroti masih kecilnya dana yang dapat dihimpun dari umat Islam. Penyebabnya umat masih lebih asyik berumrah namun kurang gemar bershadaqah. Dengan membantu umat yang kesulitan ekonomi adalah salah satu cara mencegah saudara seaqida itu  keluar dari shaf jamaah umat.  Dan mereka ada di sekitar kita. [Murizal Hamzah]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *