9 Agustus 2019

PRILAKU ORANG-ORANG KAFIR

GEMA JUMAT, 911 AGUSTUS 2019

Surat al-An’am ayat 138

Dan mereka mengatakan: “Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki” menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.

Al-Quran menjelaskan perihal kelakuan para orang kafir dalam menjaga eksistensi ‘syariat’ versi mereka dengan peraturan yang mereka buat-buat. Antara lain mereka merumuskan pembagian harta dan binatang ternak sesuai dengan keinginan mereka yang tidak berlandaskan pada wahyu, tetapi berdasarkan hawa nafsu dan bisikan dan godaan syaithan.

Semua perkara tersebut mereka buat-buat tersebut, sangat -jelas mengadakan kedustaan terhadap Allah swt. Allah swt sangat murka dengan kedustaan seperti itu, tetapi begitulah sifat kaum musyrikin dalam mengamalkan kehidupan sehari-hari. Dengan membabi-buta sesuatu yang tidak pernah Allah perintahkan untuk ditaati, mereka menyatakan bahwa memang seperti itu perintah Allah swt. Begitulah sekelumit keadaan orang-orang kafir yang menganggap mudah urusan atau perkara yang bersifat perintah dan larangan dengan sesukanya dan dengan mengatasnamakan Allah swt.

Begitu juga kita, sebagai kaum muslimin yang ingin berbakti kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya. Seharusnya kita mengetahui segala yang kita lakukan tersebut apakah memang memiliki landasan hukum sesuai dengan al-Qur’an dan hadits Nabi, kita tidak mengada-adakan sesuatu perbuatan, yang kita anggap amalan yang mengantarkan kita pada keridhaan Allah swt, ternyata semua itu tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Baik perbuatan tersebut termaktub dalam ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits. Oleh karena itu, banyak kaum muslimin yang terpelajar, tidak ingin menjalankan suatu perbuatan yang tidak berdasarkan nash qath’iyy baik dalam al-Quran dan hadits apabila perbuatan tersebut dikaitkan dengan peribadatan dan sebagainya.

Dengan demikian, hendaknya kita berhati-hati terhadap suatu amalan atau perbuatan jika hal tersebut tidak diperintahkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya, hendaknya kita mengakui bahwa itu memang tidak diperintahkan dan tidak dianjurkan dalam agama, agar kita tidak terjerumus ke dalam orang-orang yang mengada-adakan suatu perbuatan yang tidak diperintahkan Allah swt. Karena hal tersebut hanya akan membawa pada kemurkaan Allah swt. Na’udzu billahi min dzalik.