17 Januari 2020

HUBUNGAN ANTARA KEINGINAN BERJIHAD DAN KEIMANAN

GEMA JUMAT, 17 JANUARI 2020

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail,MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

“Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, nis- caya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. (QS. Muhammad 21)
Pada ayat sebelumnya dijelaskan tentang kondisi orang-orang munafi k yang menjadi duri dalam daging di sepanjang sejarah perjalanan umat Islam. Salah satu contoh diantaranya adalah ketika mereka diwajibkan berperang, maka mereka akan berpaling, merasa kecut dan takut mati. Bahkan sekalipun jika mereka telah sampai ke medan perang, niscaya mereka akan melarikan diri, karena kecintaan mereka terhadap dunia melebihi cinta mereka untuk syahid di jalan Allah SWT

HUBUNGAN ANTARA KEINGINAN BERJIHAD DAN KEIMANAN

Al-Qur’an Surat Muhammad ayat 21

 “Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.

Pada ayat sebelumnya dijelaskan tentang kondisi orang-orang munafik yang menjadi duri dalam daging di sepanjang sejarah perjalanan umat Islam. Salah satu contoh diantaranya adalah ketika mereka diwajibkan berperang, maka mereka akan berpaling, merasa kecut dan takut mati. Bahkan sekalipun jika mereka telah sampai ke medan perang, niscaya mereka akan melarikan diri, karena kecintaan mereka terhadap dunia melebihi cinta mereka untuk syahid di jalan Allah SWT.

Dalam sambungan ayat ini dijelaskan bahwa, seandainya orang-orang munafik tersebut mentaati perintah dan tidak mengolok-olok perintah berjihad itu lebih baik untuk mereka. Namun di sini juga Allah SWT menekankan bahwa barometer dari siap tidak siapnya berperang adalah kadar keimanan yang ada dalam diri setiap muslim. Jika mereka memang benar-benar orang yang beriman, niscaya mereka akan mentaati perintah untuk berperang, tetapi karena kadar keimanan mereka yang tidak cukup, sehingga perintah berperang menjadi ketakutan tersendiri bagi mereka.

Pada zaman perjuangan Rasulullah SAW untuk menaikkan panji-panji tauhid, sungguh sangat berat. Yang diminta pengorbanan dari kaum muslimin bukan saja bersyahadat, namun juga berkomitmen untuk menjadi penegak kalimat tauhid, meskipun nyawa menjadi taruhannya. Tetapi pada masa tersebut, perjuangan adalah benar-benar untuk menegakkan kalimatul haq, Allah SWT dengan pengawasan-Nya serta Rasulullah SAW dengan kepemimpinannya adalah contoh perjuangan yang murni dalam beragama. Orang-orang yang ditakdirkan hidup untuk berjuang di zaman beliau adalah orang-orang yang beruntung, karena mereka dapat berjuang bersama-sama Rasulullah SAW untuk meneggakan panji-panji Islam.

Adapun jihad dalam konteks kekinian, mungkin bukanlah perjuangan fisik secara penuh, tetapi perjuangan untuk membentuk bagaimana kehidupan bermasyarakat bisa lebih baik, meratanya keadilan, dapat menghidupkan cara beragama yang benar,  merawat Islam dan mendakwahkannya ke seluruh dunia dengan damai.

Tatanan kehidupan dunia telah berubah, menunjukkan identitas Islam dengan penuh kasih sayang, agama yang egaliter, terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan masyarakat yang adil dan makmur, keagungan akhlak dan moralitas. Itulah konsep beragama yang dituntut dalam dakwah di era milenial sekarang ini.